Ekbis

Realisasi SPHP Beras Maret-Juli Capai 57 Persen dan Total Salur CBP Tembus 1,35 Juta Ton

Channel9.id, Jakarta. Ketersediaan beras secara nasional sampai hari ini dipastikan masih kuat. Produksi beras secara nasional sangat memadai untuk menyokong kebutuhan konsumsi beras dalam negeri. Jadi masyarakat bisa merasa tenang dan tidak perlu khawatir.

Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Badan Pangan Nasional (Bapanas) Maino Dwi Hartono mengatakan secara agregat produksi dan konsumsi beras nasional dipastikan mencukupi. Bahkan mencetak surplus yang dapat menjadi ketersediaan stok.

“Jadi memang kondisi kita hari ini, kalau kita bicara beras, tentunya kita tidak perlu khawatir karena memang dari sisi produksi, produksi kita itu cukup dan bahkan surplus. Produksi beras kita sekitar 34 juta ton dan kebutuhan kita 31 juta ton. Artinya secara nasional agregat cukup,” beber Maino dalam suatu wawancara dikutip di Jakarta pada Kamis (16/7/2026).

“Tentu dari pemerintah pusat, selain ada SPHP beras, ada bantuan pangan, ada juga subsidi transportasi. Beberapa kali kita juga bantu beberapa daerah untuk mengirim stok pangan, misalnya ke daerah-daerah yang remote, yang kepulauan, daerah yang menjadi concern tentunya,” tambah Maino.

Dalam catatan Bapanas, realisasi penjualan beras SPHP telah mencapai 57,07 persen atau 472,56 ribu ton. Ini merupakan pelaksanaan program SPHP beras yang dimulai sejak Maret sampai 14 Juli 2026. Apabila ditambahkan realisasi SPHP beras yang dilaksanakan pada Januari-Februari 2026 sebanyak 221,05 ribu ton, maka total SPHP beras di tahun 2026 ini telah mencapai 693,61 ribu ton.

Capaian SPHP beras di tahun 2026 tersebut tercatat telah meningkat drastis hingga 282,5 persen terhadap realisasi SPHP beras dalam periode yang sama di tahun 2025. Realisasi SPHP beras dari Januari sampai 17 Juli 2025 kala itu masih di angka 181,32 ribu ton saja.

Sementara total salur stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melalui program bantuan pangan tahap pertama telah mencapai 662,88 ribu ton. Dengan itu, total penyaluran stok CBP melalui program SPHP dan bantuan pangan sejak Januari sampai pertengahan Juli tahun ini sudah mencapai hingga 1,35 juta ton.

Terkait itu, pemerintah memastikan pula stok beras pemerintah di Perum Bulog juga sangat kokoh di angka 5,22 juta ton dengan dipasok dari serapan setara beras produksi dalam negeri yang telah menyentuh 3,4 juta ton. Tidak perlu lagi ada impor beras konsumsi.

Untuk diketahui, capaian serapan beras produksi dalam negeri tersebut telah menyamai capaian pada tahun 2025 yang juga berada di 3,4 juta ton. Rekor serapan Bulog tahun 2025 tersebut pun punya kemungkinan besar diganti lagi dengan rekor yang lebih besar di tahun ini.

“Pertama, stok di Bulog sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan semua stoknya tersedia. Bulog harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memaksimalkan dengan operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah,” urai Direktur Bapanas Maino.

“Yang kedua, dari pemerintah daerah ada juga dukungan seperti subsidi transportasi, terutama untuk daerah-daerah kepulauan, daerah-daerah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan) yang memang cost-nya mahal. Ini berkenaan upaya-upaya untuk mengendalikan harga agar kestabilan bisa lebih kita kendalikan. Artinya semua pemerintah bergerak,” pungkas Maino.

Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan posisi Indonesia sangat kuat di sektor perberasan. Indonesia sudah meraih swasembada dan tidak membutuhkan importasi beras karena produksi beras nasional sudah memadai.

“Kita sudah swasembada. Beras tidak impor lagi. Beras medium tidak impor, bahkan mau ekspor. Harga beras kita stabil. Alhamdulillah. Kenapa? Beras kita surplus dan stok kita banyak, sangat besar,” ujar Kepala Bapanas Amran di Medan, Sumatera Utara (15/7/2026).

“Harga dunia (sedang) naik. Ini (berkat arahan) Bapak Presiden. Harga beras kita stabil di saat harga dunia naik dengan akibat Selat Hormuz, (itu) mungkin salah satunya,” sambung Amran.

Adapun dilaporkan Food and Agriculture Organization (FAO) melalui The FAO All Price Rice Index (FARPI), indeks meningkat 3,2 persen pada Juni 2026. FARPI Juni 2026 tersebut menjadi indeks yang tertinggi sejak Januari 2025 atau dalam 1,5 tahun terakhir.

Sementara, kondisi harga beras di Indonesia masih cukup terkendali sebagaimana data Badan Pusat Statistik (BPS). Inflasi beras pada Juni 2026 secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 3,98 persen. Angka ini mulai melandai 0,57 persen lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen.

Secara historis, inflasi beras secara tahunan di Juni 2026 juga masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi Juni 2024 yang sempat mencapai 11,88 persen, serta hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan Juni 2025 yang berada pada level 3,38 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga beras semakin terkendali dibandingkan periode dua tahun sebelumnya.

Sementara secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi beras tercatat 0,45 persen, masih berada di bawah level 1 persen sehingga mencerminkan pergerakan harga yang relatif terkendali. BPS pun mencatat inflasi beras secara bulanan di Juni 2026 masih lebih stabil dibandingkan inflasi bawang merah dan bawang putih.

Untuk inflasi beras secara bulanan di Juni 2026 dengan 0,45 persen dapat pula menandakan tren harga beras di tingkat konsumen yang masih bergerak stabil. Hal ini karena tingkat inflasi beras secara bulanan belum pernah melebihi level 1 persen sejak Desember 2025.

Kala itu inflasi beras Desember 2025 mulai bergerak positif setelah mengalami deflasi yang cukup dalam dengan 0,59 persen pada November 2025. Desember 2025 berada di 0,18 persen. Lalu Januari sampai Juni 2026 secara berurutan antara lain 0,16 persen; 0,43 persen; 0,65 persen; 0,58 persen; 0,38 persen, dan terakhir di 0,45 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

57  +    =  61