Connect with us

Ekbis

Merangkak Naik, Emas Antam Dibanderol Rp981.000

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami kenaikan pada pada perdagangan hari ini, Rabu (06/01).

Logam mulia Antam itu dibanderol Rp981.000 per gram atau naik Rp6.000 dari harga sebelumnya yaitu Rp975.000, pada Selasa (05/01).

Sementara itu, harga buy back atau beli kembali juga ikut terdongkrak naik Rp7.000 menjadi Rp873.000 per gram.

Baca juga: Stagnan, Emas Antam Dijual Rp975.000 

Berikut daftar harga emas Antam pada Rabu, 5 Januari 2021:

1 gram Rp 981.000

2 gram Rp 1.902.000

3 gram Rp 2.828.000

5 gram Rp 4.680.000

10 gram Rp 9.305.000

25 gram Rp 23.137.000

50 gram Rp 46.195.000

100 gram Rp 92.312.000

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekbis

IHSG Ambrol 1,06%, Sejumlah Saham Kena ARB

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah  sebesar 67,97 poin atau 1,06$ ke level 6.321,86 pada akhir perdagangan, Selasa (19/01).

Anjloknya Indeks dipicu oleh penurunan seluruh sektor saham, utamanya sektor pertambangan yang mencatat koreksi terdalam sekitar 3,36%. Kemudian, sektor konstruksi amblas 2,60%, industri dasar turun 2,04%, dan sektor manufaktur melemah 1,01%.

Selanjutnya, sektor keuangan melorot  0,79%, dan sektor pertanian melemah 0,71%, dan sektor aneka industri melemah 0,59%.

Baca juga: Perdagangan Sesi I Ditutup, IHSG Melemah 0,59% 

Adapun sektor infrastruktur turun 0,62%, sektor barang konsumsi terkoreksi 0,39%, sektor perdagangan dan jasa turun 0,31%.

Sejumlah saham kembali mengalami auto reject bawah (ARB). Saham pertambangan seperti BUMI, ANTM, dan TINS masing-masing turun 6,92 persen, 6,87 persen, 6,88 persen.

Saham-saham armasi seperti KAEF dan INAF sama-sama anjlok 6,92 persen, sedangkan saham IRRA ambrol 6,81 persen.

Sedangkan saham perbankan kelas menengah yang juga mengalami ARB yakni BJTM, BEKS, BBKP, AGRO, BMAS, MCOR, dan BRIS.

Continue Reading

Ekbis

Perdagangan Sesi I Ditutup, IHSG Melemah 0,59%

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir perdagangan sesi I, Selasa (19/01). Sejak pembukaan perdagangan, IHSG terus tertekan dan akhirnya ditutup melemah melemah 37,46 poin atau 0,59% ke 6.352,38.

Sektor pertambangan menjadi pendorong utama pelemahan IHSG, dengan turun hingga 2,83%. Disusul oleh sektor konstruksi turun 1,30%, sektor industri dasar melemah 1,28% dan sektor keuangan koreksi 0,83%.

Kemudian, sektor perdagangan dan jasa turun0,74%, sektor aneka industri dan sektor manufaktur yang masing-masing turun 0,67% dan 0,15%.

Baca juga: IHSG Ditutup Menguat 0,26 Persen, BBRI Diborong Asing 

Hanya tiga sektor lainnya berhasil menguat, yakni sektor barang konsumsi yang naik paling tinggi 0,86%. Selanjutnya, sektor infrastruktur yang menguat 0,84% dan sektor perkebunan terdongkrak 0,63%.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi top loser LQ 45, dengan turun paling dalam 6,87%. Disusul PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang anjlok 3,65% dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang melemah 3,63%.

PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) menjadi top gainer LQ 45 dengan kenaikan tertinggi yakni 5%. Kemudian PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang naik 4,33% dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) naik 3,63%.

Continue Reading

Ekbis

Bank Sentral Proyeksikan Pertumbuhan Kredit Kuartal I 2021 Meningkat

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) mengindikasikan penyaluran kredit baru akan meningkat pada triwulan I-2021, tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang sebesar 49,4 persen, meningkat dari 25,4 persen pada triwulan IV-2020. “Penyaluran kredit baru triwulan I-2021 diprakirakan didorong oleh kredit modal kerja, diikuti oleh kredit investasi, dan kredit konsumsi,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Selasa, 19 Januari 2020.

Adapun  pertumbuhan kredit pada triwulan IV-2020 diprakirakan masih terbatas, dipengaruhi oleh pertumbuhan kredit investasi. Erwin menjelaskan, standar penyaluran kredit pada triwulan I-2021 diprakirakan tidak seketat periode sebelumnya. Hal itu terindikasi dari Index Lending Standard (ILS) sebesar 0,4 persen, lebih rendah dibandingkan dengan 3,2 persen pada triwulan sebelumnya.

“Aspek kebijakan penyaluran yang diprakirakan tidak seketat triwulan sebelumnya antara lain plafon kredit dan jangka waktu kredit,” kata Erwin.

Hasil survei mengindikasikan responden tetap optimistis terhadap pertumbuhan kredit untuk keseluruhan tahun 2021. Responden memprakirakan pertumbuhan kredit pada 2021 sebesar 7,3 persen (yoy). Optimisme tersebut antara lain didorong oleh kondisi moneter dan ekonomi, serta relatif terjaganya risiko penyaluran kredit, kata Erwin.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC