Channel9.id, Jakarta. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pemanfaatan compressed natural gas (CNG) sebagai pengganti LPG 3 kilogram (kg) mulai diimplementasikan pada tahun ini.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyampaikan bahwa pihaknya sedang menyiapkan produksi tabung untuk menampung CNG. “Tahun ini masyarakat sudah bisa mulai menggunakannya,” ujar Laode saat ditemui di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa pemerintah akan menerapkan penggunaan CNG di sektor rumah tangga secara bertahap. Pada tahap awal, pemerintah akan memprioritaskan kota-kota besar di Pulau Jawa sebagai wilayah percontohan sebelum memperluas implementasi ke daerah lain. “Kami mulai dari kota-kota besar di Jawa terlebih dahulu,” katanya.
Laode juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu memodifikasi kompor rumah tangga untuk menggunakan CNG. Pengguna cukup memasang tabung, dan kompor dapat langsung menyala dengan bahan bakar tersebut.
Meski demikian, pemerintah tetap mengutamakan aspek keselamatan. Melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS), pemerintah saat ini menguji ketahanan tabung CNG, termasuk uji tekanan dan standar keamanan lainnya sebelum penerapan dilakukan secara luas.
Pemerintah mendorong penggunaan CNG sebagai substitusi LPG karena tingginya ketergantungan terhadap impor LPG. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut harga CNG berpotensi sekitar 30 persen lebih murah dibandingkan LPG. Hal ini dimungkinkan karena sumber gas CNG berasal dari dalam negeri, sehingga tidak bergantung pada impor, serta didukung oleh biaya distribusi yang lebih rendah.
Bahlil menambahkan bahwa pemanfaatan CNG sebenarnya sudah berjalan di beberapa wilayah, khususnya di Pulau Jawa, meskipun masih terbatas untuk skala besar seperti hotel, restoran, dan dapur program pemerintah.
Selain meningkatkan efisiensi biaya, penggunaan CNG juga berpotensi menekan beban devisa negara secara signifikan. Ia memperkirakan penghematan devisa dapat mencapai Rp130 triliun hingga Rp137 triliun apabila program konversi berjalan optimal.
“Jika teknologinya siap, kita bisa menghemat devisa sekitar Rp130 triliun sampai Rp137 triliun,” ujarnya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Terkait kebijakan subsidi, Bahlil menyatakan pemerintah masih mengkaji kemungkinan pemberian dukungan, terutama jika CNG digunakan oleh rumah tangga sebagai pengganti LPG 3 kg. Namun, pemerintah masih membahas besaran dan mekanisme subsidi tersebut.





