Connect with us

Techno

Pengguna Bisa Bikin Acara dan Monetisasi di Zoom

Published

on

Pengguna Bisa Bikin Acara dan Monetisasi di Zoom

Channel9.id-Jakarta. Zoom berharap pertemuan virtual tetap ada. Layanan konferensi video ini mengumumkan pada Rabu (19/5) lalu, acara apa saja yang bisa digelar dan dibagikan pengguna, sembari mendatangkan bisnis. Dari kelas yoga yang diselenggarakan oleh studio lokal, rapat internal hingga konferensi besar, fitur baru ini untuk memenuhi basis pengguna Zoom yang berbeda.

Perusahaan ingin mendapat lebih banyak pendapatan dengan mendorong orang-orang menggunakan layanan berbayar di platformnya, dikutip dari Endgagdet. Adapun besarannya berkisar $150 hingga $64.900 per tahun (sekitar Rp2 juta hingga Rp933 juta), untuk langganan rapat kecil hingga untuk webinar besar.

Diketahui, selama ini banyak pengguna yang menggunakan layanan gratisnya hanya untuk sekadar mengobrol dengan temannya.

Saat diluncurkan musim panas ini, Zoom Events akan menawarkan alat bantu kepada pelanggan berbayar, termasuk “hub”—di mana pengguna bisa membuat daftar acara mendatang, baik itu pribadi atau publik.

Penyelenggara acara juga bisa memonetisasi acara dengan menyediakan tiket dan pendaftaran untuk pertemuan mereka. Ini mirip dengan fitur OnZoom yang sudah ada, yang telah diuji beta sejak musim gugur lalu terhadap bisnis dan wirausahawan kecil. Kini, Zoom ingin memperluas layanan ini.

Melalui OnZoom, Zoom ingin menjadi tempat online untuk berbagai atau lobi virtual acara fisik. Sehingga platform ini memungkinkan mempertemukan karyawan perusahaan, startup, klien, pers, penghobi, dan sebagainya.

Untuk membantu pengguna memperluas jangkauan acara mereka, Zoom akan mengunggahnya ke direktori publik agar acara bisa ditemukan orang lain. Pengguna pun bisa melihat statistik acara seperti kehadiran, pendaftaran, dan pendapatan, dengan kontrol tambahan atas akses dan penagihan.

Bersaing dengan Microsoft dan Google, Zoom ingin membuktikan bahwa pihaknya bisa terus berkembang. Dan, fitur baru seperti Zoom Events dinilai perusahaan bisa membuat pengguna tertarik, sehingga ini akan membantu perusahaan mencapai salah satu tujuannya: memperoleh pendapatan lebih.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Twitter Buka Pendaftaran untuk Uji Coba Ticketed Spaces dan Super Follows

Published

on

By

Twitter Buka Pendaftaran untuk Uji Coba Ticketed Spaces dan Super Follows

Channel9.id-Jakarta. Twitter membuka pendaftaran Super Follows dan Ticketed Spaces untuk uji coba terbatas. Pengguna yang berbasis di Amerika Serikat bisa mendaftar melalui aplikasi Twitter seluler. Adapun uji coba Super Follows dibatasi untuk iOS, sementara Ticketed Spaces bisa untuk iOS dan Android.

Twitter akan memilih sekelompok kecil pengguna untuk menguji fitur monetisasi tersebut. Fitur Super Follows memungkinkan pengguna mengenakan biaya kepada pengguna lain sebesar $2,99 (atau Rp43 ribu), $4,99 (atau Rp72 ribu), atau $9,99 (atau 144 ribu) per bulan, untuk mendapat konten eksklusif.

Baca juga: Twitter Akan Hadirkan Fitur Un-Mention

Sementara, Ticketed Spaces memungkinkan pengguna mengenakan biaya antara $1 (atau Rp14 ribu) dan $999 (Rp14,4 juta) agar pengguna lain bisa mengakses ke ruang audio Spaces-nya, dan menawarkan fitur tambahan seperti mengatur batas peserta.

Pengguna bisa melihat apakah mereka memenuhi syarat untuk mendaftar dengan mencentang opsi “Monetisasi” baru di side bar aplikasi seluler.

Peserta uji coba itu akan menyimpan 97% uang yang mereka dapat dari Ticketed Spaces atau Super Follows, setelah iOS dan Android mengenakan biaya. Twitter akan meningkatkan pemotongannya dari 3% menjadi 20% jika pengguna menghasilkan total $50.000 (atau Rp722 juta) dari kedua fitur.

Untuk diketahui, pembagian komisi itu telah diumumkan sejak pratinjau Ticketed Spaces pada bulan lalu.

“Kami ingin memastikan bahwa fitur audio itu bisa menghasilkan uang, itulah sebabnya mereka (perusahaan) berhak mendapat bagian yang besar… Menghasilkan $50K+ dari Super Follows dan Ticketed Spaces menunjukkan bahwa Anda mendapatkan nilai dari fitur-fitur ini dan mereka (perusahaan) membantu Anda mewujudkannya,” jelas Manajer Produk Senior di Twitter Esther Crawford, Selasa (22/6).

Untuk diketahui, komisi 20% Twitter lebih rendah daripada platform berlangganan lainnya. Layanan video milik Amazon, Twitch, mengambil potongan 50% dari layanan berlangganan, dan YouTube mengambil 30% dari biaya keanggotaan. Namun, biaya langganannya juga sepadan dengan 20% OnlyFans.

Tapi komisi itu jauh lebih tinggi dari komisi 10% platform buletin Substack atau tarif dasar 5% dari platform keanggotaan Patreon, meskipun kedua layanan tersebut perlu biaya tambahan. Sementara itu, Facebook memperkenalkan layanan berlangganan pada 2018, dikatakan tak akan mengambil komisi apa pun hingga 2023, selain biaya pembelian dalam aplikasi Apple dan Google.

(LH)

Continue Reading

Techno

Dinilai Monopoli, Microsoft Harus Diawasi Seperti Perusahaan Besar Lain

Published

on

By

Dinilai Monopoli, Microsoft Harus Diawasi Seperti Perusahaan Besar Lain

Channel9.id-Jakarta. Anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Jim Jordan mengatakan bahwa Microsoft harus diawasi seperti perusahaan teknologi besar lainnya, yang kini diawasi karena kasus anti monopoli. Hal ini ia sampaikan melalui surat yang ia kirim pada Senin (21/6) kepada perusahaan Microsoft.

Kepada Presiden Microsoft Brad Smith, Jordan bertanya apakah perusahaan akan terpengaruh undang-undang anti monopoli yang diperkenalkan oleh dewan perwakilan pada awal bulan ini. Total undang-undang yang dimaksud ada lima, membahas mulai dari denda karena pelanggaran yang lebih besar hingga pelarangan teknologi besar membeli pesaing kecil.

Baca juga: Dominasi Iklan di Industri Media, Microsoft Protes ke Google

Undang-undang anti monopoli sendiri telah membikin perusahaan besar seperti Amazon, Apple, Facebook, dan Google diawasi, setelah diselidiki beberapa tahun karena dugaan perilaku anti persaingan. Namun, pengaruh undang-undang ini terhadap Microsoft tak jelas. Menurut klaim, Microsoft memenuhi standar yang ditetapkan oleh undang-undang dan dianggap sebagai “platform tertutup”. Disebutkan bahwa perusahaan memenuhi kapitalisasi pasar lebih dari $600 miliar dan 50 juta pengguna aktif bulanan. Undang-undang sendiri tak menargetkan banyak hal di lini bisnis perusahaan secara spesifik.

“Perusahaan teknologi besar, termasuk Microsoft, Inc., semakin konservatif. Tidak jelas mengapa Microsoft menghindari atensi Demokrat,” tulis Jordan, melalui suratnya, dikutip dari The Verge.

Tampaknya, Microsoft harus mengikuti standard yang ditulis undang-undang tersebut, seperti dalam hal mengakuisisi perusahaan. Amazon dan Apple pun akan menghadapi lebih banyak perubahan struktural, seperti menjual lini bisnis yang terpisah. Meski begitu, bisa jadi Microsoft tak akan tunduk pada aturan tersebut.

Sekadar informasi, surat Jordan itu muncul saat adanya keretakan di dalam Partai Republik karena pembahasan undang-undang tersebut. Kendati undang-undang diperkenalkan bersama Partai Republik dan Demokrat, tak semua Partai Republik ikut mendukung. Pada pekan lalu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa anggota kongres dari Partai Republik Kevin McCarthy tak mendukung undang-undang tersebut.

Jordan yang merupakan bagian dari Partai Republik menentang ketidaksetujuan itu. Ia mengambil tindakan yang berbeda dalam menghadapi perusahaan teknologi. Misalnya, mereformasi Bagian 230 dari Undang-Undang Kepatutan Komunikasi, untuk menyasar platform yang diduga menyensor pidato konservatif.

“Pemakzulan Demokrat tak peduli dengan sensor konservatif. Misi besar mereka berikutnya? Berdayakan perusahaan teknologi besar dan pemerintah untuk memperburuknya,” tulis Jordan melalui cuitan pada pekan lalu.

Anggota kongres lain yang juga dari Partai Republik, yaitu Ken Buck, memanggil Jordan atas kritiknya di Twitter. “Menggunakan undang-undang anti monopoli untuk menghentikan perilaku buruk perusahaan teknologi besar bukanlah pemerintah, itu penegakan hukum,” katanya.

Komite Kehakiman Dewan Perwakilan berencana untuk menandai paket pada Rabu (23/6). Tak jelas apa yang akan diputuskan anggota. Sementara itu, di awal bulan ini, pelobi untuk perusahaan media Rupert Murdoch, termasuk Fox Corp. dan News Corp., mendesak Partai Republik untuk mendukung undang-undang tersebut. Pada Jumat (18/6) lalu, pembawa acara Fox News Tucker Carlson juga mendesak anggota parlemen untuk menyetujui RUU tersebut.

“Monopoli teknologi sebenarnya merupakan ancaman bagi negara. Jika Anda peduli dengan demokrasi, Anda harus menghancurkan monopoli,” kata Carlson.

(LH)

Continue Reading

Techno

Spektrum 5G Terbatas, Indosat Atasi Dengan Cara Ini

Published

on

By

Spektrum 5G Terbatas, Indosat Atasi Dengan Cara Ini

Channel9.id-Jakarta. Setelah Telkomsel, kini Indosat Ooredoo mendapat izin dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk menggelar layanan 5G secara komersial. Mulai Selasa, 22 Juni ini, perusahaan mulai meluncurkan layanan ini di lima kota, yaitu Jakarta, Solo, Surabaya, Balikpapan dan Makassar.

Namun, spektrum untuk menggelar teknologi ini terbatas. Indosat Ooredoo sendiri memakai pita frekuensi 1800 MHz dengan lebar pita 20 Mhz di rentang 1837,5 MHz sampai dengan 1857,5 MHz. Guna mengantisipasi keterbatasan ini, Indosat Ooredoo menggunakan teknologi Dynamic Spectrum Sharing (DSS).

“Untuk saat ini Indosat Ooredoo akan menggunakan teknologi teknologi dynamic spectrum sharing, yakni teknologi 4G dan 5G akan digunakan bersamaan di spektrum frekuensi yang sama,” ungkap Steve Saerang, Senior Vice President Corporate Communications Indosat Ooredoo.

Baca juga: Akan Kantongi SKLO, Indosat Ooredoo Bisa Gelar 5G

Untuk diketahui, teknologi DSS memungkinkan sebuah spektrum menjalankan dua teknologi secara bersamaan.

“Indosat Ooredoo senantiasa melakukan inovasi dan breakthrough untuk memberikan kualitas layanan pelanggan yang terbaik,” kata Steve.

Sebelumnya, President Director and CEO Indosat Ooredoo Ahmad Al-Neama mengatakan, “Penggelaran 5G akan membantu menumbuhkan ekonomi digital di Indonesia dengan menyediakan konektivitas berkecepatan tinggi yang memastikan pengalaman digital terbaik bagi perusahaan dan konsumen.”

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC