Connect with us

Internasional

KJRI New York Imbau WNI Lakukan Karantina Mandiri di Tri-State Area

Published

on

Channel9.id – Jakarta. Pemerintah tiga negara bagian di Amerika Serikat yang dikenal sebagai Tri-State Area – yakni New York, New Jersey dan Connecticut – telah menetapkan peraturan wajib karantina mandiri selama 14 hari.

Peraturan tersebut berlaku untuk semua orang yang datang ke Tri-State Area dari negara bagian dengan tingkat Covid-19 lebih tinggi dari 10 per 100.000 penduduk, atau rata-rata hasil tes positif Covid-19 lebih tinggi dari 10 persen selama tujuh hari bergulir.

Hal itu diungkapkan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York dalam keterangan tertulis, Selasa, 15 September 2020 waktu setempat.

Per 15 September 2020, setiap orang yang datang ke Tri-State Area dari 28 negara bagian dan 2 territories wajib untuk melakukan karantina mandiri sesuai panduan Department of Health setempat.

Setiap orang yang akan bepergian ke Tri-State Area dari 28 negara bagian dan 2 territories tersebut wajib mengisi formulir (health form). Formulir itu antara lain berisi informasi asal negara bagian, akomodasi selama di Tri-State, serta nomor kontak yang dapat dihubungi.

Setiap orang yang tidak mengisi formulir dimaksud dapat dikenai denda sebesar USD1.000 hingga USD2.000 atau sekitar Rp14,7 juta hingga Rp29,5 juta (kurs Rp14.790 per Dollar AS). Selain itu, setiap orang yang melanggar ketentuan karantina dapat dikenai denda sebesar USD10.000 atau sekitar Rp147,9 juta.

KJRI New York mengimbau, warga Indonesia dari 28 negara bagian dan 2 territories yang akan bepergian ke Tri-State Area, serta warga Indonesia yang berasal dari Tri-State Area yang akan kembali ke kediamannya masing-masing, setelah mengunjungi 28 negara bagian dan 2 territories tersebut untuk memperhatikan peraturan karantina mandiri. Warga Indonesia juga diminta mematuhi instruksi dari petugas yang berwenang.

“KJRI New York juga mengimbau agar masyarakat Indonesia senantiasa memantau perkembangan peraturan karantina ini melalui media ataupun informasi dari otoritas setempat,” tulis KJRI New York.

Adapun 28 negara bagian dan 2 territories tersebut yaitu:

1. Alabama
2. Alaska
3. Arkansas
4. Delaware
5. Florida
6. Georgia
7. Guam
8. Idaho
9. Illinois
10. Iowa
11. Indiana
12. Kansas
13. Kentucky
14. Louisiana
15. Missouri
16. Mississippi
17. Montana
18. Nebraska
19. North Carolina
20. North Dakota
21. Oklahoma
22. Puerto Rico
23. South Carolina
24. South Dakota
25. Tennessee
26. Texas
27. Utah
28. Virginia
29. West Virginia
30. Wisconsin

(HY)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hot Topic

Selandia Baru Resmi Resesi, Menyusul 44 Negara yang Terjerembab Resesi

Published

on

By

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern

Channel9.id-Jakarta. Selandia Baru resmi resesi setelah ekonominya di kuartal II-2020 mengalami penurunan yang cukup dalam akibat pandemi corona (Covid-19). Corona telah melumpuhkan aktivitas bisnis di Selandia Baru.

Produk Domestik Bruto (PDB) terkontraksi 12,4% secara year-on-year (yoy). Sementara secara kuartalan terkontraksi 12,2%. The Reserve Bank of New Zealand memperkirakan penurunan ekonomi secara kuartalan dan tahunan sebesar 14%.

Rendahnya pertumbuhan ekonomi Selandia Baru disebabkan keputusan lockdown yang ketat pada April dan Mei. Keputusan itu membuat semua orang tinggal d rumah dan kegiatan bisnis banyak yang tutup.

Mengutip Reuters, Kamis (17/09), data pertumbuhan ekonomi Selandia Baru resmi resesi karena sudah dua kuartal berturut-turut terkontraksi atau tumbuh negatif. Pasalnya pertumbuhan ekonomi di Maret terkontraksi 1,6%.

