Connect with us

Opini

Ketakutan China, Ketakutan Atas China

Published

on

Oleh: Indra Jaya Piliang*

Channel9.id-Jakarta. Ketakutan sebagian pihak terhadap Tiongkok atau China mulai menampakan sisi irrasional. Sebagai negara adidaya, China semakin bersikap ofensif. Doktrin Deng Xiaping berbunyi: “Saya tidak peduli kucing itu berwarna hitam atau putih. Yang saya peduli, kucing itu bisa menangkap tikus.” Kucing yang dimaksud adalah sistem kapitalisme yang dijalankan, walau dibalut dengan konfusiosisme, marxisme, dan maoisme.

Yang banyak disebut, bahkan oleh sosok ilmuwan seperti Faisal H Basri, Rizal Ramli dan Chusnul Mar’iyah adalah China sebagai komunis. Atau, komunisme dalam praksis maoisme. Padahal, kekuatan komunisme Tiongkok sungguh tak beralasan. Baik nalar akal (aqli), maupun nalar tekstual (naqli), tak bertemu. Ibarat hadist, kalaupun dilafazkan, perawi yang dirunut terputus. Bagai rantai yang hilang dalam teori evolusi Charles Darwin. Dhaif. Palsu.

Tentu, penulis bersedia berdebat dalam panggung apapun. Jangankan mendalami secara runut, bahkan sejak awal saja sudah tidak bisa membedakan antara Mongol dengan China. Begitu pula, apa perbedaan antara komunisme Rusia dengan komunisme China dan Indonesia, walau sama-sama merujuk kepada Das Manifest der Kommunistischen Partei yang ditulis Karl Marx dan Friedrich Engels per 21 Februari 1848.

Dari lebih 7 milyar ummat manusia, Tiongkok atau China memiliki jumlah penduduk sebanyak 1.412.650.000 jiwa. Urutan kedua, India berpenghuni 1.384.410.00 jiwa. Juara ketiga diraih Amerika Serikat dengan 336.771.00 jiwa. Jumlah itu tercatat pada tanggal yang sama, 16 Oktober 2021.

Dua negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam menempati urutan keempat dan kelima, yakni Indonesia per 21 Januari 2021 berpenduduk 271.349.889 jiwa, dan Pakistan per 16 Oktober 2021 berpenduduk 225.326.000.

Jika seluruh manusia China itu komunis, sudah pasti mengalahkan seluruh ideologi politik lain. Hanya saja, China bukanlah pemerintahan satu partai. Terdapat sembilan partai politik di China. Sekalipun memiliki 40 universitas atau semacam itu, yakni masing-masing 1 di 34 provinsi dan 6 di tingkat nasional, partai-partai politik lain mampu berkiprah di sejumlah area. Hongkong, misalnya.

Belum lagi dalam perhitungan matematika biasa, partai komunis tersebar di banyak negara. Di India, dalam pemilu nasional tahun 2004, pemilih Partai Komunis India sebanyak 22.061.677 suara (5,7 %). Tahun itu, Partai Golkar meraih 24.480.757 suara dan menjadi pemenang.

Tiga negara bagian yang dikuasai Partai Komunis India adalah Kerala, Bengal Barat dan Tripura. Sejumlah ekonom yang mengaku pemuja Amartya Sen dan Vandana Shiva, lalu mengutuk investasi China di Indonesia, bisa jadi lupa betapa Kerala adalah mata-air model pertumbuhan ekonomi yang membawa Sen kepada hadiah Nobel Ekonomi. Bharatiya Janata, partai Hindu garis keras, bahkan tak bisa menembus benteng Partai Komunis India di Kerala dan Bengal Barat. Begitu pula ketika Partai Kongres berkuasa di New Delhi.

Masih kurang?

Mari tambahkan pemilih Partai Komunis Bersatu Rusia yang bolak-balik mencalonkan Vladimir Putin, baik dalam posisi sebagai Perdana Menteri atau Presiden, sejak tanggal 26 Maret 2000. Tingkat dukungan terakhir bahkan mencapai 80% pemilih.

Cukup?

Silakan hitung sendiri dengan eksistensi Partai Komunis di sejumlah negara pecahan Uni Sovyet, terutama Asia Tengah yang berpenduduk mayoritas Islam. Ditambah dengan Korea Utara, Ukraina, Vietnam, Kamboja, pun Cuba, Amerika Latin, dan negara-negara di Afrika. Jangan lupa juga di negara-negara Arab, seperti Iran, atau Israel.

Benarkah mereka yang begitu aktif menyebut China Komunis itu betul-betul anti komunisme, atau anti China?

Ketika anti komunisme, butakah mata mereka dengan persebaran partai komunis, bahkan di Amerika Serikat sendiri. Robert Fogel, peraih Nobel Ekonomi 1993, seorang guru besar bidang sejarah ekonomi, sejak berusia muda adalah aktivis Partai Komunis Amerika Serikat di Cornell University.

Ketika Sukarno menulis dalam Suluh Indonesia Muda tahun 1926 dengan judul “Marxisme, Islamisme, dan Nasionalisme”, Tan Malaka sudah menjadi agen Komunis Internasional. Tan bahkan ikut memilih Stalin sebagai Sekretaris Jenderal Komunisme Internasional setahun sebelumnya.

Sukarno mulai menulis, namun Tan sedang menghadang doktrin Stalinisme dengan berbagai cara. Tan menolak rencana pemberontakan kaum komunis. Sayang, upaya “Pacar Merah” ini gagal di Silungkang dan Banten. Pemberontakan kaum komunis yang sebagian besar dipimpin oleh penganut paham Pan Islamisme bergelar haji itu meletus.

Tan sedari awal menolak Pan Islamisme disamakan Stalin sebagai kekuatan imperialisme dan kapitalisme global. Fakta yang ada, negara-negara yang berada dalam paham Pan Islamisme itu adalah negara-negara jajahan. Bagi Tan, Pan Islamisme bahkan mengandung kekuatan sebagai penghadang laju imperealisme dan kapitalisme. Pan Islamisme bahkan bisa bekerjasama dengan Komunisme Internasional, bukan sebagaimana dituduhkan sebagai kolaborator kekuatan kapitalisme dan imperealisme global.

Stalin tentu saja menyamakan Pan Islamisme dengan imperealisme global, akibat pendudukan pasukan Turki Utsmani atas Semenanjung Krimea. Setelah menaklukan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih (Mehmed Sang Penakluk) mengirimkan mengirimkan Panglima Kuduk Ahmad ke Crimea pada tahun 1476. Mingili Girai Khan, pemimpin Crimea waktu itu, menyerah dan mengakui kekuasaan Ak-Fatih. Hubungan kooperatif dibangun antara Crimea dan Turki Utsmani sampai tiga abad. Pada 1774, berdasarkan Perjanjian Kuchuk Kaynarji, Turki Utsmani melepaskan Crimea. Pada 1783, berdasarkan Perjanjian Jashi antara Turksi Utsmani dengan Kekaisaran Russia, kepemilikan atas Crimea diberikan kepada Russia.

Namun, pertengahan abad ke-19 terjadi Perang Krimea (1853-1856) antara Kekaisaran Rusia melawan Pasukan Sekutu yang terdiri atas Prancis, Britania Raya, Kerajaan Sardinia, dan Turki Utsmani. Kekaisaran Rusia kalah. Sekutu, termasuk Turki Utsmani, mendapatkan sejumlah daerah taklukan.

Wajar, kalau Stalin menyamakan kekuatan imperalisme global seperti Inggris dan Prancis dalam satu barisan dengan Turki Utsmani. Trauma kekalahan Perang Krimea masih menyelimuti.

Turki adalah wajah Pan Islamisme paling bersinar. Dan tentu sedang berubah. Republik Turki baru terbentuk tahun 1923, dua tahun sebelum Stalin dipilih sebagai Sekretaris Jenderal Komunisme Internasional. Kuva-yi Milliye yang dipimpin Mustafa Kemal Attaturk masih penuh luka, akibat penumbangan kekuatan kekhalifahan yang despotis dan korup.

Bukan soal komunisme itu yang hendak penulis urai. Tetapi langkah-langkah yang dilakukan oleh China dalam investasi pembangunan infrastruktur di Asia dan Afrika dalam sepuluh tahun terakhir. Termasuk, tentu, kereta cepat Jakarta – Bandung. Beruntung, penulis mendapatkan buku dari Andrinof A Chaniago, ketika menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Andrinof banyak menggagalkan perencanaan pembangunan nasional skala raksasa, termasuk pembangunan jembatan tol yang menyeberangi Selat Sunda, baik di atas laut atau di bawah dasar laut.

