Connect with us

Opini

Mengenang Ompui S.A.E Nababan

Published

on

Oleh: Firman Jaya Daeli*

Channel9.id-Jakarta. Ompui Ephorus (Emeritus) HKBP Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst Nababan, LID (selanjutnya disingkat dalam tulisan ini sebagai SAE. Nababan) adalah seorang tokoh yang relatif paripurna dari beberapa sisi kekuatan, kemampuan, dan kematangan. Seorang teolog, konseptor, organisator, administrator, penulis, pembicara, orator, pemimpin dan penggerak, filsuf dan pemikir, intelektual dan cendekiawan, aktivis dan pejuang. Tema-tema strategis dan utama atau pokok-pokok tematik yang menjadi materi tugas panggilan, dan merupakan pergumulan dan pergulatan pemikiran, pelayanan, pergerakan, dan perjuangan SAE. Nababan adalah: Keadilan, Kesetaraan, Perdamaian, Demokrasi, HAM, Kemanusiaan, Lingkungan Hidup.

Penulis mengenal dan mengetahui sosok SAE. Nababan, dari berbagai pihak dan kalangan yang beraneka ragam, majemuk, plural, multikuktural. Tidak tunggal dan tidak tersendiri. Pengenalan dan pengetahuan tersebut jauh sebelum penulis dan SAE. Nababan berjumpa dan bertemu secara faktual serta berkenalan langsung dalam diskusi dan dialog. Penulis mendengar dan mengetahui sosok SAE. Nababan dari orangtua (Ayah) Penulis.

Juga mendengar dan mengetahui dari beberapa elemen dan komunitas lingkungan, lintas hubungan dan jejaring, relasi dan aliansi kerjasama dalam dunia pergerakan lainnya. SAE. Nababan pernah berkunjung langsung ke rumah kediaman orangtua Penulis di Gunungsitoli, Kepulauan Nias (Gusit, Kepni). Perkunjungan yang berlangsung sekitar awal atau pertengahan tahun 1980-an tersebut, pada dasarnya terlaksana dalam format dialog informal bersama dengan sejumlah pimpinan dan tokoh yang datang hadir pada saat itu.

Keseluruhan konstruksi dan substansi pertemuan dan dialog tersebut, diletakkan, diposisikan, dan ditumbuhkan secara baik dan benar agar memiliki relevansi otentik. Sehingga bermanfaat dan berefek positif, efektif, dan produktif. Terutama dalam kerangka untuk mengembangkan kualitas persekutuan, persatuan, pelayanan, pengabdian, perjuangan, dan pergerakan oikumene. Juga dalam kerangka memajukan masyarakat dan daerah Kepni. Kualitas pergerakan oikumene semakin berarti ketika dibumikan dalam kerangka pemajuan kualitas manusia dan masyarakat. Dan dalam kerangka pembangunan daerah dan kawasan yang semakin menguatkan Keindonesiaan.

Perspektif pengembangan dan pemajuan ini, dipahami dan dimaknai dalam konteks Kepni sebagai kawasan perbatasan yang terluar dan terdepan. Lagi pula sebagai kawasan kepulauan yang tertinggal dibanding dengan kawasan lainnya di Indonesia. Bangunan tugas panggilan etik dan tanggungjawab moral dari perspektif pembangunan kawasan di atas, memiliki getaran energi yang menguat dan berdampak. Perihal tersebut sebagai penanda dan pemakna perhatian serius. Pada gilirannya merupakan artikulasi dan formulasi dari pemikiran, pelayanan, dan pergerakan kemanusiaan, kepemimpnan, dan kelembagaan. Juga sebagai wujud kepedulian secara bersama dan bentuk keterpanggilan secara bergotongroyong.

Kemudian pemaknaan akan tugas dan tanggungjawab secara otentik dan konkrit. Intinya adalah meletakkan dan menempatkan kawasan perbatasan dan kepulauan, yang harus segera dan senantiasa diperhatikan, digerakkan, dan dimajukan. Lagi pula yang mesti secepatnya diprioritaskan secara serius dalam skala mendesak. Sosiologi dan tipologi kawasan perbatasan yang terluar dan terjauh serta kawasan kepulauan yang tertinggal, pada dasarnya menjadi cakrawala dan merupakan armosfir pergumulan pergerakan Oikumene dan pergulatan spritualitas SAE. Nababan. Basis dan warna pemikiran, jejak langkah perjalanan, rekam jejak pengalaman, dan jati diri pelayanan dan pergerakan SAE. Nababan, pada dasarnya bersifat baik dan bajik. Intinya bertumpu dan berintikan pada perihal yang berkeadilan, berkemanusiaan, beradab, dan berkeadaban.

Keterbukaan dan kesediaan SAE. Nababan untuk berfungsi dan berguna bagi kebajikan dan kebaikan umum merupakan sikap teologis dan ideologis. Perihal tersebut adalah sebuah dan serangkaian pernyataan kesaksian hidup dengan posisi tegak lurus untuk “menyatakan, menyerahkan, dan mempersembahkan” jiwa raga. Pernyataan kesaksian hidup tersebut berguna bagi pengakuan, penghormatan, dan pemajuan nilai-nilai kemanusian, keumatan, kemasyarakatan, dan kebangsaan. Keterbukaan dan kesediaan tersebut, diperuntukkan dan diabdikan demi untuk pembangunan dan pemajuan keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan yang berharkat, bermartabat, dan berkeadaban (beradab) Pancasila.

Kehadiran dan keberadaan SAE. Nababan, merefleksikan dan menunjukkan sikap dan pendirian etik dasar kepemimpinan. Juga menggambarkan dan mengukuhkan tugas panggilan dan tanggungjawab moral pemimpin pergerakan persekutuan dan pelayanan. Sikap dan pendirian serta tugas panggilan dan tanggungjawab, pada dasarnya lahir dan tumbuh berdasarkan atas kesadaran teologis dan kepedulian ideologis yang otentik. Kemudian pada gilirannya, berpotensi dan berfungsi sebagai prasyarat standar dan persyaratan mutlak untuk mengorganisasikan dan menggerakkan kemanusiaan dan keumatan. Juga membangkitkan dan memajukan kemasyarakatan dan kerakyaran di wilayah kawasan lokal dan regional.

Kualitas pertemuan dan dialog, semakin mengkonfirmasi mengenai kualitas, integritas, dan kredibilitas kepedulian SAE. Nababan terhadap sejumlah pokok-pokok tematik kehidupan. Terutama bagi pemajuan kemanusiaan, keumatan, kemasyarakatan, dan kebangsaan yang berkeadilan, berkemakmuran, dan berkesejahteraan. Perihal tersebut bertumpu dan berbasis pada keberadaan dan kebangkitan harkat dan martabat kemanusiaan dan kemasyarakatan yang sesungguhnya dan sejatinya.

Sosok SAE. Nababan memiliki kepintaran, kecerdasan, kedisiplinan, keberanian, dan ketegasan, kematangan, kemandirian, dan bibit kepemimpinan, sejak remaja dan muda. Penulis mendengar dan mengetahui perihal ini dahulu dari mantan Gubernur Sumut (Alm). P.R. Telaumbanua, yang juga pernah menjadi Bupati Nias, Residen Sumatera Timur, Walikota Medan, dan menjadi Staf Ahli Menteri Dalam Negeri RI setelah selesai menjadi Gubernur Sumut. Meskipun P.R. Telaumbanua ditugaskan rezim penguasa saat itu di awal orde baru untuk menjadi Anggota DPR-RI dan MPR-RI dari Partai Golkar, namun habitus (habitat) politik sesungguhnya dari P.R. Telaumbanua adalah Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Indonesia (Partindo), sejak remaja, tahun 1930-an awal. P.R. Telaumbanua, juga merupakan seorang pamong praja, abdi negara, pegawai negeri, dan birokrat pemerintahan – dengan sejarah karir kepegawaian yang lama dan panjang.

Sosok P.R. Telaumbanua berteman dekat dan bersahabat karib dengan Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia (RI) Bung Karno. Bung Karno, pernah dua kali berkunjung ke Kepni di awal tahun 1950-an, setelah Proklamator dan Wakil Presiden Pertama RI Bung Hatta selesai berkunjung ke Kepni, sesaat setelah selesai Konferensi Meja Bundar (KMB). Bung Karno menginap saat itu di rumah kediaman P.R. Telaumbanua, di Gusit, Kepni. Penulis berkeluarga dekat dengan P.R. Telaumbanua karena Ayah dari P.R. Telaumbanua merupakan abang kandung dari Nenek Penulis.

Om P.R. (Pendeta Roos), begitu nama panggilan khas dari P.R. Telaumbanua, beserta anak-anaknya, pernah dan bahkan sering menyampaikan dan memberitahukan mengenai sosok SAE. Nababan kepada Penulis dalam beberapa kali kesempatan. P.R. Telaumbanua menempuh studi dan menyelesaikan pendidikan formal di sekolah Belanda (HIS dan MULO), di Sigumpulon, Tarutung, Taput, Sumut, dan sekolah HIK di Solo, Jateng. Ayah SAE Nababan, bergelar Guru Jonathan L. Nababan adalah guru dan pendidik langsung dari P.R. Telaumbanua ketika itu di Taput, Sumut. Keluarga guru Jonathan L. Nababan, pernah bertempat tinggal di kota Medan, demikian juga Keluarga P.R. Telaumbanua. Kedua keluarga besar ini relatif dekat sejak dari dahulu pada masanya. Mantan Gubernur Sumut P.R. Telaumbanua dan keluarganya sering dan selalu memberitahukan dan mendiskusikan mengenai sejumlah keunggulan dan kemajuan SAE. Nababan.

Kemudian sosok SAE. Nababan sejak muda (mahasiswa doktoral/S3 di Jerman), sudah aktif membangun persahabatan pemikiran inteletual dan pergaulan akademik keilmuan. Pergerakan membangun tersebut bersama dengan berbagai elemen dan komunitas yang tumbuh dalam lingkungan atmosfir tersebut di atas. Juga telah aktif membangkitkan dan melanjutkan pertumbuhan profetik teologis, perkembangan kesadaran ideologis, dan pergerakan oikumene, nasionalisme, sosialisme, dan humanisme. Pergerakan tersebut pada gilirannya, hidup berkembang dan tumbuh subur menjadi watak dan wajah spritualitas pemikiran, pelayanan, dan pergerakan dalam kepribadian dan kepemimpinan SAE. Nababan.

Penulis mendengar dan mengetahui informasi dan publikasi perspektif tersebut di atas dari Alm. Ephorus (Emiritus) BNKP Pdt. B. Christian Hulu, dalam beberapa kali pertemuan dan diskusi. Pdt. B. Christian Hulu bersahabat dekat dengan SAE. Nababan, sejak sama-sama kuliah menempuh dan melanjutkan studi theologia di Jerman. Pdt. B. Christian Hulu dalam beberapa kali bertemu dan berdiskusi dengan Penulis, menyampaikan dan menguraikan mengenai pertumbuhan karakter kuat dan perkembangan kepribadian kukuh dari sosok SAE. Nababan. Karakter kepribadian tersebut menyertai dan mewarnai kualitas kepribadian dan kepemimpinan seorang filsuf dan pemikir terkenal , aktifis, pemimpin dan penggerak terdepan, dan teolog terkemuka, yaitu: SAE. Nababan.

Pemikiran, pelayanan, dan pergerakan oikumene, nasionalisme, sosialisme, dan humanisme, mewarnai dan memaknai dinamika dan dialektika perjuangan SAE. Nababan. Dinamika dan dialektika tersebut, pada dasarnya terbingkai dan terbungkus dalam sebuah rangkaian utuh tarikan nafas panjang berkesinambungan. Kesuburan pertumbuhan dan perkembangan perjuangan pemikiran tersebut, mengemuka dan semakin melembaga, sejak sebelum SAE. Nababan menyelesaikan studi pendidikan doktoral di Jerman, benua Eropa. Kemudian dinamika dan dialektika tersebut berlanjut setelah lulus merampungkan studi.

Ada sejumlah ruang, kesempatan, dan dimensi yang mewarnai dinamika dan memaknai dialektika yang tumbuh. Ada dimensi nuansa panggilan hati dan sentuhan nurani ; ada dimensi kedalaman teologis, keluasan sosiologis, dan kesadaran ideologis, ada dimensi bobot pemikiran kritis dan pergaulan dinamis dialektis, ada dimensi pengalaman empirik dan pematangan konkrit, ada dimensi kemauan inisiatif maksimal dan keterlibatan aktif optimum. Sejumlah ruang, kesempatan, dan dimensi tersebut di atas, mewujud dan mengemuka dalam berbagai medan aksi pemikiran, pelayanan, dan pergerakan SAE. Nababan.

Ada benang penyambung, pengikat, penguat, dan penggerak yang utuh dan kuat terhadap sistem nilai kaderisasi kepribadian dan kepemimpinan. Keberadaan dan kemanfaatan sistem nilai tersebut, yang pada gilirannya melahirkan dan menumbuhkan kualitas, integritas, kredibilitas, kapasitas, dan profesionalitas kepribadian dan kepemimpinan. Cakrawala dan suasana kebatinan tersebut, pada dasarnya menyertai, mewarnai, mengitari, melekati, dan memengaruhi spritualitas pemikiran, pelayanan, dan pergerakan SAE. Nababan. Perspektif materi muatan tersebut menjadi inti kandungan dari percik-percik yang substantif. Kemudian pada akhirnya mewarnai, memengaruhi, dan memaknai kualitas kinerja dan kepemimpinan SAE. Nababan.

Sesungguhnya sosok SAE. Nababan, tidak sekadar hanya merupakan panutan di kalangan eksternal keluarga saja. Namun juga menjadi simbol penuntun dan pengarah keteladanan atas sejumlah perihal kebaikan dan kebajikan di dalam lingkaran internal keluarga besarnya. Penulis relatif sudah mengenal lama dan bersahabat baik dengan putra sulung dari SAE. Nababan, yaitu Hotasi Nababan. Juga bersama dengan adik-adik SAE. Nababan, antara lain: Panda Nababan, alm. Asmara Nababan, Edith Dumasi Nababan, dan Indra Nababan.

Figur Panda Nababan adalah seorang wartawan senior dan jurnalis investigator terkemuka dan kawakan serta pemimpin media massa. Panda Nababan bersama penulis, pernah sama-sama menjadi Anggota Komisi Politik dan Hukum DPR-RI dan sejumlah Pansus DPR-RI. Juga pernah sama-sama menjadi Ketua DPP PDI Perjuangan sebagai kader dan anak buah di bawah kepemimpinan Ketua Umum PDI Perjuangan Hj. Megawati Soekarnoputri (Presiden Kelima RI). Figur Asmara Nababan adalah seorang aktivis lurus, jujur, tulus, pejuang teguh, konsisten, kredibel yang berjuang dalam dunia pergerakan civil society, pejuang demokrasi, HAM, dan kemanusiaan, tokoh penggerak dan pemimpin NGO/Ornop/LSM, juga Komisioner dan Sekjen Komnas HAM-RI. Asmara Nababan sering bertemu dan berdiskusi serta pernah bekerjasama dengan penulis dalam hal bidang kegiatan yang berkaitan dengan hukum, legislasi/regulasi, demokrasi, HAM, kemanusiaan, dan keamanan.

Figur Edith Dumasi Nababan adalah seorang hakim karir yang lama bertugas di lingkungan Badan Peradilan, terakhir mengabdi sebagai Hakim Agung RI di Mahkamah Agung RI. Penulis mengenal dan mengetahui Edith Dumasi Nababan sejak saat Penulis dan bersama dengan para Anggota DPR-RI sebagai Anggota Komisi Politik dan Hukum, melakukan agenda persidangan konstitusional  fit and proper test terhadap Edith Dumasi Nababan dan beberapa Calon Hakim Agung RI lainnya. Edith Dumasi Nababan mengikuti fit and proper test, dan selanjutnya dinyatakan lulus dan terpilih menjadi Hakim Agung RI, yang saat itu satu angkatan sebagai calon Hakim Agung dan terpilih menjadi Hakim Agung RI bersama dengan, antara lain: Bagir Manan, Muladi, Artidjo Alkostar, Abdulrahman Saleh, Abdul Kadir Mappong, Muhammad Laica Marzuki, Benjamin Mangkoedilaga, Valerine J.L. Kriekhoff, dan lain-lain.

Figur Indra Nababan adalah seorang aktifis, penggerak, dan pemimpin NGO/Ornop/LSM. Penulis pernah bahkan sering dan selalu mendengar dan mengetahui dari kawan-kawan aktifis dan pemimpin pergerakan mahasiswa serta pergerakan civil society, bahwa Indra Nababan, Asmara Nababan, dan Panda Nababan, menjadi dan merupakan figur yang saat itu senantiasa mendukung secara moral dan material perjuangan aktifis mahasiswa dan pergerakan civil society. Penulis mendengar dan mengetahui hal tersebut di atas karena penulis atau ketika sedang menjadi Ketua Senat Mahasiswa (semacam Presiden BEM). Dan juga ketika Penulis tengah menjadi salah seorang Ketua Presidium Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY). FKMY adalah sebuah elemen dan komunitas pergerakan mahasiswa tahun 1980-an, yang mengorganisasikan, menyelenggarakan, dan melakukan pendampingan, pembelaan, penguatan rakyat, dalam berbagai bentuk, wujud, dan jenis pergerakan dan perjuangan yang demokratik konstitusional.

Tema-tema utama atau pokok-pokok tematik yang menjadi materi tugas panggilan persekutuan dan pelayanan SAE. Nababan. Kemudian konten pergumulan dan pergulatan pemikiran dan pergerakan SAE. Nababan, pada dasarnya memiliki kesamaan frekuensi getaran dan suasana kebatinan dengan Adik-Adiknya tersebut di atas. Pada dasarnya dan senantiasa berintikan dan bersentuhan dengan agenda dan issue tematik, yaitu: keadilan, kesetaraan, perdamaian, demokrasi, HAM, kemanusiaan, lingkungan hidup. Juga agenda dan aksi pelayanan dan pergerakan untuk melakukan pendampingan, pembelaan, dan penguatan terhadap rakyat.

Lagi pula, rata-rata dan relatif sama-sama memiliki hati nurani, sikap, pemikiran, dan pendirian berkategori “fighter” dan “progresif” yang tegak lurus. Sama sekali tidak berdiam diri dan tidak bertenang diri ketika melihat, mendengar, mengetahui, menyaksikan, mengalami, dan merasakan hal-hal yang bertentangan dan berlawanan dengan yang prinsipil kebajikan dan keadaban. Selalu “bergerak, berbunyi, dan bersuara” demi untuk keadilan dan kebenaran. Juga berwatak nasionalis, sosialis, dan humanis. Perihal tersebut, bisa jadi karena disebabkan oleh bobot personalitas masing-masing Adiknya. Juga bisa jadi karena disebabkan oleh daya dan efek pengaruh dari keteladanan sosok yang relatif paripurna dari seorang Sang Abang : SAE. Nababan.

Bobot dari sosok SAE. Nababan memiliki keunikan khusus dan tersendiri dibanding dengan sejumlah teolog dan pemimpin pelayanan dan pergerakan oikumene lainnya. Ada sejumlah teolog terkemuka dan terkenal. Malahan di antaranya ada yang merupakan senior dan sesepuh pada masanya sebagai penuntun dan pengarah pelayanan dan pergerakan oikumene. Ada juga yang sempat dan pernah menjadi pemimpin lembaga-lembaga pelayanan dan pergerakan oikumene. Ada teolog yang juga merupakan akademisi, intelektual, cendekiawan, sastrawan, budayawan. Ada juga yang sekaligus menjadi aktifis, penggiat, penggerak, dan pemimpin gerakan civil society atau masyarakat sipil.

Watak spritualitas kepribadian dan kepemimpinan para senior dan sesepuh tersebut, rata-rata berwarna nasionalisme, sosialisme, dan humanisme. Juga memiliki kesetiaan dan ketaatan membangun dan merawat dialog, kerjasama, persahabatan sejati dan persaudaraan abadi berbasis pada sikap dan sifat inklusi, moderasi, dan toleransi yang berperikemanusiaan serta berkebudayaan luhur dan mulia. Ada misalnya, antara lain: Alm. J.L. Ch. Abineno, Alm. P.D. Latuihamallo, Alm. G.H.M. Siahaan, Alm. W.A. Roeroe, Alm. Sularso Sopater, Alm. Eka Darmaputera, Alm. Marianne Katoppo, Alm. Th. Sumartana, dan A.A. Yewangoe beserta Henriette Lebang, dan lain-lain.

Salah satu di antara senior dan sesepuh tersebut di atas adalah sosok SAE. Nababan, yang keberadaannya mungkin relatif “paripurna”. SAE. Nababan adalah seorang teolog terkemuka, terkenal, dan mendunia dalam ranah pelayanan dan pergerakan oikumene regional dan internasional, seorang filsuf dan pemikir kegerejaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan, seorang intelektual dan cendekiawan yang kredibel, seorang konseptor, administrator, dan organisator yang menejerial, profesional, taktis, dan strategis, seorang penulis, pembicara, dan orator yang handal, bernas, berbobot, ulung, dan kawakan ; seorang aktifis, pejuang, dan pemimpin pergerakan keadilan, kesetaraan, perdamaian, demokrasi, HAM, kemanusiaan, dan lingkungan hidup.

Tugas panggilan pelayanan kepemimpinan SAE. Nababan, antara lain: pernah menjadi Sekretaris Umum MPH PGI,  Ketua Umum MPH PGI, Ephorus HKBP, Sekretaris Pemuda Dewan Gereja-gereja Asia, salah seorang Presiden Dewan Gereja-gereja Asia, Anggota Komite Eksekutif Federasi Lutheran Se-Dunia, Wakil Presiden Federasi Lutheran Se-Dunia, Wakil Ketua Komite Sentral Dewan Gereja-gereja Se-Dunia,  salah seorang Presiden Dewan Gereja-gereja Se-Dunia, anggota, aktifis, kader, pengurus GMKI pada masanya. Dan masih banyak lagi medan pelayanan dan dunia pergerakan lainnya, yang pada dasarnya menorehkan posisi berpengaruh dan peran menentukan dari SAE. Nababan.

Perspektif amanah kegiatan dan tugas panggilan pelayanan tersebut, semakin meneguhkan keunikan khusus dan kepribadian berbobot. Juga tambah mengukuhkan status personalitas SAE. Nababan, sungguh-sungguh memiliki kualitas dan kapasitas kepemimpinan bertaraf kawasan regional dan berkelas dunia internasional yang telah teruji dan sudah terkonfirmasi. Namun SAE. Nababan, selalu setia dan dengan taat tetap memelihara dan membawa karakter kepemimpinan yang berakar lokal dan berbasis domestik. Perihal tersebut tentu dengan segala kearifan yang bijak dan bersahaja, serta dengan segala kekuataan moral dan kewibawaan kultural yang dimiliki SAE. Nababan. Kemudian dipraxiskan secara utuh dan berkelanjutan, dengan metode refleksi-aksi-refleksi-aksi-refleksi-aksi, dan seterusnya.

Meskipun SAE. Nababan juga menghadapi pergumulan hati dan pemikiran kriti, serta mengalami pergulatan batin dan pertimbangan serius mengenai kaderisasi dan regenerasi. Namun SAE. Nababan, senantiasa memberikan perhatian dan kepedulian khusus dan terutama terhadap kebangkitan dan kemajuan kalangan remaja, mahasiswa, dan pemuda. Penulis bersama dengan SAE. Nababan, pernah diundang sama-sama menjadi Pembicara dalam sebuah Seminar Nasional dan Dialog Kebangsaan, di Pekanbaru Riau, akhir tahun 1990-an.

Salah satu pokok pembahasan tematik adalah mengenai kemahasiswaan dan kepemudaan dalam kerangka Keindonesiaan. Pokok-pokok pemikiran SAE. Nababan, dan juga dinamika diskusi-dialog saat itu, menempatkan pembangunan kualitas manusia dan penguatan sumber daya kemahasiswaan dan kepemudaan, menjadi agenda dan issue penting, strategis, dan menentukan. Ada dukungan terarah dan terfokus dari SAE. Nababan terhadap remaja, mahasiswa, dan pemuda untuk bangkit dan maju. Perspektif tersebut mengindikasikan dan memastikan bahwa angkatan dan generasi tersebut memiliki posisi dan peran membangun Indonesia Maju untuk masa kini dan masa depan.

Jauh sebelum kegiatan seminar dan dialog tersebut di atas, penulis sudah dan sering berjumpa, bertemu, dan berdiskusi dalam sejumlah skala, konteks, dan kerangka, bersama dengan SAE. Nababan. Demikian juga, setelah kegiatan tersebut di atas, beberapa kali ada kesempatan perjumpaan, kegiatan pertemuan, dialog dan diskusi bersama dengan SAE. Nababan. Tentu dalam kapasitas profesi dan atribusi masing-masing. Keseluruhan dan rata-rata bangunan dan materi perjumpaan dialogis dan pertemuan diskusi, pada dasarnya menunjukkan dan memetakan bobot kapasitas dan kualitas kepribadian dan kepemimpinan SAE. Nababan. Spritualitas pemikiran, pergaulan, pelayanan, pergerakan, dan perjuangannya berakar kuat dan bertumbuh subur pada watak nasionalisme, sosialisme, dan humanisme.

Sosok kepemimpinan SAE. Nababan pernah berseberangan dan berlawanan keras secara diametral dengan Presiden RI Soeharto pada suatu saat. Terutama dalam hal memposisikan Pancasila dalam kerangka sistem kemasyarakatan, keumatan, kelembagaan, keormasan. Namun SAE. Nababan sesungguhnya dan sejatinya adalah seorang Pancasilais. SAE. Nababan, membumikan dan mempraxiskan nilai-nilai Pancasila melalui kerja-kerja kepribadian dan kinerja kepemimpinan. Apabila ditelusuri dan dikritisi mengenai watak nasionalisme, sosialisme, dan humanisme SAE. Nababan, maka watak tersebut sesungguhnya dan sejatinya bersumber dan berasal dari keseluruhan sistem Nilai dari Sila-Sila Pancasila. Kepribadian dan kepemimpinan SAE. Nababan, juga sekaligus merefleksikan dan mengukuhkan pembumian Sila-Sila Pancasila secara utuh dan lengkap dengan saling menguati dan memaknai.

Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus senantiasa dipertahankan dan diperkuat dalam kerangka dan ranah konstitusi UUD Tahun 1945 yang berkeadilan, berkemakmuran, dan berkesejahteraan. Juga dengan tetap berbasis pada kualitas keutuhan wilayah, kedaulatan bangsa, integrasi nasional. Tentu dengan etos Bhinneka Tunggal Ika (kebhinnekaan, keragaman, kemajemukan, multikulturalisme). Juga dengan semangat partisipatoris dan emansipatoris. Posisi dan orientasi sikap, pendirian, pemikiran, pergaulan, pelayanan, pergerakan, dan perjuangan kepemimpinan SAE. Nababan, pada hakekatnya secara simbolik dan konkrit melambangkan dan memancarkan sejumlah pesan kuat, tegas, dan jelas terhadap kalangan internal, dan eksternal.

Sosok SAE. Nababan amat serius berkemauan kuat dan bertekad bulat untuk berdiri dan berjalan tegak lurus dalam rangka menjaga, mengawal, dan merawat keluhuran dan kemuliaan Pancasila. Kemudian dalam menyelenggarakan, membumikan, dan mempraxiskan kebajikan dan kebaikan Pancasila. Juga dalam menempatkan dan memposisikan Pancasila sebagai falsafah, dasar, dan ideologi bersama yang memperjumpakan, mempertemukan, mempersatukan semua dan berbagai elemen, komunitas, dan lintas yang multi, beraneka ragam, dan majemuk. Posisi dan orientasi SAE. Nababan sebagai pemimpin institusi kelembagaan, dapat difahami dalam kerangka pemahaman bahwa SAE. Nababan, bermaksud dan bertujuan strategis, visioner, luhur, dan mulia.

Pada dasarnya SAE. Nababan, bermaksud dan bertujuan untuk membangun check and balances. Selanjutnya bermaksud dan bertujuan untuk menjaga jarak terukur dengan “Negara” dan juga terhadap kepemimpinan nasional Presiden Soeharto saat itu. Terutama terhadap sistem dan kepemimpinan yang diskriminatif, intimidatif, koruptif, dan otoritatian. Selanjutnya bermaksud dan bertujuan untuk memperkuat masyarakat dan institusi kelembagasn kemasyarakatan serta memperluas relasi jejaring dan kerjasama konsolidasi dan aksi yang berarti dan berefek serius.

Perihal tersebut di atas adalah dalam kerangka membangun, menumbuhkan, dan menegakkan Nilai-Nilai keadilan, kesetaraan, perdamaian, demokrasi, HAM, kemanusiaan, dan lingkungan hidup. Sesungguhnya, titik kritis dan simpul korektif dari SAE. Nababan ketika berseberangan dan berlawanan dengan Presiden Soeharto adalah penolakan dan perlawanan SAE. Nababan terhadap sejumlah perihal negatif yang menegasikan, merugikan, membahayakan, merusak, dan menghancurkan Nilai-Nilai tersebut di atas dan terhadap hakekat kemanusiaan, keutuhan ciptaan, dan keadaban.

Sosok SAE. Nababan menerjemahkan dan membumikan watak spritualitas pemikiran, pelayanan, dan pergerakan kepribadian dan kepemimpinan, secara bermakna dan berarti. Watak nasionalisme, sosialisme, dan humanisme, pada gilirannya melahirkan, membangunkan, dan menggelorakan sikap etik berkehidupan pelayanan dan pergerakan yang bernilai positif dan strategis. Intinya adalah bernilai prinsip-prinsip inklusi, moderasi, toleransi. Juga egaliter dan solider. SAE. Nababan mendayagunakan, mengorganisasikan, dan menggerakkan keseluruhan potensi kemampuan dan kekuatan bagi berlangsungnya berbagai diskursus kegiatan kemanusiaan dan keadaban antar berbagai elemen, komunitas, dan lintas. Diskursus berlangsung dan bertumbuh untuk membangun keutuhan dan kebersamaan dalam kepelbagaian dan kemajemukan.

Diskursus tersebut melahirkan dan menghasilkan bangunan berkehidupan yang inklusif, moderat, dan toleran. Ada relasi antara kebermaknaan nasionalisme, sosialime, dan humanisme ; dengan pertumbuhan dan penguatan situasi dan kondisi kebermasyarakatan, keberagamaan, dan keberbangsaan yang dialogis, egaliter, solider, inklusif, moderat, toleran dalam atmosfir kedaulatan Indonesia Raya dan “Merah Putih”. Relasi tersebut berfungsi untuk saling mengerti, memahami, mengakui, menghormati. Bahkan untuk saling menerima, melengkapi, dan memaknai kualitas perikehidupan dan perikemanusiaan dalam masyarakat, bangsa, dan negara-negara di tengah-tengah dunia yang amat multi, beraneka ragam, plural, majemuk, dan sangat dinamis, kompleks, dan kompetitif.

Ada penglihatan dan pendengaran kalangan publik secara umum dan pengetahuan kalangan terbatas termasuk Penulis terhadap SAE. Nababan. Perihal ini, pada dasarnya meletakkan posisi doktrin dan warna karakter pemikiran teologis dan ideologis SAE. Nababan, tidak “datar normatif abstrak abu-abu” dan tidak “netral”. Pemikiran dan pergerakan SAE. Nababan, pada dasarnya terarah, terfokus, dan “berpihak”. Ada diskursus “keberpihakan dan pemihakan” terhadap: pertahanan, pembumian, dan pembangunan Nilai-Nilai keadilan, kesetaraan, kebenaran, kemerdekaan, kebebasan, perdamaian, demokrasi, HAM, kemanusiaan, lingkungan hidup.

Ada juga diskursus keberpihakan dan pemihakan terhadap ide, gagasan, aspirasi, konsolidasi, dan aksi bagi pertumbuhan dan penataan prinsip dan sikap dasar berkehidupan kepemimpinan, kelembagaan, dan kebangsaan yang berdaulat, mandiri, kuat, otonom, dan independen. Kemudian ada diskursus keberpihakan dan pemihakan terhadap pertumbuhan dan pengembangan penguatan solidaritas, kualitas kapasitas keumatan, kemasyarakatan, keorganisasian, kelembagaan, dan terhadap perikeadilan, perikemanusiaan, perikeutuhan ciptaan, perikehidupan yang berbasis inklusi, moderasi, dan toleransi.

Ketika ada nuansa dan getaran dinamika dan dialektika dalam keorganisasian dan kelembagaan kepemimpinan sosok SAE. Nababan, maka pada gilirannya mesti diletakkan, difahami, dan dimaknai secara utuh, jernih, dan obyektif. Intinya adalah mesti diletakkan, difahami, dan dimaknai dalam kerangka diskursus tersebut tadi di atas. Nuansanya dan getarannya kadang kala dan mungkin tidak jarang melahirkan dan mengakibatkan berbagai aneka jenis dan macam hal yang muncul. Ada keberhasilan, kematangan, ketenangan, kenyamanan, kelebihan, keuntungan.

Juga ada kekurangan, kerugian, kerisauan, keresahan, keriuhan, dan kegaduhan. Namun pesan penting dan kuat dari substansi utama, besar, dan panjang dari diskursus tersebut, pada dasarnya bernilai dan berkelas baik dan bajik secara otentik. Barangkali pendekatan, pola, metode, dan cara yang lebih beraneka ragam dan variatif, dapat berperan efektif untuk membantu mengurangi dan mengatasi sisi-sisi lain yang negatif akibat dari diskursus dan juga akibat dari keberpihakan dan pemihakan tersebut.

Keluasan, kedalaman, dan kematangan kepribadian dan kepemimpinan SAE. Nababan, telah menginisiasi, mengajaki, mengisi, bahkan berhasil “mengagitasi dan memprovokasi” secara positif, efektif, dan produktif bagi keadaban dan kemajuan masyarakat, bangsa, negara, dan dunia kawasan regional dan internasional. Juga bagi menumbuhnya dan merebaknya diskursus umum dan besar di tataran doktrin, ide, gagasan, refleksi, konsolidasi, dan aksi. SAE. Nababan menjadi salah seorang sosok teolog, pemikir, pemimpin, penggerak, pejuang di Indonesia dalam berbagai agenda penanaman dan penumbuhan kualitas pemikiran, pelayanan, dan pergerakan oikumene, nasionalisme, sosialisme, dan humanisme. SAE. Nababan bergaul, bersahabat, bekerjasama dengan berbagai kalangan, elemen, komunitas, lintas, jaringan domestik lokal dan nasional serta kawasan regional dan internasional.

Pergaulan, persahabatan, dan kerjasama tersebut tidak datang hadir dengan sendirinya, dan juga tidak berdiri sendiri. Ada titik-titik dan simpul-simpul doktrinal yang secara ideologisasi berjumpa dan diperjumpakan, bertemu dan dipertemukan, berdialog, bekerja, bergerak di atmosfir dan cakrawala Negara Pancasila. Atmosfir dan cakrawala tersebut dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berfalsafah dan berideologi Pancasila berdasarkan konstitusi UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kemudian Negara Pancasila yang berdaulat, kuat, luas, besar, adil, demokratis, damai, makmur, sejahtera di tengah-tengah masyarakat dan bangsa yang berbhinneka tunggal ika. Lagi pula yang yang inklusif, moderat, toleran, egaliter, dan solidet. Sosok SAE. Nababan membangun pergaulan dan persahabatan yang terbuka dan terarah dengan berbagai lintas, tingkatan, dan ruang, dengan saling melengkapi dan menguati.

Inilah anatomi dan konfigurasi dari watak nasionalisme, sosialisme, dan humanisme yang menyinari dan menerangi spritualitas SAE. Nababan. Seorang pemikir, pelayan, pemimpin, dan penggerak yang memiliki amat banyak kelebihan, kekuatan, kemampuan, kematangan, kebaikan, kebajikan, dan keadaban. Tentu sebagai manusia biasa, juga tidak terlepas dari kekurangan, kelemahan, kesalahan, dan kekhilafan. Sosok SAE. Nababan, telah wafat dipanggil dan kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pada hari Sabtu, 8 Mei 2021, dalam usia 88 tahun, di Jakarta. Disemayamkan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, di Graha Oikumene PGI, Jakarta, dan di rumah kediaman SAE. Nababan, di Jakarta. Diberangkatkan ke Sumut, untuk selanjutnya dimakamkan, pada hari Selasa, tanggal 11 Mei 2021.

Ada sejumlah pelayat yang datang menghadiri Upacara Penghormatan dan Ibadah Pelepasan SAE. Nababan, yang diselenggarakan di Graha Oikumene. Dihadiri atau diikuti juga secara online virtual oleh Pimpinan dan jajaran Presiden (Presidium) beserta Sekretaris Jenderal (Eksekuif) Dewan Gereja-gereja Asia ; Pimpinan dan jajaran Presiden (Presidium) besera Sekretaris Jenderal (Eksekutif) Dewan Gereja-gereja Se-Dunia. Penulis secara khusus datang menghadiri dan termasuk salah seorang di antara para pelayat yang mengikuti Upacara Penghormatan dan Ibadah Pelepasan SAE. Nababan di Graha Oikumene. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi dan memberkati Ibu Alida Lientje Lumbantobing dan Keluarga Besar yang ditinggalkan. Juga Diberi Penguatan, Penghiburan, dan Pengharapan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selamat Jalan Ompui. Rest In Peace. Amin.

*Ketua Dewan Pembina Puspolkam Indonesia

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Upaya Menegasi Esensi Reformasi 1998

Published

on

By

Oleh: Dr. Usmar. SE.,MM

Channel9.id – Jakarta. Dinamika wacana tentang jabatan Presiden tiga periode sebenarnya sudah digulirkan dalam wacana publik sejak Satu setengah tahun yang lalu.

Bahkan saat perayaan HUT Ke-8 NasDem di JI. Internasional Jatim, Surabaya, Sabtu, 23 November 2019, dalam sambutannya Ketua Umum Partai Nasdem, mengatakan bahwa opini ini sebuah diskursus, “Kita harus bisa melihat ini sebagai sesuatu hal yang wajar sekali,”.

Selanjutnya pada hari lalu Sabtu 19 Juni 2021, sekelompok relawan dengan kemasan acara Syukuran Sekretariat Jokpro, yang dapat dibaca sebagai titik awal resmi mendeklarasikan Komunitas Jokowi-Prabowo 2024 atau Jokpro 2024.

Adapun program utama dari Jokpro ini adalah melakukan upaya mendukung kembali Presiden Jokowi untuk kali ketiganya pada saat Kontestasi Politik Plpres 2024 yang akan datang untuk berpasangan dengan Prabowo Subianto.

Ketika isu tentang jabatan Presiden tiga periode masih sekedar wacana sebuah diskursus yang digulirkan, dalam konteks kebebasan beropini tentu tidak masalah.

Namun ketika wacana ini coba diwujudkan dengan berbagai upaya untuk merealisasinya dengan membentuk barisan relawan dan lain sebagainya, sudah masuk pada wilayah kebebasan berekspresi, tentu ini sudah menjadi gerakan politik.

Karena itu, sebagai bagian dari tanggung jawab sebagai anak bangsa Indonesia, yang ikut berperan aktif dalam gerakan reformasi 1998 yang terjadi 23 tahun lalu itu, merasa perlu secara moral dan nalar untuk ikut urun rembug meresponnya dalam konteks dan konsepsi kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan konstitusi kita yang berlaku sekarang ini.

Esensi Agenda Reformasi 1998

Peristiwa Reformasi 1998, sejatinya adalah sebuah upaya gerakan mahasiswa, pemuda dan masyarakat yang ingin melakukan perubahan untuk perbaikan kehidupan demokrasi di bidang sosial, politik, ekonomi dan lain sebagainya di Indonesia dengan cara mengoreksi kebijakan menyimpang dan otoriterian era rezim Orde Baru.

Memang ada beberapa agenda reformasi yang diperjuangkan saat itu, tetapi yang paling utama adalah melakukan pembatasan masa jabatan Presiden.

Karena saat itu masyarakat menilai bahwa dalam ukuran ideal, jabatan seorang Presiden hanya diperbolehkan maksimal dua Periode.

Masa Jabatan Presiden RI

Sebagai respon dari tuntutan perjuangan reformasi yang berhasil menumbangkan rezim orde baru, yang dibayar dengan air mata, darah dan nyawa mahasiswa, pemuda dan masyarakat, telah berhasil mewujudkan tuntutan itu secara konstitusional.

Berdasar TAP MPR Nomor XIII/MPR/1998 Tahun 1998 tentang Pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang diterbitkan pada 13 November 1998, telah mengatur tentang periodesasi jabatan Presiden.

Dan di UUD 1945 juga telah diatur dalam Pasal 7 bahwa Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali hanya untuk satu kali masa jabatan.

Jadi jelas sudah tak terbantahkan, bahwa konstitusi kita secara tersirat dan tersurat, telah mengatur tentang periode jabatan Presiden yang dibolehkan menurut konstitusi, adalah maksimal 2 periode.

Jadi siapapun Presidennya, tetap harus tunduk dengan ketentuan UUD 1945 ini, dimana saat dilantik oleh MPR, sudah berjanji sesuai pasal 9 UUD 1945, yang berbunyi :

“Saya berjanji dengan sungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsaakan memegang teguh UUD 1945”.

Dukungan Yang Menegasikan Esensi Reformasi 98

Berkembangnya wacana jabatan Presiden tiga periode yang didukung para petualang politik, sekali lagi sebagai bagian kebebasan berpikir itu harus di hormati.

Namun ketika sudah masuk pada tataran mewujudkan kebebasan berekspresi, maka itu perlu disikapi untuk tidak menjadi liar berdiri diluar konstitusi negara kita.

Kita bisa melihat, diantaranya adalah dalam acaranya syukuran sekretariat nasional Jokpro, pada jumat, 18 Juni 2021 lalu, yang agenda utamanya adalah mendukung Jokowi-Prabowo di Pilpres 2024 mendatang, membuktikan bahwa gerakan politik tersebut memang sedang berlangsung.

Ada 3 orang yang menginisiasi berdirinya relawan tersebut, yaitu Baron Danardono Wibowo sebagai ketua umum, Timothy Ivan sebagai Sekretaris Jenderal Jokpro 2024, dan direktur eksekutif Indo Barometer (IB) M Qodari sebagai penasihat.

Jika saja para politisi dan para relawan tersebut, dapat berpikir benar dan linear dengan perubahan dan perbaikan untuk bangsa dan negara tercinta ini, tentu tidak akan sepakat menerobos rambu-rambu konstitusi tersebut.

Atau mungkin saja, sebenarnya mereka tahu bahwa tuntutan yang mereka sedang Viralkan tersebut, sejatinya adalah upaya “Menegasikan esensi reformasi 98 tersebut”, namun semangat untuk eksis yang tidak pada tempatnya mereka tetap saja menyuarakan syahwat berkuasa itu.

Komersialisasi Jabatan Presiden

Upaya mendorong dan mewujudkan syahwat politik berkuasa dengan membangun narasi Jabatan Presiden 3 periode, tanpa mau menghormati esensi perjuangan gerakan reformasi 98, sejatinya adalah gerakan kaum oportunis yang sempurna dan memalukan.

Mengapa kita katakan gerakan kaum oportunis yang sempurna dan memalukan ?

Karena saat gerekan reformasi 98 mendorong batasan jabatan Presiden, adalah suatu keinginan mulia, yang berangkat dari semangat ingin membangun suasana yang lebih demokratis di Indonesia dalam konteks sirkulasi pergantian pimpinan khususnya Kepemimpinan Nasional yang smooth dan alami.

Jadi dengan ketentuan adanya pembatasan jabatan Predien yang berhasil diperjuangan itu, bahwa sebaik apapun anda memerintah tetap harus ada periodesasi yang membatasinya.

Dengan semangat yang luar biasa untuk menerobos rambu-rambu konstitusi, ini dapat kita maknai bahwa persoalan ikut kontestasi politik Pilpres, adalah semata soal peluang kapitalisasi sumber daya yang dimiliki bangsa dan negara ini.

Dan jika benar itu yang jadi para meternya, maka ini menjadi kewajiban kolektif anak bangsa untuk menolaknya. Karena sinyalemen pemikir politik Lord Acton, bahwa power tends to corrupt, adalah suatu kenyataan.

Memang secara teori, bahwa politik adalah seni kemungkinan. Sehingga berbagai kemungkinan dapat saja terjadi, jika memang syahwat politik semata yang mendasari pemikiran para elit politik kita.

Kita masih ingat ketika isue ini bergulir dan sampai ke Presiden, dan dengan tegas Presiden Jokowi menjawab, dengan menyatakan, “Saya adalah produk pemilihan langsung berdasarkan UUD 1945 pasca reformasi. Posisi saya jelas: tak setuju dengan usul masa jabatan Presiden tiga periode,”.

Dan menurut Presiden Jokowi, usulan dan wacana itu ada 3 makna, yaitu:
Satu ingin menampar muka saya. Yang kedua ingin cari muka, padahal saya sudah punya muka. Yang ketiga ingin menjerumuskan. Itu saja,”.

Maka Menilik kalimat yang digunakan Jokowi dalam merespon isue ini, lugas dan tegas, tentu cukup memukul rasa dan adab mereka yang mencoba menggulirkan wacana tiga periode tersebut.

Jadi jika kita menggunakan nalar rasional, menyimak jawaban Presiden itu, dengan pilihan kalimat yang relatif keras, sesungguhnya sudah cukup buat elit politik untuk lebih kreatif mencari isue baru, jika memang sengaja ingin “mendinamisir” perpolitikan di tanah air.

Saya tetap berpendapat bahwa kekuatan masyarakat itu, bukan pada kekuatan kontrol sosialnya, tapi lebih pada kemampuannya menjadikannya dirinya realitas.

Jadi dalam realitas masyarakat yang sedang berjuang mengatasi problema pandemi Covid-19 yang telah melemahkan berbagai sendi kehidupan sosial politik dan ekonomi masyarakat, janganlah para elit kegenitan membangun narasi yang sarat dengan syahwat politik semata.

Jika hal tersebut tetap dilakukan para elit politik, para petualang politik, tidak ada kata yang lebih keras untuk menolak itu. Selain kita mengatakan bahwa mereka itu adalah Penghianat bangsa.

Penulis adalah Ketua SMPT Univ.Moestopo 1993-1994/Inisiator Pendiri Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Se-Jakarta (FK-SMJ) dan Ketua LPM Universitas Moestopo (Beragama) Jakarta

Continue Reading

Opini

Neokolonisasi Jakarta Pesisir Bumi Nusantara

Published

on

By

Oleh: Indra Jaya Piliang*

Channel.id-Jakarta. Hari ini, Selasa, 22 Juni 2021, sejumlah penggiat berlatar beragam profesi bergabung bersama dalam organisasi Forum Budaya Jakarta Pesisir (For Baja Pesisir). Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol adalah lokasi deklarasi. Organisasi ini dipersiapkan dalam waktu singkat. Satu kali pertemuan. Tanpa saling tahu siapa saja yang datang pada Senin, 14 Juni 2021 lalu. Tepat seminggu.

Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang ke-494. Hari kekalahan pendudukan armada Portugis oleh pasukan Fatahillah.

Fatahillah adalah deputi dari Panglima Armada Gabungan Kesultanan Demak Pati Unus dalam perang mengusir Portugis di Malaka pada 1521. Dalam usia 25 tahun, pada 1513, Pati Unus memimpin ekspedisi Demak dalam membantu Sultan Mahmud Syah merebut kembali Malaka yang diduduki Portugis sejak 24 Agustus 1511.

Dalam ekspedisi pertama, Pati Unus gagal, namun berhasil kembali ke Demak. Kedua kalinya, Pati Unus tewas. Dipuja dengan nama Pangeran Sabrang Lor.

Fatahillah yang kalah di Malaka, diangkat Syarif Hidayatullah sebagai Panglima Armada Gabungan Demak. Butuh waktu lima tahun bagi Fatahillah menyusun, melatih, hingga memimpin armada Demak. Buah pengalaman tempur di laut bersama Pati Unus mengubah jalannya perang. Armada Portugis yang menduduki Sunda Kelapa dihancurkan. Sebagian kembali Malaka lewat ke Bintan, pangkalan militer yang direbut dari Mahmud Syah setahun sebelumnya.

Walau tanpa dokumen yang sahih tentang tanggal dan bulan, 22 Juni, terdapat kesepakatan sejarawan terkait tahun. 1527, Sunda Kelapa berganti nama menjadi Jayakarta. Hampir satu abad Jayakarta bertahan dalam kejayaan Kesultanan Demak. Belanda mengubah nama Jayakarta menjadi Stad Batavia pada 1621.

Kalah di Sunda Kelapa, tak membuat Portugis jera. Sunda Kelapa bukan hulu dari Jalur Rempah Nusantara, tetapi pelabuhan transit menuju Malaka, Goa (India), hingga Terusan Suez (Mesir), hingga bermuara di Eropa. Fransico Serrao, nahkoda kapal yang ikut menaklukkan Malaka bersama armada d’Alburquerque pada 1511, berlabuh di Ternate pada 1512.

Susul-menyusul, eskpedisi Portugis lain berdatangan. De Brito yang meneropong puncak Gunung Gamalama pada 1521, berhasil meraih kesepakatan dengan Ternate mendirikan Benteng Noestra Seiiora del Rosario di Gam Lamo. Dalam waktu setengah abad, kekayaan bumi Kepulauan Maluku berpindah ke kota-kota di Portugis. Maluku adalah hulu dari keseluruhan Jalur Rempah Nusantara yang bermuara pelabuhan-pelabuhan Eropa.

Sultan Baabullah mengakhiri era ‘blut en eisen’ (darah dan besi) armada Portugis pada 1575.

Rangkaian kisah dari wikipedia yang multi-sumber itu tentu terlalu singkat. Namun, mampu membantah sejumlah hoax besar dalam sejarah kolonialisme di Indonesia. Angka tiga setengah abad langsung patah, apabila diambil tahun kedatangan De Brito di Ternate. Bahkan, angka 370 tahun terpapar, apabila diambil waktu pembebasan kepulauan Maluku hampir secara menyeluruh oleh Sultan Baabullah pada 1575.

Area pesisir dari Kepulauan Indonesia tercabik-cabik kolonialisme multi-negara. Kolonialisme tidak berlangsung hingga ke pedalaman, terkecuali di sejumlah daerah. Belanda membangun dua buah benteng di kota pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Barat, yakni Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort van Der Capellen di Batusangkar lebih berbau penaklukan area pedalaman, ketimbang keseluruhan cerita kolonialisme lain yang menyasar pesisir.

Ketika membawa angka tiga setengah abad ke dalam ruang-ruang kelas pelajaran sejarah, anak-anak Indonesia tentu dihinggapi mentalitas sebagai bangsa inlander. Kekalahan demi kekalahan bakal terukir dalam jiwa. Bertumpuk menjadi penyakit kejiwaan yang berusia lebih lama ketimbang hantaman pandemi Covid-19.

Untuk itu diperlukan metodologi berbeda dengan tujuan menegakkan kepala anak-anak Indonesia. Penelusuran muara-muara sungai, area paling mudah bagi keberadaan pelabuhan-pelabuhan alam tempat armada kapal melempar sauh, adalah bagian dari arus balik itu. Kota-kota bandar yang terbentuk di pelabuhan itu menyimpan kekayaan dan kejayaan bumi nusantara, terutama keuanggulan, keberanian, dan kewaspadaan manusianya.