Baca juga: Mahfud MD Pastikan Bulan Depan Indonesia Alami Resesi

Para ekonom mengatakan Selandia Baru akan pulih lebih cepat dibanding negara lain yang masih berjuang menahan penyebaran virus corona.

“Kami memperkirakan penurunan PDB yang memecahkan rekor pada kuartal Juni akan diikuti oleh kenaikan yang memecahkan rekor pada kuartal September,” kata ekonom senior Westpac, Michael Gordon.

Sebelumnya ada 44 negara lainnya yang resmi resesi. Berikut rangkumannya dari Trading Economics:
1. Afrika Selatan (0)
2. Albania (-3)
3. Angola (-2)
4. Arab Saudi (-1)
5. Argentina (-5)
6. Austria (-13)
7. Bahrain (-1)
8. Barbados (0)
9. Belanda (-9)
10. Belgia (-14)
11. Belize (-4)
12.Brasil (-11,4)
13. Ekuador (-1)
14. Filipina (-16)
15. Finlandia (-5)
16. Guyana Khatulistiwa (-6)
17. Hong Kong (-9)
18. Inggris (-22)
19. Iran (-10)
20. Italia (-17)
21. Jepang (-10)
22. Jerman (-12)
23. Kanada (-13)
24. Latvia (-10)
25. Lebanon (-5)
26. Lebanon (-5)
27. Lituania (-4)
28. Makau (-68)
29. Meksiko (-19)
30. Mongolia (-10)
31. Palestina (-3)
32. Peru (-30)
33. Portugal (-16)
34. Republik Ceska (-11)
35. Singapura (-13)
36. Slowakia (-12)
37. Spanyol (-22)
38. Sudan (-2)
39. Swiss (-9)
40. Thailand (-12)
41. Tunisia (-22)
42. Ukraina (-11)
43.Venezuela (-27)
44.Yunani (-15,2%)

IG

Continue Reading

Internasional

Kebakaran Lebanon, Gudang Lembaga Kemanusiaan Hangus

Published

on

By

Kebakaran di Beirut, Lebanon

Channel9. id-Jakarta. Kebakaran terjadi di gudang tempat sebuah lembaga kemanusiaan menyimpan bantuan makanan dan minyak goreng di Beirut, Lebanon, Kamis (10/9).

Dinas Pemadam Kebakaran dan militer berjam-jam berjuang memadamkan api. Bahkan, sejumlah helikopter dikerahkan untuk menyiram air di lokasi kebakaran.

Kobaran api akhirnya berhasil diatasi pada hari itu juga. Tidak ada korban meninggal atau cedera yang dilaporkan dalam insiden tersebut.

Baca juga: Ledakan Super Dahsyat di Lebanon Sebabkan Gempa

Berbagai tayangan di media sosial memperlihatkan para pekerja pelabuhan berlarian ketika kebakaran terjadi di zona bebas bea cukai di pelabuhan, pada Kamis (10/09). Kepulan asap kebakaran terlihat dari semua penjuru Ibu Kota Lebanon.

Kepala Palang Merah Lebanon, George Kettaneh, mengatakan beberapa orang mengalami sesak napas namun tiada yang cedera.

Direktur Palang Merah di kawasan tersebut, Fabrizio Carboni, mengatakan gudang yang terbakar menyimpan ribuan paket makanan. Kebakaran itu, menurutnya, mengakibatkan operasi kemanusiaan berisiko mengalami gangguan serius.

Area di sekitar lokasi kejadian pun dibarikade agar api tidak meluas.

Direktur Jenderal Pertahanan Sipil, Raymond Khattar, mengatakan kepada Kantor Berita Nasional bahwa mereka yang bekerja memadamkan api pantang pulang “sebelum api benar-benar padam”.

Para pejabat mengatakan sebagian besar api telah dipadamkan pada malam hari.

Peristiwa itu terjadi sebulan setelah ledakan dahsyat amonium nitrat seberat 2.750 ton di lokasi yang sama. Selain menyebabkan lebih dari 190 orang meninggal dunia, ledakan pada 4 Agustus lalu itu mengakibatkan ribuan orang cedera dan sekitar 300.000 orang kehilangan tempat tinggal.

