Hot Topic

Bahlil Sebut Stok BBM Subsidi Turun gegara Konsumen Pertamax Beralih ke Pertalite

Channel9.id – Jakarta. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional untuk jenis RON 90 atau Pertalite saat ini berada di angka 16 sampai 18 hari. Meski masih berada di batas aman, angka ini sedikit turun dari batas normal ketahanan stok nasional yang berada di angka 20 hari.

Bahlil mengatakan penurunan ini disebabkan karena adanya perpindahan konsumen BBM non subsidi ke BBM subsidi.

“Yang terjadi pergeseran ketahanan stok menjadi 16–18 hari itu adalah RON 90. Kenapa itu terjadi? Karena terjadinya shifting yang tadinya orang pakai RON 92 dan 95, itu di-shifting ke 90 karena harganya kan berbedanya cukup ekonomis,” kata Bahlil dalam jumpa pers yang diikuti Channel9.id di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Sementara itu, Bahlil menyatakan tidak ada masalah penurunan stok untuk jenis BBM Solar, RON 92, 95, 98.

Bahlil yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi menyampaikan, ia sudah mendapatkan laporan langsung dari PT Pertamina (Persero) terkait kondisi BBM terkini. Dari laporan yang diterimanya itu, Bahlil menyampaikan gangguan stok BBM di berbagai daerah saat ini disebabkan oleh kendala distribusi, terutama yang bergantung pada angkutan kapal.

Ia pun memerintahkan Pertamina untuk menambah jumlah kapal guna mempercepat pengiriman dan mencegah gangguan pasokan semakin meluas.

“Yang Pertamina laporkan tadi distribusi dari daerah Jawa Timur ke Bali dan beberapa tempat yang terkait dengan kapal, saya memerintahkan untuk mereka untuk segera menggandakan kapal agar tidak terjadi kondisi yang tidak diinginkan di daerah,” terangnya.

Lebih lanjut, ia memperkirakan stok persediaan RON 90 akan kembali tercukupi di angka 20 hari dalam waktu satu pekan.

“Secara standar nasional oke. Mungkin untuk mencapai di angka 20 hari itu ya kita butuh waktu seminggu. Seminggu selesai. Tapi di 16-18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal. Itu maksudnya,” ujar Bahlil.

Perubahan pola konsumsi BBM subsidi ini disinyalir terjadi sejak harga BBM non susidi mengalami kenaikan harga pada 11 Juni 2026. Saat itu Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, serta Pertamax Green 95 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Kemudian pada 1 September, harga Pertamax Turbo (RON 98) naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter, disusul penyesuaian harga Pertamax Green 95 sebesar Rp2.550 menjadi Rp19.150 per liter pada 2 September.

Baca juga: Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman 16-18 Hari

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  46  =  49