Kehadiran For Baja Pesisir menjadi tetes pemikiran kearah itu. Tetes yang menjadi riak dan gelombang yang membuka banyak lembaran lain. Selama berabad-abad, ilmuwan, ideolog, dan propagandis dari universitas-universitas di Eropa telah menanam ranjau-tanjau di area pesisir, pulau, dan laut bumi nusantara. Bukan berupa bahan peledak, tetapi mistisisme yang menjauhkan anak-anak bangsa Indonesia dari area yang menyimpan sejumlah keunggulan nenek moyang yang bangsa pelaut.

Teknologi perkapalan yang menjadi sabuk pengaman terdepan, ditutupi pedagogi hitam kolonial. Perempuan-perempuan perkasa seperti Ratu Kalinyamat dari Jepara, digantikan dengan hantu dan siluman yang tiap bulan purnama menyeret lelaki-lelaki perjaka ke kedalaman. Struktur, tekstur, dan arsitektur benteng-benteng kejayaan kolonial tak dipelajari, dibiarkan digerogoti air laut dan ditutupi sampah, akibat teror temurun semiotika : tempat jin buang anak.

Dalam struktur demografis, deklarator For Baja Pesisir mayoritas dihuni Generasi X. Kelompok yang termasuk paling rentan dalam berhadapan dengan virus Covid-19. Lapisan terbanyak berusia kepala lima, segelintir di bawah itu. Kelompok yang sempat belajar berenang secara otodidak, tatkala semakin banyak kanak-kanak kini yang tewas tenggelam di kubangan jalan berlubang.

Manjada Wajada!!!

*Deklarator For Baja Pesisir

 

Continue Reading

Opini

Pembentukan 121 CSIRT Untuk Mengatasi Ancaman Siber dan Memperkuat Ketahanan Siber Indonesia

Published

on

By

*Oleh: Rudi Andries

Channel.id-Jakarta. Cyberspace telah merevolusi cara hidup kita, mendisrupsi perekonomian global dan mebuat kemajuan penting dalam masyarakat. Namun keuntungan dari revolusi digital terancam oleh penggunaan cyberspace untuk tujuan tertentu.

Cyberspace adalah realitas atau alam baru yang terbentuk oleh medium internet yang menciptakan masyarakat baru sebagai warganya (netizen).

Aplikasi dalam dunia bisnis, pemerintahan, dan teknologi untuk analisis dan komputasi data sangat membantu peningkatan perekonomian suatu Negara.

Studi Frost & Sullivan dan Microsoft, Inc. mengungkapkan bahwa serangan siber merugikan ekonomi Indonesia sebesar US$34.2 milyar sehingga perlu diambil langkah konkrit agar keamanan informasi dapat terjaga, demi menjaga kredibilitas pemerintah pada era revolusi industri 4.0.

Skor Global Cyber Security Index (GCI) Indonesia oleh International Telecommunication Union (ITU), adalah 0,776 (base line 2018/2019). Target 2024 adalah 0,838.

Keamanan Informasi adalah Perlindungan data dan sistem informasi meliputi akses, penggunaan, pengungkapan, gangguan, modifikasi, atau perusakan. Keamanan Siber adalah terjaganya kerahasiaan, keutuhan, ketersediaan, nir- sangkal, otentisitas, akuntabilitas dan keandalan layanan siber.

Tiga dimensi pertahanan siber:

  1. Perlindungan. Setiap infrastruktur vital harus memenuhi standar keamanan siber tertentu;
  2. Pertahanan. Setiap serangan yang terjadi harus dihadapi dan ditangani untuk meminimalisasi kerugian; dan
  3. Pelumpuhan. Setiap pihak yang berpotensi atau melakukan serangan harus segera dilumpuhkan.

Penanganan Insiden Siber di Indonesia

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sudah memiliki skuad bernama CSIRT untuk menanganani insiden siber secara terkoordinasi dan terstruktur. Tugasnya meminimalisasi kerugian akibat dari pencurian informasi atau gangguan dari layanan; Menggunakan informasi yang didapat dalam penanganan insiden sebagai referensi perbaikan penanganan insiden; Mempersiapkan langkah hukum sebagai akibat dari insiden yang terjadi.

GULIH adalah Penanggulangan (Deteksi Secepat Mungkin, Diagnosa Seakurat Mungkin, Kendalikan Insiden Setepat Mungkin), dan Pemulihan (Cegah Insiden Selanjutnya, Pulihkan Layanan Terdampak, Kendalikan Dampak Seminimal Mungkin).

CSIRT Sektor Pemerintah (Gov-CSIRT Indonesia) dibentuk untuk kemandirian dan kesiapan menghadapi ancaman siber, berperan korsup kepada CSIRT Organisasi di Sektor Pemerintah dalam penanganan insiden siber. Para anggota CSIRT menangani insiden siber di instansi / wilayahnya dan hasilnya dilaporkan Gov-CSIRT.

Gov-CSIRT Indonesia memberikan layanan yang meliputi respon insiden dalam bentuk: triase insiden; koordinasi insiden; dan resolusi insiden. Disertai dengan aktivitas proaktif dalam bentuk: cyber security drill test; workshop atau bimbingan teknis; dan asistensi pembentukan CSIRT sektor pemerintah.

Strategi BSSN Dalam Menghadapi Ancaman Siber di Indonesia

Di tingkat teknis, melakukan penguatan keamanan dan ketahanan siber melalui ekstensifikasi CSIRT; Penguatan infrastruktur, SDM, dan regulasi keamanan siber; Penyelesaian dan Pencegahan kejahatan siber; dan peningkatan kerja sama internasional bidang siber. Di tingkat strategi ada National Security Operation Center (NSOC), tingkat taktis ada Security Operation Center (SOC).

Pada RPJMN 2020-2024, BSSN menjadi pengampu proyek Penguatan NSOC-SOC dan Pembentukan 121 CSIRT bersinergi dengan Polri, Kemhan/ TNI, dan BIN meliputi pembentukan Organisasi CSIRT pada sektor IIKN dan Pemerintah, peluasan cakupan area NSOC, peningkatan kompetensi SDM pengelola keamanan SPBE pada K/L/D, penguatan National Data Center, pembangunan Kapasitas National CSIRT dan perangkat Sistem Penanganan Perkara Tindak Pidana Secara Terpadu Berbasis Teknologi Informasi.

Pengaturan keamanan siber Indonesia masih memiliki keterbatasan dan kelemahan dalam melindungi infrastruktur siber. Ruang siber perlu ditempatkan menjadi wilayah pertahanan penting negara. RUU tentang Pertahanan dan Ketahanan Siber, RUU Perlindungan Data Pribadi perlu segera dituntaskan.

Dengan CSIRT Organisasi, keamanan siber sektor pemerintah khususnya program digitalisasi e-government dan digitalisasi pelayanan publik aman dan mampu memberikan kepuasan kepada para stakeholders. Sinergitas yang kuat antara Gov-CSIRT dan instansi pemerintah dari Pusat sampai pemerintah Daerah adalah kunci keberhasilan CSIRT Sektor Pemerintah. Kesemuanya itu akan sangat baik dengan menempatkan keamanan siber nasional dalam konteks pertahanan dan keamanan nasional dan disarankan pemerintah terus memodernisasi C4ISR system dan mengakuisisi satelit militer.

Pengamat Geo StrategicLembaga Pengkajian Strategis Indonesia (LAPEKSI)*

Continue Reading

HOT TOPIC