Oleh: Dr. (Cand) Yusuf Mars
Direktur Komunikasi Institut Media & Ruang Publik Indonesia (IMPRESI), Founder @PadasukaTV, Praktisi & Dosen Ilmu Komunikasi
Channel9.id, Jakarta – Ada sesuatu yang semakin mahal di ruang publik kita: kemampuan untuk berpikir jernih.
Setiap hari kita dibombardir informasi. Berita, video pendek, potongan pernyataan, tangkapan layar, pesan WhatsApp, hingga konten yang dibuat dengan kecerdasan buatan datang tanpa henti.
Informasi semakin melimpah. Tetapi kemampuan kita untuk memeriksa kebenarannya belum tentu ikut bertambah.
Di sinilah persoalan hoaks menjadi serius.
Masalahnya bukan hanya banyaknya berita bohong. Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat semakin sulit membedakan fakta, opini, manipulasi, dan kebohongan.
Sebuah informasi bisa dianggap benar hanya karena sudah berulang kali muncul di layar.
Padahal, viral bukan berarti valid. Banyak yang membagikan bukan berarti benar.
Ketika Perhatian Menjadi Komoditas
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep attention economy atau ekonomi perhatian.
Gagasan tersebut berakar pada pemikiran Herbert A. Simon dalam esainya Designing Organizations for an Information-Rich World (1971). Simon melihat sebuah paradoks: ketika informasi semakin melimpah, perhatian manusia justru semakin langka.
Lebih dari lima dekade kemudian, gagasan itu semakin relevan.
Platform digital bersaing mendapatkan perhatian kita. Konten yang mampu membuat orang berhenti, melihat, berkomentar dan membagikan memiliki nilai tinggi dalam ekosistem digital.
Masalahnya, konten yang paling menarik perhatian tidak selalu konten yang paling benar.
Konten yang mengejutkan, menakutkan atau memancing kemarahan justru sering lebih menarik.
Maka muncul paradoks:
Informasi yang paling cepat menyebar belum tentu informasi yang paling benar.
Hoaks dan Mesin Distribusi Digital
Data di Indonesia menunjukkan besarnya peran media sosial dalam penyebaran hoaks.
Survei Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) yang dikutip dalam kajian Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat 92,40 persen responden menyebut media sosial sebagai kanal penyebaran hoaks. Aplikasi percakapan disebut oleh 62,80 persen dan situs web 34,90 persen.
Artinya, media sosial bukan hanya tempat masyarakat menerima informasi. Ia juga menjadi mesin distribusi informasi yang sangat cepat.
Masalahnya, distribusi digital tidak selalu melalui proses verifikasi sebagaimana kerja jurnalistik profesional.
Informasi dapat dibuat siapa saja, dibagikan siapa saja, dan dalam hitungan menit menjangkau ribuan bahkan jutaan orang.
Pola komunikasi digital juga menunjukkan bahwa sebagian kecil pengguna dapat memproduksi konten, sementara jauh lebih banyak pengguna berperan menyebarkannya kembali.
Karena itu, persoalan hoaks bukan hanya tentang siapa yang membuat kebohongan.
Hoaks menjadi besar karena ada ekosistem yang membuatnya terus beredar.
Emosi Sering Lebih Cepat daripada Nalar
Mengapa hoaks mudah menyebar?
Salah satu jawabannya adalah emosi.
Penelitian Soroush Vosoughi, Deb Roy dan Sinan Aral terhadap 126.301 rangkaian rumor di Twitter dengan lebih dari 4,5 juta retweet menunjukkan bahwa karakteristik emosional berkaitan dengan penyebaran rumor.
Penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2021 itu menemukan bahwa rumor palsu dengan kandungan sentimen positif yang lebih tinggi memiliki masa hidup sekitar 37,58 persen lebih panjang dan jangkauan sekitar 61,44 persen lebih besar dalam kondisi analisis penelitian tersebut.
Temuan ini memberi pelajaran penting.
Kita sering membagikan informasi bukan semata karena informasi itu benar, tetapi karena informasi tersebut membuat kita marah, takut, terkejut atau merasa menjadi orang pertama yang mengetahuinya.
Dengan kata lain:
Emosi dapat bekerja lebih cepat daripada nalar.
Algoritma Memperkuat Keyakinan Kita
Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa manusia memiliki cara berpikir cepat dan otomatis serta cara berpikir yang lebih lambat dan reflektif.
Media sosial bekerja dalam lingkungan yang serba cepat.
Kita melihat judul.
Kita bereaksi.
Kita membagikan.
Semua dapat terjadi dalam hitungan detik.
Algoritma kemudian mempelajari apa yang kita klik, sukai, komentari dan tonton lebih lama.
Kita disuguhi lebih banyak konten serupa.
Di sinilah confirmation bias bekerja. Kita cenderung lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah dimiliki.
Jika berlangsung terus-menerus, terbentuk echo chamber atau ruang gema.
Kita semakin sering mendengar pandangan yang sama dan semakin jarang bertemu pandangan berbeda.
Akhirnya kita merasa semua orang berpikir seperti kita.
Padahal bisa jadi kita hanya berada dalam ruang informasi yang memantulkan keyakinan sendiri.
Dampaknya Bukan Hanya pada Informasi
Hoaks juga dapat memengaruhi kondisi psikologis.
Tentu tidak tepat mengatakan bahwa setiap orang yang membaca hoaks otomatis mengalami gangguan kesehatan mental. Namun sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara penggunaan media sosial yang bermasalah, paparan informasi menyesatkan, kecemasan dan tekanan psikologis.
Meta-analisis terhadap 209 studi dengan 252.337 peserta dari 28 negara menemukan hubungan antara penggunaan jejaring sosial yang bermasalah dan berbagai bentuk kecemasan.
Dalam konteks misinformasi kesehatan, sejumlah penelitian juga menemukan kaitan dengan ketakutan, kepanikan, ketidakpastian dan psychological distress.
Karena itu, informasi boleh palsu, tetapi emosi yang ditimbulkannya bisa nyata.
Kabar palsu tentang penculikan dapat membuat orang tua panik.
Informasi palsu tentang kerusuhan dapat membuat masyarakat takut.
Kabar palsu mengenai penyakit dapat membuat seseorang cemas.
Hoaks pada akhirnya bukan hanya persoalan informasi.
Ia juga menyangkut keamanan psikologis masyarakat.
Solusinya: Budaya Jeda
Melawan hoaks tidak cukup dengan mengatakan masyarakat harus lebih pintar.
Kita membutuhkan budaya jeda.
Sebelum menekan tombol share, tanyakan:
Benarkah?
Siapa sumbernya?
Kapan dibuat?
Apa konteksnya?
Apakah ada sumber kredibel lain yang mengonfirmasi?
Penelitian Gordon Pennycook, David Rand dan kolega menunjukkan bahwa ketika perhatian pengguna diarahkan kepada akurasi, kualitas informasi yang mereka bagikan meningkat.
Artinya, masalahnya kadang bukan kita tidak mampu membedakan benar dan salah.
Kita hanya terlalu cepat bereaksi.
Karena itu, masyarakat juga perlu dibekali prebunking: kemampuan mengenali pola manipulasi sebelum hoaks muncul.
Kita perlu membiasakan lateral reading: tidak hanya membaca satu sumber, tetapi mencari sumber pembanding.
Dan yang tak kalah penting, jangan memberi hadiah kepada hoaks.
Dalam ekonomi perhatian, engagement adalah mata uang.
Ketika kita marah terhadap sebuah hoaks lalu membagikannya untuk membantah, kita bisa saja ikut memperluas jangkauannya.
Algoritma mungkin tidak memahami bahwa kita sedang membenci konten tersebut. Yang terbaca adalah: konten itu mendapatkan perhatian.
Karena itu, untuk informasi yang tidak membutuhkan respons publik luas, terkadang cara terbaik melawan hoaks adalah memutus rantai penyebarannya.
Menjaga Nalar adalah Tanggung Jawab Bersama
Pada akhirnya, menjaga ruang publik bukan hanya tugas pemerintah, media atau platform digital.
Ini tanggung jawab kita semua.
Setiap kali menekan tombol share, kita sebenarnya sedang mengatakan kepada orang lain:
“Informasi ini layak kamu lihat.”
Karena itu, berbagi informasi bukan tindakan yang sepenuhnya netral.
Kita mungkin tidak bisa menghentikan seluruh hoaks. Teknologi akan semakin canggih. Kecerdasan buatan akan membuat produksi konten palsu semakin mudah. Algoritma akan semakin personal.
Tetapi ada satu hal yang masih berada dalam kendali manusia:
kemampuan untuk berhenti dan berpikir.
Berhenti sebelum marah.
Berhenti sebelum percaya.
Berhenti sebelum membagikan.
Dan bersedia mengatakan:
“Saya belum tahu.”
“Saya perlu memeriksa.”
“Mungkin saya salah.”
Itu bukan tanda kelemahan.
Justru itulah tanda bahwa nalar masih bekerja.
Sebab di tengah ekonomi perhatian, ketika hoaks dapat berlari lebih cepat daripada fakta, menjaga nalar bukan sekadar kemampuan bermedia sosial. Ia adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai warga.
Ruang publik yang sehat bukan ruang publik yang semua orangnya sepakat.
Ruang publik yang sehat adalah ruang publik tempat orang boleh berbeda pendapat, tetapi masih bersedia tunduk pada fakta.