Bagi penulis, jelas sekali China sedang membangun Tembok Besar yang dibangun Dinasti Qin, Dinasti Han, dan Dinasti Ming, sejak delapan abad Sebelum Masehi (722 Sebelum Masehi). Hanya saja, Tembok Besar itu tidak berada di wilayah Tiongkok, melainkan disebar keluar dari Tiongkok. Bagai sasaran panah berbentuk lingkaran itu, Tiongkok sedang menarik garis melingkar jauh dari area yang dihuni oleh 1,4 Milyar penduduknya.

Baca juga: Si Tou Timou Tumou Tou, Jenderal

Kota-kota di China berpenduduk puluhan juta manusia. Pembiayaan besar-besaran yang dilakukan oleh peradaban Sungai Kuning ini di Afrika dan Asia, sudah jelas guna memberikan keamanan atas model invasi apapun. Dan, jangan lupa, China tidak hanya berhadapan dengan invasi dari bangsa-bangsa berkuda dari luar, tetapi mengandung potensi konflik berdarah dalam kromosom dan genetika mereka. Pertarungan berabad-abad, sampai diduduki oleh Mongol.

Bisa saja, China mengalami “persatuan” setelah DNA Jenghis Khan (Temujin) yang menyapu sebagian besar dunia atas angin – pada saat yang sama, Singosari melarut, dan Majapahit “menyatukan” Nusantara – bertebaran dari perempuan kerajaan-kerajaan yang dia tumbangkan. Dalam sebuah penelitian, sebanyak 16 % populasi dunia dipengaruhi oleh DNA Genghis Khan.

Namun, penyatuan China dalam long march Mao Zedong, Revolusi Kebudayaan Deng Xiaoping, dan seterusnya, belum terhitung satu abad. Hongkong dan Taiwan adalah bukti dari potensi Tiga Negara Tiga Dinasti masih mengancam dari dalam wilayan Republik Rakyat Tiongkok sendiri. China sebagai republik, masih berusia muda. Darah yang menetes dalam

Duapuluh tujuh abad atau 2.743 tahun keberadaan Tembok Besar China belum sebanding dengan seratus tahun penyatuan Tiongkok oleh Ketua Mao. Di tepi Sungai Yang Tze, Shanghai, ketika penulis berfoto di depan patung besar Mao Zedong pada tahun 2010, anak-anak muda China saling berciuman, bergandengan tangan. Nasib patung bagaimanapun sudah tertulis dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an, bakal dihancurkan oleh “semacam” Nabi Ibrahim. Termasuk patung-patung yang ada di Indonesia, tentu.

Penulis sudah menonton ratusan film tentang China. Aneh, tak ada sama sekali “pemujaan” terhadap Ketua Mao, sebagaimana seriusnya film-film Indonesia semacam Pengkhianatan 30 September 1965 menempatkan sosok Mayor Jenderal Soeharto. Para pekerja pabrik di China, sama sekali tak berpakaian seragam berbeda-beda, tetapi sangat liberal. Uniformitas ala buruh-buruh pabrik di Indonesia, atau penyeragaman yang lain, justru terlihat lebih berbau komunistik, dibandingkan dengan apa yang bisa dilihat di negara China.

Ketika Tan Malaka yang banyak menghabiskan pelarian politik di China menyebut musuh dari Merdeka 100% adalah feodalisme, mistisisme, dan kapitalisme, China justru telah mengubahnya. Feodalisme dalam bentuk penguasaan tanah, malahan dibagikan kepada pengurus partai politik di tingkat desa. Satu desa, satu produk, berasal dari “perampasan”: tanah negara oleh kader-kader partai yang sangat menguasai teknologi pertanian dan didukung penuh negara. Mistisisme, banyak digunakan sebagai doktrin yang mencengangkan dalam membuat film. Kapitalisme, dalam akhir abad ke 20 adalah duplikasi, dari peniti, mainan, hingga kendaraan, tanpa peduli dengan hak kekayaan intelektual atau copyright.

Jangan-jangan, sejak berinteraksi dalam Liga Mahasiswa Komunis ketika kuliah di Belanda, Tan Malaka sudah menanamkan banyak pengaruh dalam benah pemimpin-pemimpin dunia ketiga: Russia, China, hingga Vietnam. Hanya bangsa Indonesia yang menolak, akibat tak menyadari betapa Tan Malaka adalah seorang guru mengaji Al Qur’an yang relegius…

*Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Batalkan UU Cipta Kerja Segera!

Published

on

By

Oleh: Marwan Batubara

Channel9.id – Jakarta. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No.91/PUU XVII/2020 menyatakan pembentukan UU No.11/2020 tentang Cipta Kerja (Ciptaker) cacat formil, sehingga statusnya inkonstitusional bersyarat. Meskipun dinyatakan berlawanan dengan UUD 1945, UU Ciptaker No.11/2020 masih dianggap berlaku, dengan syarat dalam dua tahun ke depan harus diperbaiki. Jika tidak, maka UU No.11/2020 menjadi inkonstitusional dan tidak berlaku secara permanen.

Presiden Jokowi dalam siaran pers (29/11/2021) mengatakan: “MK sudah menyatakan UU Cipta Kerja masih tetap berlaku. Dengan demikian, seluruh peraturan pelaksanaan Cipta Kerja yang saat ini masih tetap berlaku. Dengan dinyatakan masih berlakunya UU Cipta Kerja, maka seluruh materi dan substansi UU Cipta Kerja sepenuhnya tetap berlaku tanpa ada satu pasal pun yang dibatalkan atau dinyatakan tidak berlaku oleh MK”.

Meski telah menjadi Putusan MK, rakyat pantas menuntut agar UU No.11/2020 Ciptaker, berikut 49 Peraturan Pemerintah (PP) dan 3 Peraturan Presiden (Perpres) di bawahnya *dibatalkan*. UU No.11/2021 tidak layak diberlakukan sebagaimana dinyatakan Presiden Jokowi (29/11/2021) di atas. Maka UU atau pasal-pasal dan materi muatan UU yang telah dicabut atau diubah oleh UU No.11/ 2020 harus dinyatakan berlaku kembali. Tuntutan pembatalan UU Ciptaker No.11/2020 didasari berbagai fakta dan logika hukum, serta kepentingan strategis negara dan rakyat Indonesia seperti diurai berikut.

Baca juga: MK Putuskan UU Cipta Kerja Cacat Formil dan Inkonstitusional

Pertama, MK menyatakan secara formil pembentukan UU No.11/2020 bertentangan dengan konstitusi. Maka, jika cara dan proses pembentukan UU No.11/2020 saja sudah tidak sesuai konstitusi dan asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka materi muatan yang ada di dalamnya otomatis juga bertentangan dengan konstitusi.

Kedua, dengan putusan MK No.91/2020 maka concern publik, terutama stake holders terkait, tentang adanya moral hazard dalam pembentukan UU Ciptaker telah “terkonfirmasi.” Karena dominannya kepentingan sejumlah kalangan dalam lingkar kekuasaan, terutama para anggota oligarki penguasa-pengusaha, maka amanat konstitusi dan asas pembentukan peraturan perundang-undangan pun dilanggar.

Ketiga, dominannya peran oligarki dalam proses pembentukan UU Ciptaker tak lepas dari motif yang diusung. Justru motif inilah yang lebih merusak negara dan merugikan rakyat dibanding pelanggaran asas formil pembentukan peraturan. Motif oligarki terlibat aktif adalah agar ketentuan dan materi muatan UU Ciptaker menjamin tercapainya agenda dan kepentingan yang dituju, tak peduli jika materi muatan tersebut melanggar konstitusi. Karena berstatus UU oligarkis, maka sangat pantas jika UU Ciptaker dinyatakan batal segera!

Keempat, bertolak belakang dengan kesempatan dan peran luas tanpa batas bagi anggota oligarki, pemerintah justru membatasi partisipasi dan akses publik. Secara esensial, hak publik berpartisipasi harus memenuhi syarat berupa: hak untuk didengar, hak untuk dipertimbangkan dan hak mendapat jawaban. Karena hak-hak publik ini, terutama stake holders terkait, :telah diberangus”, maka otomatis materi muatan UU Ciptaker pun inskonstitusional.

Dalam rangka “mengakomodasi partisipasi publik”, Putusan MK No.91/2020 memang telah memuat terjadinya berbagai rapat dengar pendapat umum (RDPU), rapat kerja, FDG, lokakarya, diskusi publik dan berbagai forum yang digelar DPR dan pemerintah (halaman 441-445). Namun karena lebih bersifat searah, basa-basi, formalitas, “pemaksaan kehendak”, tanpa dialog untuk mencapai kesepakatan, maka banyak pihak yang bersifat pasif dan walk-out dari forum tersebut. Sehingga wajar jika materi muatan yang dihasilkan pun tidak sesuai konstitusi.

Kelima, hakim-hakim MK telah mendapat berbagai “fasilitas” dari pemerintah dalam UU MK No.7/2020. Hal ini patut diduga “hadiah atau suap” yang dapat membuat para hakim gagal bersikap objektif memutus perkara uji formil/materil UU Ciptaker. Misalnya, perpanjangan masa jabatan menjadi 70 tahun bagi yang tengah menjabat, perpanjangan periodisasi hakim sebagai konsekwensi masa jabatan yang diperpanjang, atau perpanjangan masa jabatan ketua dan wakil ketua menjadi lima tahun. Berbagai “hadiah” ini dapat menimbulkan “conflict of intersest” yang menghasilkan putusan MK bernuansa “moral hazard”. Publik dapat menilai MK bagian dari oligarki, sehingga putusannya tidak konsisten dengan konstitusi.

Keenam, sejumlah pakar menyatakan Putusan MK No.91/2020 jalan tengah yang pantas diterima dan diapresiasi. Lalu ada pula yang menyatakan putusan tersebut diambil karena ada asas manfaat yang harus dipertimbangkan.

Dengan dugaan adanya moral hazard di atas, publik dapat pula menilai jika putusan MK merupakan jalan tengah. Namun jalan tengah yang memilih antara amanat konstitusi dengan kepentingan oligarki dan pribadi para hakim, bukan memilih antara amanat konstitusi dengan manfaat bagi kepentingan rakyat.

Uraian di atas menjelaskan berbagai alasan mengapa Putusan MK No.91/2020 dan UU Ciptaker No.11/2020 harus dibatalkan. Guna mencapai target oligarki kekuasaan, berbagai cara dan rekayasa dilakukakn, termasuk partisipasi publik dihambat dan UU MK dirubah. Kondisi ini jelas bertentangan dengan asas-asas yang diamanatkan Pancasila, UUD 1945 dan prinsip-prinsip demokrasi. Karena itu, rakyat pantas menuntut agar UU Ciptaker segera dibatalkan dan untuk itu Pemerintah harus segera menerbitkan Perppu. Mari terus kita suarakan![]

Jakarta, 30 November 2021

Penulis adalah Direktur Eksekutif IRES dan Deklarator KAMI

Continue Reading

Hukum

Tak Ada Pengecualian Jabatan Dalam Hukum, Siapapun Bisa Kena OTT

Published

on

By

Jaksa dan Hakim Dalam Bansos Juliari Batubara

Oleh: Azmi Syahputra*

Channel9.id-Jakarta. Setiap orang harus diperlakukan sama dalam hukum (equality before the law) , tanpa membedakan suku, agama, pangkat, dan jabatan. Ini asas dalam hukum yang menekankan tidak ada seorang pun yang dikecualikan atau kebal hukum apapun jabatannya termasuk polisi, jaksa, dan hakim sekalipun. Hukum itu diadakan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran bukan untuk memanifestasikan kekuasaan yang bila kekuasaan itu tidak dipagari dengan rambu hukum akan menjadi keadilan yang liar.

Jadi sepanjang seseorang tersebut sekalipun pejabat hukum bila melakukan perbuatan yang melanggar hukum yang diancam pidana, maka orang tersebut dapat dimintai pertanggungjawabannya, termasuk pula bagi pelaku yang turut melakukan atau membantu melakukan tindak pidana.

Tentang makna tertangkap tangan diatur oleh KUHAP dan ini berlaku bagi siapapun yang tertangkap pada saat melakukan tindak pidana atau sesaat kemudian ditemukan alat bukti yang diduga keras telah digunakan untuk melakukan tindak pidana, OTT itu harus dimaknai sebagai represi kejahatan. Suatu rule of law model, OTT masih diperlukan sekaligus menjadi proses penanggulangan kejahatan yang sebenarnya.

Karenanya, tidak ada perbedaan atau pengecualian orang dalam pemberlakukan tertangkap tangan. Malah hukum acaranya memberikan mekanisme lebih mudah dalam penerapan hukum bagi pelaku yang di OTT. Jadi, penegakan hukum tidak bisa terhalang oleh kualifikasi profesi atau jabatan pelaku dalam upaya mendorong penegakan hukum yang berkualitas. Malah dalam hukum pidana diatur bila kejahatan dilakukan oleh penegak hukum sanksinya lebih berat ditambah sepertiga dari ancaman maksimal.

Jadi bila ada wacana bagi aparatur hukum tidak bisa di OTT dengan alasan sebagai pejabat simbol negara, ini harus dihindari. Dikhawatirkan bisa-bisa aparatur hukum jadi “penjahat terselubung”, akan jadi pembacking oknum- oknum yang bermufakat dalam sebuah kejahatan yang dibungkus pengamanannya melalui kewenangan jabatan atau kesempatan yang ada dalam jabatannya.

*Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti
[

Continue Reading

Opini

Tiga Putaran Terakhir Joko Widodo

Published

on

By

Oleh: Indra Jaya Piliang*

Channel9.id-Jakarta. Sahabat saya, Ubeidillah Badrun, menulis artikel bertajuk “Tujuh Tahun Jokowi: New Kleptocracy” (Tempo, 19 Oktober 2021). Bersama Ubeidillah dan aktivis Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) lainnya, kami mendirikan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ). Dalam sejarah kelahiran FKSMJ di internet, disebutkan bahwa hulu kelahiran FKSMJ berasal dari “Simposium Nasional Angkatan Muda 1990an: menjawab Tantangan Abad 21” atau terkenal dengan sebutan SNAM yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Universitas Indonesia tahun 1994.

Kebetulan, saya menjadi Ketua Panitia Pelaksana (Organizing Committtee) dengan Wakil Ketua Indra Kusuma (sekarang pengacara) dan Sekretaris Umum Subuh Prabowo (sekarang Direktur Eksekutif Himpunan Kerukunan Tani Indonesia). Penanggungjawab adalah Bagus Hendraning Kobarsih (sekarang di Kementerian Luar Negeri) dan Ketua Panitia Pengarah (Steering Committtee) Hadi Juanda (sekarang Kolonel Tentara Nasional Indonesia yang sedang bertugas di Provinsi Papua).

SNAM SMUI 1994 tercatat sebagai forum pertukaran gagasan aktivis mahasiswa intra dan ekstra kampus terbesar dan terpenting yang pernah diselenggarakan tahun 1990an. Satu komponen yang tidak bisa diundang berasal dari taruna akademi militer. SC yang beranggotakan Eep Saifullah Fatah, Chandra M Hamzah, Fadli Zon, Riri Fitri Sari, dan pimpinan top mahasiswa UI lainnya itu, kesulitan meyakinkan pimpinan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia kala itu. Andai saja para penerima Adi Makayasa yang sedang menempuh pendidikan perwira itu hadir, bakal terjadi komunikasi sipil-militer terbesar di kalangan berpendidikan tinggi.

Baik, sebagai lanjaran saja.

Bagi saya, apa yang ditulis oleh Ubeidillah – yang terus terang, ketika saya masih menjadi peneliti Centre for Strategic and International Studies, bahkan lebih akrab dengan ponakannya yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri – adalah a condiciones sine quibus non yang ditangkap oleh sebagian ilmuwan. Sekalipun, tentu terdapat sejumlah ilmuwan yang menyatakan kebalikannya. Parameter pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan infrastruktur, hingga konektivitas melalui jejaring internet dan (industri) perhubungan jauh lebih baik.

Badan Pusat Statistik, misalnya, mencatat rasio gini Indonesia per September 2017 hingga Maret 2018 ada pada pusaran angka 0,389. Angka itu terendah dalam tujuh tahun terakhir. Artinya, ketimpangan hidup antara masyarakat, baik masyarakat perkotaan, antar kota, pedesaan atau antar desa, semakin mengecil. Pada bulan Maret 2021, angka itu mencapai 0,384.

Ketika Ubeidilllah hanya menukil indeks demokrasi Indonesia (Freedom House) dan indeks persepsi korupsi, sudah barang tentu mengalami fluktuasi. Bukan saja Indonesia, tetapi juga negara-negara (kampiun) demokrasi lain di dunia yang berhadapan dengan masalah korupsi. Pun, saya tentu saja tak lengkap jika hanya menawarkan indeks pertumbuhan ekonomi – seperti yang dicapai negara Republik Rakyat China atau India – dikaitkan dengan demokrasi.

Secara metodologi, kedua korpus itu (Freedom House dan Corruption Perseption Index) sama-sama bermasalah. Indeks korupsi, misalnya, disusun berdasarkan persepsi dari para pelaku bisnis (trans nasional) yang menanamkan investasi guna menarik keuntungan atau laba di negara yang sedang disurvei. Di sejumlah negara, seperti Australia, sudah muncul regulasi baru yang melarang kehadiran baik orang atau perusahaan dari negara-negara yang terindikasikan korupsi, maupun orang dari negara yang bersangkutan yang berhubungan dengan negara dimaksud. Namun lebih banyak negara kapitalis yang menyukai untuk mengkuya-kuya negara lain sebagai korup, tetapi mereguk keuntungan terus-menerus dari para pengusaha nasional mereka guna berbisnis di negara-negara korup itu.

Bahkan, ketika CPI menyebut bahwa Indonesia adalah negara kleptokrasi baru, sama sekali tak menyebutkan nama-nama yang dikaitkan dengan istilah itu. Buku Yushihara Kunio, the Rise of Ersazt Capitalism in Southeast Asia pada akhir era Orde Baru, lebih berani menyebut sejumlah nama pengusaha nasional Indonesia. Sayang sekali, ketika pemerintah Indonesia berhasil mengambil alih saham pengendali sejumlah perusahaan besar, saya justru melihat kehadiran pengusaha boemi poetera Indonesia makin menipis.

Pengusaha boemi poetera seakan mengalami busung lapar di negara yang sedang menikmati pertumbuhan ekonomi. Bandingkan dengan kehadiran sejumlah taipan atau orang kaya baru, ketika Jepang, China, Korea Selatan atau India menangguk pertumbuhan ekonomi di atas 5% per tahun. Mereka muncul dalam daftar orang-orang terkaya, bahkan membeli klub-klub sepakbola mahal.

Mana yang lebih tak diterima rakyat Indonesia, terutama pada level menengah ke atas (middle class to upper class), apakah model Partai Komunis China yang punya delapan sekondan, ataukah Partai Baratiya Janata yang didominasi oleh fundamentalis Hindu yang mengalahkan partai nasional ala Partai Kongres dengan hanya menyisakan tiga negara bagian buat Partai Komunis India? Bagi saya, partai ekstrim kiri model Partai Komunis China atau partai ekstrim kanan model Partai Baratiya Janata sama-sama “tak tepat” dalam lanskap bumi nusantara.

Namun, baiklah, sebagai kawan baik, apabila keseluruhan argumen dari Ubeidillah Badrun saya terima, berarti yang tersisa hanyalah tiga tahun terakhir pemerintahan Joko Widodo. Tiga tahun putaran terakhir dalam sirkuit demokrasi, pemberantasan korupsi, pertumbuhan ekonomi, pemerataan, dan pencapaian parameter terpenting dari Trisakti: berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. Pemerintahan yang diampu Presiden Soeharto melakukan metode Trilogi Pembangunan: Stabilitas Politik, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pemerataan Kesejahteraan. Joseph Stalin, lebih luar biasa lagi, yakni membunuh sekitar 10 Juta Rakyat Russia, ketika mengubah bangsanya dari agraris menjadi semi industri. Ratusan ribu nyawa melayang ketika menimbun rawa-rawa sangat dalam di belahan selatan Russia. Atau, korban dalam Revolusi Kebudayaan yang dilakukan oleh Deng Xiao Ping di China.

Banyak kawan, termasuk kalangan ilmuwan luar negeri, menyebut bahwa sangat sedikit atau bahkan hampir tidak ada, seorang presiden-pun di negara-negara demokrasi moderen yang berani melakukan pembangunan besar-besaran di bidang infrastruktur seperti yang dilakukan Joko Widodo di Indonesia. Bagaimana bisa presiden seperti itu hadir, ketika generasi yang akan datang sudah pasti dibebani oleh utang luar negeri yang lebih banyak dan bertimbun dibanding beban orangtuanya?

Baca juga: Ketakutan China, Ketakutan Atas China 

Pembangunan Tembok Besar China yang dilakukan sejak tahun 722 Sebelum Masehi, hitung saja kapan selesainya. Pembangunan jalur kereta api di Amerika Serikat, bahkan sempat menyebut Presiden Abraham Lincoln sebagai pemburu para vampir. Sebab, ketika jalur kereta api hadir di area-area yang tak ada manusianya berkilo-kilo meter, tentu saja mengganggu pemukiman vampir pengisap darah yang sudah ikut “berperang” sejak koloni pertama terbentuk.

Apapun itu, saya tentu ikut mengaminkan kritikan yang dilakukan oleh Prof Dr Emil Salim. Pangkat fungsional terakhir beliau adalah widya iswara di BP-7 Pusat, ketika saya tercatat sebagai Penatar Tingkat I sejak 1995. Ada yang keliru dalam pilihan pembangunan ekonomi yang sedang dijalankan, kata Emil Salim. Saya membayangkan, putaran terakhir dalam sirkuit yang tengah disiapkan di Mandalika, Nusa Tenggara Barat.

Walau, saya tahu, bahwa hampir seluruh visi yang disampaikan pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden kepada Komisi Pemilihan Umum mengalami perubahan ketika dijalankan.

Yang lebih cilaka, pandemi Covid 19 membuat turbulensi yang serius bagi pemenang pemilihan. Saya sendiri tak membaca lagi sebagai referensi utama. Teks sudah lama kehilangan daya pikat. Apalagi daya ikat. Bahkan bagi apa yang dinamakan janji-janji politik.

Tak apa. Indonesia baru dua bulan lebih mendayung lagi roda ekonomi. Keajaiban, bisa jadi selalu datang ke negara yang banyak diisi oleh dewa-dewa dari nirwana ini. Pun bagi pertumbuhan agama dan sekaligus ummat beragama. Indonesia selalu berhasil mengubah sesuatu yang datang dari luar. Pembaratan, bahkan punya batas-batas pembaratan, sebagaimana ditulis oleh sejarawan Denys Lombard dalam “Nusa Jawa Silang Budaya”. Noam Chomsky memuji Indonesia dalam “memerangi” terorisme atas nama Islam.

Mayoritas ummat tidak bertempat-tinggal di negara-negara ibu kelahiran agama Islam. Indonesia, India, dan Pakistan justru menjadi negara paling dominan dihuni ummat Islam. Bukan saja itu, persentuhan dengan Hindu dan Budha, telah membuat Islam lebih berwatak moderat, ketimbang di negara-negara Arab yang lebih bersentuhan dengan agama Yahudi dan Nasrani.

Jadi, manakala perjalanan pemerintahan tidak berjalan sesuai dengan visi dan misi yang dihiruk-pikukkan selama putaran kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden, sudah tentu bukan satu persoalan fundamental. Baik dalam berpikir, berimajinasi, maupun berjanji. Arnold Toynbee sudah lama menanam jampi-jampi, betapa bangsa Melayu – tentu bukan termasuk Melanesia – adalah bangsa yang easy to forgotten and easy to forgiven.

Barangkali, saya hanya mengingat, bahwa ketika sirkuit Sentul dibangun, apa yang disebut sebagai nepotisme berkecambah. Bukan oleh kehadiran gadis-gadis payung, tetapi lebih-lebih niatan gua melakukan “lompatan” di dunia olahraga. Bukankah penyumbang medali emas terbanyak dalam Asian Games adalah pencak silat yang dikomando oleh Prabowo Subianto – tentu juga cabang wushu yang diampu oleh Airlangga Hartarto? Ketika sepak takraw dan bulu tangkis, termasuk kayak dan perahu, makin menjauh dari Indonesia, lalu adrenalin Generasi Z dan generasi Z dipacu menelusuri kedigdayaan otomotif yang bahkan berpotret dengan cara – yang saya sepakat melanggar etika profesional – langsung mencoreng Indonesia tercampak 40 tahun oleh sang pemilih motor?

Apabila tiga putaran terakhir dalam sirkuit kepemimpinan Joko Widodo tak mengalami perubahan, barangkali saya dan Ubeidillah Badrun hanya siap bermurung durja atas tantangan abad 21 yang sudah pasti sudah menghulubalangkan kami, generasi aktivis mahasiswa 1990an.

*Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara

Continue Reading

HOT TOPIC