IG

Continue Reading

Hot Topic

Sputnik V, Vaksin Corona Milik Rusia Diragukan Khasiatnya

Published

on

By

Vaksin Corona Buatan Rusia, Sputnik V

Channel9.id-Jakarta. Beberapa pihak dikabarkan ragu kemujaraban vaksin corona Rusia, Sputnik V, diantaranya guru dan tenaga kesehatan Rusia yang akan segera mendapatkan suntikan vaksin tersebut.

Dilansir CNNIndonesia (09/09) serikat guru Rusia, Uchitel, memulai petisi daring yang meminta anggotanya untuk menolak vaksinasi secara langsung atas dasar keamanan, dan menyatakan keprihatinan bahwa vaksinasi – yang saat ini bersifat sukarela – tidak boleh dijadikan wajib kecuali uji klinis selesai.

Salah satu ketua Uchitel, Marina Balouyeva, mengatakan petisi menentang vaksinasi wajib bagi guru lebih merupakan tindakan pencegahan. Dia waspada terhadap Sputnik-V karena beberapa alasan. Pertama, secara umum diketahui kualitas vaksin Rusia lebih buruk dibandingkan produksi luar negeri.

Kedua, vaksin itu dibuat dengan kilat yang sudah menimbulkan kekhawatiran. Dia menilai vaksin itu dibuat dengan tergesa-gesa.

Selain itu, kritikus seperti Anastasia Vasilyeva, seorang dokter Rusia yang menjadi juru kampanye terkemuka dan sekutu pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, contohnya.

Dia mengatakan dorongan Rusia untuk melakukan vaksinasi Covid-19 akibat tekanan politik dari Kremlin, yang ingin mencitrakan Rusia sebagai kekuatan ilmiah global.

“Saya pikir ini untuk menunjukkan Rusia adalah negara yang sangat kuat, bahwa Putin adalah presiden yang sangat kuat,” kata dia.

Baca juga: Kabar Gembira, Vaksin Corona Buatan Rusia Hasilkan Respon Antibodi

Sementara, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun angkat bicara terkait kemujaraban vaksin Covid-19 Sputnik V milik Rusia.

Peneliti LIPI Wien Kusharyoto mengatakan vaksin Rusia Sputnik V memiliki tingkat antibodi penetralisir virus corona yang cukup rendah meski diklaim mampu memicu respons antibodi.

“Tingkat antibodi penetral cukup rendah dipaparkan dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet. Tingkat antibodi ini rendah dibandingkan dengan uji coba vaksin lain yang diterbitkan. Begitu juga respons sel T (T cell) yang minim meski vaksin juga memicu respons sel T,” tuturnya, Selasa (08/09).

Akan tetapi, Wien juga menyinggung bahwa para peneliti independen kesulitan untuk membandingkan hasil respon imun dari berbagai vaksin Covid-19.

Tiap kelompok penelitian mungkin menggunakan metode uji yang berbeda dalam mengukur konsentrasi antibodi, termasuk antibodi penetralisir virus. Terdapat pula perbedaan level antibodi dalam plasma konvalesen digunakan sebagai acuan.

Oleh karena itu, Wien menambahkan uji klinis tahap I dan II harus diikuti dengan tahap III untuk membuktikan secara gamblang terkait kemanjuran dan keamanan vaksin.

Untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas kombinasi kedua vaksin tersebut dalam mencegah penyakit Covid-19, tetap harus dilakukan uji klinis tahap III.

“Karena itu hasil uji klinis tahap I/II tidak banyak berarti tanpa diikuti oleh uji klinis tahap III terhadap ribuan relawan yang berupaya mengevaluasi secara gamblang efektivitas dan keamanan vaksin,” kata Wien.

Wien mengungkap nyatanya peneliti di Rusia menetapkan ambang batas yang tinggi untuk uji netralisasi. Dosis virus yang digunakan tinggi dan tidak diperbolehkan timbulnya kerusakan sel akibat infeksi virus.

Dengan ambang batas yang tinggi, hal tersebut sesungguhnya meningkatkan risiko kegagalan yang lebih besar. Beruntung, kegagalan itu tidak terjadi.

“Sebetulnya mereka mengambil risiko yang besar dalam hal ini terkait kemungkinan vaksin tersebut gagal dalam pengujian. Namun tidak demikian yang terjadi,” ujar Wien.

IG

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC