Connect with us

Techno

Pengguna Netflix Kini Bisa Berbagi Rekomendasi Film di IG Stories

Published

on

CEO Facebook Mark Zuckerberg, mengakui kalau Stories adalah produk terpenting yang dimiliki Facebook untuk saat ini.

Pernyataan itu disampaikan Zuck–begitu karib disapa–saat ia membawakan presentasi dalam sesi laporan pendapatan Facebook kuartal ketiga pada Selasa (30/10/2018).

Bahkan, Zuck menyebut kalau Stories kemungkinan bisa jadi salah satu fitur masa depan di media sosial.

“Saya pikir (Stories) ini adalah masa depan,” ujar Zuck seperti dilansir Recode, Rabu (31/10/2018).

“Orang-orang ingin berbagi momen mereka, tetapi tidak ingin menyimpannya secara permanen. Dan saya yakin kita benar-benar menginginkan ini,” lanjutnya.

Zuck juga mengungkap tren penggunaan Stories di platform seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp berlangsung dengan cepat dan bisa lebih mendominasi daripada konsumsi media sosial pada News Feed di Facebook dan feed di Instagram.

“Ini benar-benar terjadi dengan cepat. Padahal, tren Stories sebetulnya lebih baru ketimbang News Feed dan feed,” tandasnya.

Sekadar informasi, Stories memang merupakan salah satu fitur yang digandrungi banyak penggunannya. Fitur ini memperkenankan pengguna berbagi momen berupa video atau foto dalam waktu terbatas, yakni cuma 15 detik.

Facebook sendiri juga mengungkap kalau layanan Instagram Stories kini mencapai 400 juta pengguna. Jumlah tersebut diklaim dua kali lipat lebih besar dari pengguna harian yang ada di Snapchat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

LAPAN Berburu Alien dan Tempat Layak Huni Selain Bumi di 2021

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) berencana meneliti planet di luar tata surya atau exoplanet pada 2021. Hal ini sebagaimana keterangan dari Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikno.

Menurut Rhorom, hal tersebut termasuk dalam rencana strategis penelitian LAPAN. Tujuannya untuk mencari kehidupan lain atau alien dan tempat layak huni selain Bumi.

“Langkah awal dalam pencarian kehidupan lain di luar Bumi adalah mencari planet dengan kondisi yang dinilai layak huni,” ungkapnya, Selasa (26/10).

LAPAN, lanjut Rhorom, akan memulai studi fenomena transien,m, yang mana exoplanet salah satu bentuknya.

“Dalam rencana strategis penelitian kami, tahun depan LAPAN akan memulai studi fenomena transien, yakni fenomena yang terjadi secara insidental. Salah satu tujuannya adalah deteksi dan karakterisasi exoplanet,” jelas dia.

Baca juga : Upaya Google Untuk Mendidik Pemilih Menjelang Pilkada

Sebagai informasi, benda langit transien tak memiliki cahaya tetap–seperti nova, supernova, semburan sinar gamma dan suar dari inti galaksi. Demikian pula dengan exoplanet, karena ia bisa dideteksi ketika melewati bintang induknya

“Saat ini LAPAN belum ada program penelitian exoplanet. Namun, dengan beroperasinya Observatorium Nasional Timau di NTT, kami berharap untuk dapat melakukan deteksi dan karakterisasi exoplanet,” ujar Rhorom.

Untuk diketahui, riset exoplanet sudah banyak dilakukan di negara-negara lain. Namun, Indonesia belum memulainya kendati telah memiliki lembaga antariksa LAPAN.

rencana LAPAN untuk meneliti exoplanet betul dilakukan, maka mereka menyejajarkan diri dengan lembaga penelitian antariksa lainnya.

(LH)

Continue Reading

Techno

Upaya Google Untuk Mendidik Pemilih Menjelang Pilkada

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Pilkada 2020 segera digelar pada Desember mendatang. Menimbang hal ini, Google akan mempersiapkan sejumlah fitur dan informasi yang mendidik pemilih agar tak percaya berita bohong atau hoaks.

Head of Corporate Communications Google Indonesia Jason Tedjasukmana menuturkan pihaknya berharap para pemilih mengerti, mengikuti dan berpartisipasi dalam proses demokrasi.

“Kami melakukannya dengan lebih menampilkan informasi penting di Search, mendukung jurnalis lewat pelatihan verifikasi dan cek fakta, serta dengan membantu menularkan keterampilan itu lewat partner-partner kami, kepada guru, murid dan anggota keluarga,” terang Jason melalui konferensi virtual, Senin (26/10).

Untuk itu, Jason memaparkan, Google harus menata informasi itu agar pihaknya bisa menginformasikan informasi yang paling relevan dari sumber resmi. “Lalu, kami bekerjasama dengan komunitas jurnalis untuk memberikan pelatihan verifikasi dan cek fakta bagi jurnalis dan pengecek fakta,” kata Jason.

Baca juga : Keren, Google Persiapkan Fitur Anti-Hoaks di Pilkada 2020

Lebih lanjut, Jaosn menuturkan Google pada 2017 memulai Google News Initiative (GNI) Indonesia Training Network yang merupakan hasil kerja sama Google, Internews dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Tujuannya untuk meningkatkan kualitas berita dan informasi yang disampaikan kepada warga Indonesia

“Program ini melatih keterampilan jurnalis, blogger dan pelajar dalam memerangi disinformasi dan misinformasi,” tutur Jason. Menurutnya, keterampilan ini penting untuk menyediakan informasi berkualitas bagi para pemilih selama pemilu di Indonesia pada 2018 dan 2019 lalu.

“Sejak 2017 jaringan ini hampir melatih 11.000 jurnalis di 51 kota,” tambah Jason.

Tak hanya itu, Jason mengatakan pihaknya juga mendukung peluncuran Cek Faktaz yakni proyek verifikasi dan cek fakta yang melibatkan GNI, Asosiasi Media Siber Indonesia, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), AJI dan Internews

Jason menjelaskan warga Indonesia harus diberi kemampuan dan alat tepat untuk mengenali berita hoaks. Hal ini penting agar mereka tak mudah percaya pada berita hoaks dan menyebarkannya. “Kami harap kemampuan ini bahkan bisa membantu mereka membongkar hoaks yang mungkin mereka terima pada aplikasi chat atau media sosial mereka,” sambungnya.

(LH)

Continue Reading

Techno

Keren, Google Persiapkan Fitur Anti-Hoaks di Pilkada 2020

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Google persiapkan Pilkada serentak 2020 dari serangan berita bohong atau hoaks. Google akan mempersiapkan berbagai fitur dan informasi yang mendidik pemilih agar tak percaya berita bohong.

Head of Corporate Communications Google Indonesia, Jason Tedjasukmana menuturkan pihaknya bertujuan agar para pemilih mengerti, mengikuti dan berpartisipasi dalam proses demokrasi.

“Kami melakukannya dengan lebih menampilkan informasi penting di Search, mendukung jurnalis lewat pelatihan verifikasi dan cek fakta, serta dengan membantu menularkan keterampilan itu lewat partner-partner kami, kepada guru, murid dan anggota keluarga,” kata Jason dalam konferensi virtual, Senin (26/10).

Jason menuturkan ada tiga cara yang dilakukan oleh Google. Pertama, Google bekerja sama dengan sumber resmi, lokal untuk menampilkan informasi tentang tata cara pengambilan suara selama pemilu informasi ini di tata dalam format yang lebih mudah dipahami, informasi akan muncul di atas Search.

Kedua, Jason menuturkan pengguna akan seri melihat panel yang berisi hasil pencarian Google Search. Panel itu berisi ringkasan informasi penting dan link ke referensi.

Ketiga, Jason mengatakan ada banyak sekali halaman web yang mungkin berisi informasi yang relevan untuk pencarian umum.

Baca juga: Google Maps Hadirkan Navigasi Untuk Pesepeda

Jason menjelaskan Google harus menata informasi itu agar sebisa mungkin menyampaikan hasil yang paling relevan dari sumber resmi.

“Lalu, kami bekerjasama dengan komunitas jurnalis untuk memberikan pelatihan verifikasi dan cek fakta bagi jurnalis dan pengecek fakta,” kata Jason.

Jason menuturkan Google pada 2017 memulai Google News Initiative (GNI) Indonesia Training Network yang merupakan hasil kerjasama dengan Google, Internews dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). GNI Indonesia bertujuan meningkatkan kualitas berita dan informasi yang disampaikan kepada warga Indonesia

“Program ini melatih keterampilan jurnalis, blogger dan pelajar dalam memerangi disinformasi dan misinformasi,” tutur Jason. Ia  mengungkap keterampilan ini penting untuk menyediakan informasi berkualitas bagi para pemilih selama pemilu di Indonesia pada 2018 dan 2019 lalu.

“Sejak 2017 jaringan ini hampir melatih 11.000 jurnalis di 51 kota,” kata Jason.

Jason menuturkan Google juga mendukung peluncuran Cek Fakta. Cek Fakta adalah sebuah proyek verifikasi dan cek fakta yang melibatkan GNI, Asosiasi Media Siber Indonesia, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), AJI dan Internews

Jason menjelaskan warga Indonesia harus diberi kemampuan dan alat yang tepat untuk mengenali berita hoaks.  Jason menjelaskan hal ini penting agar mereka tidak percaya pada berita hoaks dan menyebarkannya.

“Kami harap kemampuan ini bahkan bisa membantu mereka membongkar hoaks yang mungkin mereka terima pada aplikasi chat atau media sosial mereka,” kata Jason.

IG

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC