Connect with us

Internasional

Vaksin AstraZeneca Tak Mampu Melawan Covid-19 Jenis Baru di Afrika Selatan

Published

on

Vaksin AstraZeneca Tak Mampu Melawan Covid Jenis Baru di Afrika Selatan

Channel9.id-Jakarta. Afrika Selatan terpaksa menyimpan sementara vaksin AstraZenecanya setelah sebuah data menyatakan bahwa AstraZeneca kurang mampu untuk melawan Covid-19 jenis baru.

Menteri kesehatan Afrika Selatan, Zweli Mkhize mengatakan bahwa pemerintah sedang menunggu penelitian ilmiah untuk mengetahui apa yang harus dilakukan selanjutnya.

“Ketika informasi baru telah keluar dan virus–virus ini berubah dan bermutasi, kita harus segara melakukan keputusan,” ujar Mkhize.

“Inilah mengapa pemberian vaksin AstraZeneca dihentikan sementara. Dalam beberapa minggu kedepan, Afrika Selatan akan memiliki vaksin J&J dan Pfizer.”

Sebuah rilis media yang dikeluarkan pada Minggu (7/2/2021) malam oleh Universitas Oxford mengatakan bahwa sebuah penelitian terhadap sekitar 2.000 orang dengan usia rata-rata 31 menemukan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca memberikan perlindungan yang minimal terhadap varian baru COVID-19 dengan nama B.1.351 yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan.

Data tersebut, yang belum menjalani tinjauan sejawat, nampaknya mengkonfirmasi bahwa jenis virus yang ditemukan di Afrika Selatan memungkinkan akan adanya penularan virus yang di dalam populasi yang sedang divaksinasi.

Juru bicara AstraZeneca mengatakan bahwa perusahaannya sudah memulai memodifikasi vaksinnya untuk melawan virus jenis baru ini. Ia mengklaim bahwa vaksin ini bisa berkembang pesat melalui pengembangan klinis sehingga nantinya akan siap untuk dikirimkan pada musim gugur jika diperlukan.

(RAG)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Internasional

Sebuah Ledakan Besar Terjadi di Guinea Khatulistiwa

Published

on

By

Sebuah Ledakan Besar Terjadi di Guinea Khatulistiwa

Channel9.id-Guinea. Rangkaian ledakan kuat terjadi di pangkalan militer Guinea Khatulistiwa di kota terbesarnya, Bata. Ledakan itu menelan banyak korban dan melukai ratusan lainnya pada hari Minggu (7/3/2021).

Pada pernyataan di TV nasional, Presiden Guinea, Teodoro Obiang mengatakan ledakan pada hari Minggu merupakan sebuah kelalaian terkait penggunaan dinamit di pangkalan militer tersebut. Tidak ada rincian lebih lanjut lainnya mengenai ledakan tersebut.

Obiang mengatakan setidaknya 15 orang dan melukai 500 orang pada ledakan tersebut.

Pernyataannya datang setelah dua jam sebelumnya, menteri kesehatan mengatakan di Twitter bahwa 17 orang terkonfirmasi tewas dari ledakan tersebut dan 420 mengalami luka-luka.

Ada kekhawatiran bahwa angka kematiannya akan terus naik.

Televisi lokal menampilkan sekelompok orang membantu mengeluarkan mereka yang tertimpa reruntuhan. Media lokal juga menyerukan penggalangan donor darah dikarenakan rumah sakit disana mengalami kewalahan.

Mereka yang selamat dari ledakan diangkut dengan truk pickup, yang kebanyakan adalah anak-anak, untuk dibawa ke rumah sakit.

“Kami mendengar suara ledakan dan juga melihat asap melambung ke atas, tapi kami tak tahu apa yang terjadi,” ujar seorang warga bernama Teodoro Nguema kepada AFP.

Guinea Khatulistiwa adalah negara kecil dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta dengan sebagian besar warganya hidup dalam kemiskinan walaupun negara ini memiliki cadangan minyak yang banyak.

Putra Obiang, Teodoro Nguema Obiang Mangue, wakil presiden Guinea Khatulistiwa yang juga bertanggung jawab dengan pertahanan dan keamanan negara, hadir ke lokasi kejadian untuk memeriksa dampak dari ledakan.

Kedutaan Spanyol disana menyarankan warganya untuk tetap di rumah. “Terkait ledakan yang terjadi di Guinea Khatulistiwa. Para warga Spanyol di sana disarankan untuk tetap di rumahnya masing-masing,” kata Menteri Luar Negeri Spanyol, Arancha Gonzalez, di Twitter.

Duta Prancis di Guinea Khatulistiwa, Brochenin Olivier, mengungkapkan rasa belasungkawanya atas terjadinya ledakan tersebut.

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Cina Ingin Bekerja Sama dengan Amerika Serikat

Published

on

By

Cina Ingin Bekerja Sama dengan Amerika Serikat

Channel9.id-Cina. Perdana Menteri Cina, Li Keqiang, bersumpah akan menggalakkan hubungan bisnis dengan Amerika Serikat atas dasar saling menghormati yang mana akan memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak, katanya pada hari Jumat (5/3/2021).

Amerika Serikat dan Cina sebelumnya berseteru dalam persoalan perdagangan dan kebijakan ekonomi, terutama ketika adanya upaya Amerika Serikat untuk memperketat ekspor teknologi kepada Cina dan tarif keduanya telah dikenakan pada barang satu sama lain.

Minggu ini, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengatakan rivalitas yang makin membesar dengan Cina ini sebagai kunci tantangan yang dihadapi Amerika Serikat pada saat ini. Diplomat Amerika menggambarkan bahwa negara asia ini sebagai tes geopolitik terbesar pada abad ini.

Baca juga : Cina Masih Negosiasi dengan Taiwan

Dalam pembukaan acara pertemuan tahunan parlemen Cina, yang melaporkan laporan kerja tahunan Perdana Menteri Cina, Li mengatakan bahwa negaranya ingin bekerja sama dengan Amerika Serikat.

“Kita akan menggalakkan perkembangan relasi Cina dengan Amerika Serikat yang menguntungan kedua belah pihak atas dasar kesetaraan dan perasaan saling menghormati,” katanya tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Amerika Serikat juga sudah berulang kali komplain soal masalah akses perdangan perusahaan-perusahaannya di Cina.

Calon representatif perdagangan Amerika, Katherine Tai, mengatakan pada hari Senin bahwa dia akan bekerja untuk melawan perdagangan Cina yang tidak fair dan akan berusaha untuk memperlakukan sensorsip Cina sebagai batas perdagangan

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Iran Setuju Dengan Tawaran IAEA

Published

on

By

Iran Setuju Dengan Tawaran IAEA

Channel9.id-Iran. Kekuatan Barat membatalkan upayanya untuk mengecam Iran di badan pengawas nuklir global dikarenakan Iran telah setuju untuk bekerjasama dengan para ahli internasional mengenai partikel uranium yang ditemukan di beberapa titik situsnya.

Kementerian Luar Negeri Iran memuji usaha keras diplomatiknya Tehran dan partisipan lainnya pada perjanjian nuklir 2015 karena telah mencegah resolusi dari Amerika dan Negara-Negara Eropa di Dewan Gubernur IAEA.

Baca juga : Iran Menolak Adakan Pertemuan dengan AS

Resolusi itu adalah untuk mengutuk pengurangan komitmen Iran terhadap perjanjian nuklir 2015. Resolusi ini direncanakan oleh Jerman, Inggris, dan Prancis  yang juga didukung oleh Amerika Serikat.

“Perkembangan hari ini dapat mempertahankan jalur diplomasi yang dibuka oleh Iran dan menciptakan pondasi untuk implementasi komitmen maksimal oleh para anggota JCPOA,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Saeed Khatibzade, mereferensikan JCPOA (Perjanjian Nuklir 2015).

“Iran berharap bahwa para anggota JCPOA dapat menjamin komitmennya pada perjanjian nuklir ini dari segala sisi dengan memanfaatkan kesempatan ini dan melalui kooperasi yang serius.”

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, mengumumkan pada konferensi berita pada hari Kamis (4/3/2021) bahwa IAEA dan Iran akan mengadakan pembicaraan teknis April nanti di Tehran.

Ia mengatakan Iran menerima tawaran pengawas nuklir untuk terlibat dalam upaya yang fokus dan sistematis dalam membahas partikel uranium yang ditemukan di beberapa situs yang Iran larang IAEA masuki.

Grossi mengatakan pada hari Kamis bahwa penjelasan Iran soal partikel uranium yang ditemukan di beberapa situsnya masih belum kredibel secara teknis dan dira

He said on Thursday that Iran’s explanation for the particles found at the sites has not been “technically credible” yang diharapkan masalah ini bisa selesai pada pembicaraan April nanti.

(RAG)

Continue Reading

HOT TOPIC