Connect with us

Lifestyle & Sport

Jangan ‘Balas Dendam’ Tidur Lama di Akhir Pekan, Ini Cara Efektif Bayar Hutang Tidur

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur malam selama 7 hingga 9 jam. Namun, di saat hari kerja, ada saja yang tak bisa memenuhi kebutuhan itu karena begadang, untuk tujuan tertentu. Hal ini membikin jam tidur mereka terpangkas, sehingga mereka harus membayar hutang tidur tersebut.

Nah, biasanya saat akhir pekan tiba, rencana balas dendam dengan tidur lama tebersit di benakmu. Kamu berniat membayar hutang tidur di hari-hari sebelumnya, dengan harapan energimu kembali prima.

Namun, rupanya melakukan hal tersebut memiliki dampak yang buruknya dengan kekurangan jam tidur. Lantas, bagaimana cara yang benar dan efektif membayar utang tidur? Simak penjelasan berikut.

1. Tambah jam tidur
Cobalah untuk menambah jam tidurmu dengan tidur lebih awal atau bangun lebih lama dari waktu biasa. Namun, pastikan penambahan jam tidur ini tak berlebihan, karena mungkin saja membuatmu insomnia. Jadi, Kamu bisa mengawalinya dengan sedikit tambahan waktu, seperti tidur 15 menit lebih awal.

Sebelum itu, hitunglah berapa jam hutang tidurmu. Kemudian atur hutang tidur untuk dibayar di beberapa hari ke depan. Lakukan cara ini hingga utang tidurmu dibayar tuntas.

Berbeda lagi solusinya jika hutang tidurmu sudah menumpuk hingga bertahun-tahun lamanya. Kamu disarankan untuk tak melakukan aktivitas yang terlalu berat. Di malam hari, cobalah tidur seperti biasa. Namun, jangan nyalakan alarm dan biarkan tubuh bangun sendiri. Mungkin Kamu akan tidur selama 12 jam semalam. Tapi, lama-kelamaan, jam tidurmu akan kembali normal seiring telah dibayarnya hutang tidur.

2. Tidur siang
Hutang tidur pun bisa dibayar dengan istirahat di siang atau sore hari, menurut penelitian di Journal Sleep Research. Kamu bisa tidur di waktu ini sekitar 15 hingga 30 menit. Lebih dari durasi yang disarankan ini, Kamu kemungkinan akan kesulitan tidur pada malam hari. Jika demikian, hutang tidurmu justru bertambah.

3. Tidur di akhir pekan
Kelamaan tidur di akhir pekan tak baik bagi kesehatanmu. Meski demikian, Kamu boleh menambah jam tidurmu. Namun, pastikan tambahan waktunya tak berlebihan. Hanya satu hingga dua jam saja dalam sehari, misalnya.

Jika tambahannya berlebihan, Kamu justru bisa kesulitan tidur di malam harinya karena sudah terlalu lama tidur pada pagi atau siang harinya. Nah, utang tidurmu justru muncul lagi. Karena, utang tidurmu di hari-hari sebelumnya sudah terbayar, namun muncul hutang baru. Yah, jadi “gali lubang tutup lubang”.

4. Atur jadwal dan berkomitmen
Setelah tahu berapa banyak hutang tidurmu, saatnya Kamu mengatur ulang jadwal kegiatanmu, termasuk tidur. Pikirkan dan susunlah dengan matang.

Bisa jadi Kamu harus mengubah gaya hidup dan keseharianmu secara besar-besaran. Ingan, jangan sekalipun mengorbankan jam tidurmu untuk kegiatan lain. Terlebih jika kegiatan tersebut tak terlalu penting. Pasalnya, lama waktu tidurmu tentu akan memengaruhi kesehatanmu.

Kamu sangat disarankan untuk memerhatikan waktu tidur. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini yang belum kunjung usai juga. Tidurlah dengan cukup dan berkualitas agar imun tubuhmu terjaga. Sebab kurang tidur bisa memperlemah imunmu, lo. Jika demikian, Kamu jadi rentan terhadap penyakit, termasuk Covid-19.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Stres Picu Emotional Eating, Atasi dengan Hal Ini

Published

on

By

Stres Picu Emotional Eating, Atasi dengan Hal Ini

Channel9.id-Jakarta. Sebagian orang punya nafsu makan yang lebih tinggi saat sedang stres. Hal ini dikenal dengan emotional eating.

Dalam jangka panjang, emotional eating bisa berdampak pada keseharianmu, utamanya kesehatan. Berat badanmu pun cenderung menaik seiring berjalannya waktu. Terlebih, saat stres, seseorang cenderung memilih makanan secara sembarangan seperti makanan cepat saji.

Meski begitu, ada sejumlah tips yang bisa Kamu lakukan untuk mengatasi emotional eating. Berikut ini tipsnya.

1. Kenali pemicu makan berlebihan
Mula-mula, Kamu harus mengidentifikasi pemicu mengapa nafsu makanmu meluap meski perut tak lapar. Kamu bisa membuat catatan untuk membantu mengidentifikasi hal ini. Atau, Kamu juga bisa berkonsultasi dengan psikolog dan mencari cara untk mengatasi kebiasaan makan berlebihan.

Umumnya, selain karena lapar, nafsu makan berlebihan disebabkan oleh bosan, stres, dan depresi. Jika bosan, sebaiknya cari hal menarik untuk mengisi waktu kosong, seperti menonton film, bukannya makan. Lalu jika stres, Kamu bisa melakukan yoga, bermeditasi, atau jalan-jalan untuk mengatasi emosi. Sementara saat depresi, cobalah untuk mencari teman untuk bicara, berjalan keliling kompleks—tak lupa protokol kesehatan Covid-19, atau jika tak kuasa menahan depresi, konsultasikan dengan psikolog.

2. Ngemil buah-buahan dan kacang-kacangan
Bukan cuma makanan cepat saji, saat stres, Kamu biasanya ingin makan makanan yang manis. Sebagai gantinya, cobalah mengonsumsi buah-buahan yang mengandung gula alami. Dengan demikian, risiko berat badan naik bisa diminimalisasi.

Makanan sehat lainnya yang bisa menjadi pilihan yaitu kacang-kacangan, seperti kacang mete hingga kacang almond. Selain rendah kalori, mereka kaya akan lemak baik dan serat, serta membantu mengatur gula darah.

3. Minum teh hitam
Kadar hormon kortisol akan meningkat saat Kamu sedang stres. Kondisi ini pula yang menyebabkan nafsu makanmu meningkat. Tanpa kontrol yang tepat, berat badanmu bisa naik. Nah, salah satu upaya untuk mencegah hal ini terjadi ialah dengan mengonsumsi segelas teh hitam. Teh ini bisa mengurangi kadar kortisol di tubuh.

Selain itu, selingi dengan melakukan teknik pernapasan ringan. Cobalah untuk menjaga jarak dari gawaimu dan manfaat waktu luang yang Kamu punya untuk sejenak beranjak dari rutinitas harian. Hal ini bisa membantumu mengendalikan hormon kortisol yang meningkat karena stres.

4. Olahraga
Rutin berolahraga juga ampuh mengendalikan produksi hormon kortisol. Pasalnya, olahraga justru akan memicu produksi hormon yang membikin Kamu merasa bahagia seperti endorfin. Selain itu, aktivitas ini jga turut membantu mengurangi risiko depresi, kecemasan, dan insomnia, di samping mengurangi kecenderungan untuk emotional eating.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Tips Merawat Hubungan dengan Pasangan Meski Tak Bertemu

Published

on

By

Tips Merawat Hubungan dengan Pasangan Meski Tak Bertemu Karena Pandemi

Channel9.id-Jakarta. Sudah setahun terlewati, pandemi Covid-19 belum berakhir juga. Sebagaimana telah diketahui, situasi ini berdampak terhadap segala sektor kehidupan masyarakat di dunia, dari ekonomi, sosial, hingga politik.

Bahkan, hubungan percintaan dan asmara seseorang pun bisa terkena dampaknya. Khususnya, bagi mereka yang belum menikah dan tak tinggal satu atap. Kamu mungkin mengalaminya.

Kondisi pandemi ini membikin hubungan percintaan dua insan tak ubahnya seperti menjalani hubungan jarak jauh alias LDR. Menurut penelitian dari University of San Fransisco, konflik sering terjadi pada mereka yang menjalani LDR lantaran kedekatan fisik yang kurang, sehingga merasa hubungan tak aman.

Sebelum pandemi, Kamu mungkin rutin bertemu pasanganmu setiap minggu. Namun, karena physical distancing saat pandemi, agenda pacaranmu jadi terganggu sehingga jarang bertemu. Namun, komunikasi tak langsung melalui layanan perpesanan atau telpon terkadang memicu perselisihan, yang bahkan bisa membikin hubungan kandas. Sayangnya, untuk sekadar bertemu langsung dan menyelesaikan masalah, sangat berisiko untuk Kamu dan pasangan—menimbang penularan Covid-19 yang begitu cepat.

Nah, untuk mempertahankan hubungan di situasi seperti ini, salah satu kuncinya yaitu meminimalisasi konflik dengan pasangan. Untuk itu, cobalah untuk melakukan tips berikut.

1. Sepakat berkomunikasi di waktu tertentu
Menentukan jadwal kapan Kamu dan pasangan harus berkomunikasi menjadi salah satu tips agar hubungan tetap awet dan jauh dari konflik.

Cobalah mencari waktu di mana kalian sama-sama sedang lowong. Misalnya, setelah kalian berdua menuntaskan pekerjaan. Manfaatkan waktu ini untuk sekadar menelepon.

2. Fokus pada kualitas komunikasi
Satu hal penting, cobalah untuk fokus dan prioritaskan kualitas. Mestinya, kualitas komunikasi pasangan di masa pembatasan sosial ini lebih baik, dibandingkan sebelumnya.

Pasalnya, berkomunikasi di situasi seperti ini ialah hal yang berharga. Jadi, mesti benar-benar dimanfaatkan. Topik yang dibicarakan pun semakin luas karena Kamu dan pasangan sulit bertemu.

3. Percaya kepada pasangan
Adapun kunci hubungan agar tak melulu berselisih dan tetap awet ialah percaya pada pasangan.

Tentu Kamu tak bisa melihat langsung apa yang dilakukan oleh pasangan karena tak bisa bertemu langsung. Kamu merasa tak aman atau insecure. Misalnya, Kamu berpikir pasanganmu berkomunikasi dengan orang lain saat dirinya tak kunjung meresponsmu saat dihubungi.

Namun, membangun kepercayaan satu sama lain adalah hal krusial dalam hubungan. Hal ini menjadi faktor penting untuk membuat hubungan terus awet.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Stres Bikin Seseorang Lebih Memilih Saat Baca Berita

Published

on

By

Stres Bikin Seseorang Lebih Pemilih Saat Baca Berita

Channel9.id-Jakarta. Stres datang tak memandang usia. Tua hingga muda pasti pernah mengalaminya. Di masa pandemi Covid-19 ini, misalnya, kiranya stres dirasakan mereka semua. Misalnya, anak kecil tak bisa main sebebas seperti sebelum pandemi dan orang dewasa terpaksa kehilangan pekerjaan lantaran perusahaan sangat minim pendapatan.

Belum lagi, berita tentang kematian akibat pandemi dan segala hal terkait cenderung meningkatkan rasa cemas dan khawatir. Hal ini bisa memperparah stres.

Berbicara soal stres, kondisi ini ternyata bisa mengubah cara orang menanggapi kabar buruk. Menurut penelitian yang diterbitkan Scientific Report, ada hubungan antara hormon stres dengan cara orang menerima informasi yang berisiko. Didapati bahwa saat menghadapi berita buruk, seseorang yang tertekan dan stres lebih selektif dan teliti, terutama saat ingin membagikan berita tersebut.

Selain itu, bagaimana stres bisa memengaruhi seseorang dalam menghadapi kabar buruk berkaitan pula dengan hormon endokrin. Umumnya, hormon ini bisa membikin seseorang meremehkan risiko dari sebuah informasi. Di sisi lain, bisa juga stres membikin seseorang menilai segala sesuatu sebagai hal yang berisiko tinggi. Keduanya tentu punya efek yang berbahaya.

Meremehkan informasi yang berisiko tentu bisa membuat seseorang menjadi tak acuh. Sementara, melebih-lebihkan informasi busa meningkatkan rasa cemas dan memicu perilaku berbahaya.

Suka atau tidak, berita buruk pasti tersebar. Terlebih Kamu memang harus memenuhi kebutuhan informasi guna mendapat informasi terkini, utamanya soal pandemi Covid-19 ini. Untuk mengurangi rasa cemas hingga stre, ada sejumlah hal yang bisa Kamu lakukan dan terpatri di pikiranmu.

1. Sadari ada hal di luar kendalimu
Salah satu cara untuk menangani kabar buruk saat dilanda stres adalah menerima kenyataan yang ada. Salah satunya dengan menyadari bahwa ada hal yang ada di luar kendalimu. Sadar atau tidak, seseorang akan merasa tertekan dan stres karena tak bisa mengendalikan hal yang terjadi.

2. Mencari kegiatan positif
Setelah pikiran tadi terpatri di pikiranmu, Kamu bisa mencari kegiatan positif sebagai cara untuk menangani kabar buruk. Kamu bisa melakukan hobimu, menjadi sukarelawan hingga memberi perhatian penuh kepada keluarga dan teman yang membutuhkan. Demikianlah cara paling mudah agar Kamu tetap bisa berkontribusi dan menangani informasi buruk, dengan fokus di lingkup terkecil.

3. Jaga kesehatan fisik dan mental
Selain itu, sangat penting bagimu untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Makan teratur, rutin berolahraga, dan tidur yang cukup termasuk cara agar Kamu tak rentan dilanda stres. Sebaliknya, jika kondisimu tak sehat, stresmu cenderung lebih parah sehingga berdampak pada fisik dan mentalmu.

Memang stres bisa membuatmu lebih teliti dalam menghadapi kabar buruk, namun Kamu harus mengelola stres agar kualitas hidup lebih baik dan bisa menangani masalah dengan lebih sehat.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC