Techno

Twitter Yakinkan Agensi Iklan Bahwa Musk Tak Bakal Rusak Imej Merek

Channel9.id-Jakarta. Twitter menghubungi agensi iklan dan meyakinkan mereka bahwa platform tetap ramah bagi brand, meski sudah dibeli Elon Musk.

Musk berjanji bahwa Twitter akan menjunjung “kebebasan berbicara,” dan mungkin hanya akan menghapus konten ilegal. Namun, menurut para ahli, keputusan ini justru mengurangi pembatasan pada berbagai hal yang tak menyenangkan namun legal. Misalnya propaganda Nazi, video pemenggalan kepala ISIS, hingga informasi medis yang salah. Perusahaan sendiri sebetulnya tak pernah ingin dikaitkan dengan konten-konten seperti itu.

Menurut laporan dari Twitter yang diterima Financial Times, Twitter telah menghubungi agensi iklan untuk memberi tahu bahwa mereka tak perlu khawatir. Twitter meyakinkan bahwa iklan tak akan muncul di samping konten yang ofensif. Namun, laporan itu tak menjelaskan lebih rinci. Hal yang pasti, kepemimpinan Musk bisa meningkatkan ungkapan kebencian dan toksik di Twitter.

Sebelumnya, kelompok kampanye seperti Anti-Defamation League (Anti-Defamation League/ADL) dan Association for the Advancement of Colored People (NAACP) mengaku khawatir pada kepemimpinan Musk, yang bisa menguntungkan bagi antisemit dan rasis.

“Kami tahu secara langsung bahwa kebencian dan ekstremisme di ruang digital bisa menyebabkan kekerasan fisik, terutama terhadap orang Yahudi dan komunitas terpinggirkan lainnya,” ujar CEO ADL Jonathan Greenblatt, dikutip dari The Verge. “Twitter sudah mengambil berbagai langkah untuk melawan uajran kebencian dalam beberapa tahun terakhir. Untuk saat ini, Musk belum menunjukkan fokus apa pun pada masalah ini hingga saat ini. Kami khawatir dia ke arah yang sangat berbeda.”

Sementara itu, Presiden NAACP Derrick Johnson mengatakan, “Musk: kebebasan berbicara itu luar biasa, tapi ujaran kebencian tak bisa diterima. Disinformasi, misinformasi, dan ujaran kebencian TIDAK ADA TEMPATNYA di Twitter.” Johnson membaca adanya kemungkinan Musk mengizinkan mantan Presiden Donald Trump untuk kembali ke Twitter. Jika demikian, lanjutnya, platform bisa menjadi “cawan untuk pidato kebencian atau kepalsuan yang menumbangkan demokrasi kita.”

Pada 2020 lalu, ADL memimpin boikot iklan di Facebook sebagai tanggapan atas kebijakan perusahaan tentang ujaran kebencian. Namun, setahun kemudian, ADL mengatakan kampanye tersebut hanya memberi sedikit perubahan di platform, sementara pendapatan iklan Facebook tampaknya tidak terpengaruh.

Mengingat ukurannya relatif kecil, Twitter mungkin lebih rentan terhadap tindakan terkoordinasi oleh pengiklan. Perusahaan menghasilkan $4,5 miliar pendapatan iklan pada 2021 lalu. Angka yang jauh lebih sedikit dibandingkan pemilik Facebook, Meta, yang mendapat $114 miliar.

Meski memang pendapatannya lebih sedikit, Musk sendiri mengatakan dia tak membeli Twitter untuk uang. Ia mengaku tertarik pada tujuan ideologisnya. Komentar seperti itu mestinya ditanggapi lebih masam: memang Twitter bukanlah penghasil uang, namun telah menguntungkan Musk dengan cara lain. Jadi, kehilangan pendapatan iklan mungkin bukan persoalan besar baginya.

(LH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

  +  49  =  57