Channel9.id – Jakarta. Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) menyebut ada operasi politik di balik polemik ijazah palsu yang dituduhkan kepadanya dan putra sulungnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Jokowi juga menyebut ada “penumpang gelap” yang sengaja menggulirkan isu ini untuk mencari keuntungan.
“Kan sudah saya sampaikan sejak awal ini ada operasi politik kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi, jadi ramai lagi,” kata Jokowi saat ditemui awak media di kediamannya di Sumber, Solo, Jawa Tengah, Jumat (16/10/2026).
Meski begitu, Jokowi mengaku biasa saja dengan tuduhan tersebut.
“Tapi buat saya biasa saja,” sambungnya.
Menurutnya, isu ijazah palsu tersebut juga berpotensi mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan lain. Lebih jauh, ia menilai polemik ini sengaja dilontarkan untuk merusak reputasi politiknya dan Gibran.
“Sekali lagi, ini operasi politik untuk mendowngrade reputasi politik seseorang. Dua-duanya bisa (Jokowi dan Gibran),” kata Jokowi.
Perkara pidana terhadap sejumlah pihak yang menuding ijazah Jokowi palsu masih terus berjalan.
Pada April 2026, Polda Metro Jaya menghentikan penyidikan terhadap tiga dari delapan tersangka melalui mekanisme keadilan restoratif, sedangkan perkara lima tersangka lainnya berlanjut. Roy Suryo, salah satu pihak yang terseret dalam perkara tersebut, mulai menjalani persidangan pada September 2026. Selain itu, gugatan perdata terkait dokumen ijazah Jokowi juga bergulir di pengadilan.
Sementara itu, polemik ijazah Gibran mencuat ke publik usai adanya gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang mempersoalkan pemenuhan syarat pendidikan Gibran saat pencalonan pada Pilpres 2024.
Dalam putusan pada 6 Oktober 2026, MK menyatakan permohonan tersebut tidak dapat diterima karena para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum. Namun, dalam pertimbangannya, MK menyebut tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah atau dokumen pendidikan luar negeri yang setara dengan SMA.
HT




