Connect with us

Internasional

Presiden Cina Xi Jinping Pertama Kali Kunjungi Tibet

Published

on

Presiden Cina Xi Jinping Pertama Kali Kunjungi Tibet

Channel9.id-Cina. Presiden Cina Xi Jinping kunjungi Daerah Otonom Tibet pada tanggal 21-21 Juli, menurut agensi berita Xinhua, Jumat (23/7/2021). Kunjungan ini adalah kunjungan pertamanya ke Tibet semenjak ia menjabat sebagai presiden Cina.

Xi terbang ke kota Nyingchi pada hari Rabu dan naik kereta ke ibukota Tibet, Lhasa pada hari berikutnya melalui rel kereta yang dibangun untuk menghubungkan Tibet dengan provinsi Sichuan melalui daerah pegunungan.

Baca juga: Cina Tolak Rencana WHO Jalankan Investigasi di Wuhan

Di Lhasa, Xi mengunjungi sebuah kuil dan alun-alun Istana Potala, dan juga memperhatikan agama etnis dan kebudayaan Tibet yang dilindungi, menurut Xinhua. Istana Potala adalah rumah tradisional pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, yang sedang dalam pengasingan dan dicap sebagai separatis berbahaya oleh Cina.

Di Nyingchi, ia juga memperhatikan peremajaan kawasan pedesaan dan perlindungan lingkungan.

Tibet, yang berada di perbatasan Cina dengan India, dianggap sebagai lokasi strategis untuk Cina. Tahun lalu Cina dan India terlibat dalam perseteruan serius di daerah perbatasan pegunungan Himalaya.

Foto-foto yang dirilis oleh Xinhua menunjukkan Xi ditemani oleh Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Pusat Militer Cina dan jenderal senior di Pasukan Pembebasan Rakyat.

Terakhir kali Xi ke Tibet yaitu di tahun 2011 ketika ia masih menjabat sebagai wakil presiden.

Cina mengirim pasukan ke Tibet pada tahun 1950 yang mereka anggap sebagai pembebasan secara damai dan terus melakukan pengamanan ketat disana, yang kerap kali mengalami gejolak-gejolak.

(RAG)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Internasional

Pulang dari New York, Presiden Brasil Jalankan Isolasi Mandiri

Published

on

By

Pulang dari New York, Presiden Brasil Jalankan Isolasi Mandiri

Channel9.id-Brasil. Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang baru saja kembali dari PBB, melakukan isolasi mandiri di kediamannya pada hari Rabu dan membatalkan kunjungannya setelah menteri kesehatannya dinyatakan positif Covid-19 dan harus dikarantina di New York, Kamis (23/9/2021).

Regulator kesehatan Brasil Anvisa merekomendasikan kalau seluruh delegasi presiden yang ikut berangkat ke New York demi menghadiri Majelis Umum PBB untuk melakukan isolasi mandiri dan menjalankan rangkaian tes kesehatan.

Baca juga: Presiden Brasil, Jair Bolsonaro Dirawat Karena Usus Buntu

Menteri Kesehatan Marcelo Queiroga dinyatakan positif setelah beberapa jam sebelumnya menemani Bolsonaro saat memberikan pidato di Majelis Umum PBB, ungkap pemerintah Brasil. Dikabarkan anggota delegasi Brasil lainnya dinyatakan negatif.

Bolsonaro, yang merupakan seorang anti-vaksin yang sempat sesumbar karena belum divaksin, menolak untuk mematuhi syarat masuk Majelis Umum PBB yang harus divaksin terlebih dahulu.

Queiroga menemani Bolsonaro ke sebuah pertemuan pada Selasa pagi di kantor PBB dengan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson. Sang menteri kesehatan nampak mengenakan masker, walaupun Johnson dan Bolsonaro tidak.

Pemerintah Brasil telah memberi tahu PBB kalau seluruh delegasinya memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri selama empat belas hari, ujar juru bicara PBB Stephane Dujarric.

“Di PBB, kami sudah melacak orang-orang yang melakukan kontak dengan staff PBB yang hadir di Majelis Umum dan pelacakan kontak sudah akan segera selesai,” ujar Dujarric. Ia menyebutkan kalau Queiroga tidak bertemu dengan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres.

Dalam keberangkatan ke New York, Bolsonaro adalah satu-satunya orang dari rombongannya yang belum divaksin. Sebelum berangkat ke Amerika Serikat, ia menuturkan kalau ia percaya kalau antibodinya sudah cukup.

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Selandia Baru Targetkan 90% Warganya Mendapat Vaksin

Published

on

By

Selandia Baru Targetkan 90% Warganya Mendapat Vaksin

Channel9.id-Selandia Baru. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyatakan kalau negaranya harus menargetkan warga yang di vaksin sampai mencapai 90% atau bahkan lebih, dan mengumumkan kalau peraturan ketat Covid-19 akan segera dicabut setelah orang-orang yang divaksin sudah cukup banyak, Kamis (23/9/2021).

Tahun lalu Selandia Baru mampu menghapus virus corona dari negaranya dan terus bebas Covid-19 sampai wabah varian Delta datang dan memicu lockdown skala nasional.

Baca juga: Selandia Baru Kembali Berhasil Menurunkan Kasus Covid-19

Dengan kota terbesarnya, Auckland, masih dilockdown dan masih ada kasus harian setiap harinya, Ardern menuturkan kalau program vaksinasi akan menggantikan lockdown sebagai strategi utama dalam melawan virus tersebut yang nantinya akan membuat pemerintah hanya akan mengisolasi para pasien corona saja, bukan seluruh warga.

“Jika tingkat rata-rata vaksinasi sudah cukup tinggi, maka kita tidak perlu lagi melakukan lockdown,” jelasnya.

Semakin tingginya rata-rata orang yang sudah divaksin akan memberikan lebih banyak kebebasan, ujar Ardern. Ia juga menambahkan kalau Selandia Baru harus menargetkan 90% warganya untuk mendapatkan vaksin.

Setelah sempat lamban dalam memulai program vaksinasi, sekitar 40% orang dewasa Selandia Baru sudah mendapatkan vaksin keduanya dan sekitar 75% lainnya sudah mendapatkan setidaknya dosis pertama vaksin Covid-19.

Pemerintah melaporkan ada 15 kasus baru Covid-19 pada hari Rabu, kesemuanya terjadi di Auckland. Tambahan kasus baru tersebut membuat total kasus Covid-19 di Selandia Baru menjadi 1,123.

Direktur Jenderal Kesehatan Selandia Baru, Ashley Bloomfield pada awal minggu ini memperingatkan kalau Selandia Baru kemungkinan tidak akan bisa terbebas dari Covid-19 lagi.

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Australia Akan Membangun Kembali Hubungan dengan Prancis

Published

on

By

Australia Akan Membangun Kembali Hubungan dengan Prancis

Channel9.id-Australia. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengaku kalau ia sudah mencoba untuk berbincang-bincang dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron namun tak kunjung berhasil setelah seminggu lalu Australia membatalkan kontrak kapal selam senilai 40 miliar dolar dengan Prancis, Kamis (23/9/2021).

Morrison mengatakan kalau ia harus sabar dalam membangun kembali hubungannya dengan Prancis.

Paris sebelumnya telah menarik dutanya dari Canberra dan Washington setelah menuduh Australia telah menusuk mereka dari belakang karena lebih memilih untuk membuat kapal selam bertenaga nuklir yang dibantu dengan teknologi dari AS dan Inggris daripada mempertahankan kontrak mereka berdua.

Baca juga: Australia Bujuk Uni Eropa Untuk sepakati Perjanjian Perdagangan

Dilain sisi, hubungan Macron dengan AS kembali membaik setelah kedua pemimpin negara tersebut berbincang-bincang di telpon, dan Prancis menyebutkan kalau mereka akan mengirimkan dutanya ke Washington.

Namun Morrison yang saat ini sedang di Amerika untuk menghadiri beragam pertemuan minggu ini, mengaku kalau ia sudah mencoba mengatur jadwal agar dapat berbincang-bincang juga dengan Presiden Prancis, namun upaya tersebut belum membuahi hasil yang memuaskan.

“Ya, kami sudah berusaha. Dan kesempatan itu masih belum ada. Tapi kita akan terus bersabar,” ujar Morrison setelah bertemu dengan anggota parlemen AS untuk mendiskusikan kesepakatan kapal selamnya dan aliansi baru Indo-Pasifik dengan AS dan Inggris yang disebut AUKUS.

Morrison mengatakan kalau ia mengerti akan kekecawaan Prancis dan menyebutkan kalau hubungan AS dengan Prancis berbeda dengan Australia dan Prancis.

“Saya menantikan hal itu di waktu yang tepat dan ketika ada kesempatan nanti” ujarnya.

(RAG)

Continue Reading

HOT TOPIC