Connect with us

Techno

Berpotensi Disusupi, Google Setop Layanan Google Message di Ponsel Tak Bersertifikat

Published

on

Google Setop Layanan Google Message di Ponsel Tak Bersertifikat

Channel9.id-Jakarta. Nampaknya Google semakin membatasi Android tak bersertifikat. Adapun perangkat tak bersertifikat yang dimaksud ialah ponsel yang tak melalui proses sertifikasi Google sebelum dirilis, dilansir dari 9to5google, Jumat (21/1).

Diketahui, aplikasi Google kerap dipasang secara manual pada perangkat Android yang tak bersertifikat. Namun, sejak dua tahun lalu, Google berupaya mencegah perangkat yang tak bersertifikat untuk masuk ke akun Google.

Baca juga : Layanan Streaming Lionsgate Play Akan Hadir di Indonesia

Baru-baru ini, Google memutuskan akan menghentikan penggunaan Google Messenger atau aplikasi perpesanan pada ponsel Android yang tak bersertifikat per 31 Maret 2021. Adapun alasan Google mengambil langkah seperti ini ialah adanya penambahan enkripsi end-to-end di Google Massage baru-baru.

Google Message sejatinya tak relevan dengan perangkat yang tak bersertifikat. Pasalnya aplikasi itu tak diinstal sebelumnya pada sebagian besar perangkat dan harus diinstal melalui Google Play Store. Namun, yang jelas, perangkat Android tak bersertifikat akan kehilangan akses Google Message.

Sebetulnya, Android tak bersertifikat jarang ditemukan, namun ada contohnya, seperti perangkat baru Huawei.

Selain itu, menurut laporan Androidpolice, penutupan akses itu juga berlaku pada ponsel yang tak bekerja sama dengan Google, yaitu perangkat Huawei dan beberapa perangkat asal Cina lainnya.

Sebelumnya, Google menegaskan bahwa pemilik perangkat Huawei tak boleh melakukan sideload layanan Google Play ke ponsel mereka. Alasannya, keamanannya belum diverifikasi. Oleh karena itu, pesan terenkripsi pada perangkat tersebut berpotensi disusupi.

Dengan pembatasan Google itu, pengguna ponsel tak bersertifikat harus segera mencari solusi lain untuk berkomunikasi. Misalnya, menggunakan Signal untuk mendukung pengiriman dan penerimaan pesan singkat, serta fitur pendukung lainnya.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Risiko Unggah Foto Saat WFH

Published

on

By

Risiko Unggah Foto Saat WFH

Channel9.id-Jakarta. Banyak perusahaan dan kantor yang menerapkan bekerja dari rumah (work from home/WFH) selama pandemi Covid-19 ini. Hal ini berkontribusi terhadap peningkatan penggunaan gawai seperti ponsel. Berbarengan dengan itu, kebiasaan swafoto hingga memotret suasana kerja di rumah pun meningkat.

Menurut perusahaan keamanan siber Sophos, kebiasaan tersebut berisiko dimanfaatkan oleh penjahat siber yang tengah mengumpulkan data pribadi dan akan melancarkan peretasan.

Sophos memaparkan contohnya melalui blog resmi. Dalam foto-foto itu, penjahat siber bisa mendapat informasi dari objek yang difoto, seperti bungkusan paket yang berisi alamat rumah. Kemudian foto yang dipajang di ruangan objek foto bisa meunjukkan hobi seseorang, yang bisa saja bisa dipakai untuk memecahkan pertanyaan keamanan saat menjebol akun si calon korban.

Baca juga : Atasi Stres Saat WFH dengan Kiat Ini

Contoh lain misalnya, foto yang menunjukkan pesta ulang tahun, bisa mengungkapkan tanggal lahir seseorang—yang mana tanggal ini kerap dijadikan password atau PIN. Foto ini pun bisa menunjukkan informasi orang lain yang tampil di objek foto.

“Variasi informasi yang mungkin tersebar dalam konteks ini tak terbatas….. Fraudster, scammer, dan penjahat siber lain sangat menyukai saat kita membagikan informasi personal, kehidupan, ataupun terkait pekerjaan di dunia maya,” kata penulis unggahan tersebut, Associate Professor of Cybersecurity di University of Kent Dr. Jason Nurse, dikutip dari Techradar, Senin (8/3).

“Analisis gambar lingkungan ruangan kerja di rumah bisa menunjukkan isi inbox email pekerjaan, email internal, nama pegawai, situs web privat, software yang terpasang di komputer, dan banyak lagi,” jelasnya.

Lebih jauh, lanjut Nurse, populernya tagar unggahan foto, seperti #WorkFromHome, #RemoteWork, dan #HomeOffice, membikin pekerjaan peretas lebih ringan.

Untuk itu, ia mengimbau agar pengguna media sosial berhati-hati saat mengunggah sesuatu, termasuk objek yang ada di latar belakang foto. Demikian pula saat melakukan konferensi video yang menunjukkan latar belakang video. Selain itu, pikirkan lagi sebelum menggunakan tagar populer terkait WFH.

(LH)

Continue Reading

Techno

BPPT Diminta Pulihkan Ekonomi RI Lewat Teknologi

Published

on

By

BPPT Diminta Pulihkan Ekonomi RI Lewat Teknologi

Channel9.id-Jakarta. Presiden RI Joko Widodo meminta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjadi corong pemulihan ekonomi nasional. Ia mengatakan bahwa Indonesia harus beralih dari ekonomi berbasis komoditi menuju ekonomi berbasis inovasi dan teknologi.

“Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan BPPT agar bisa menjadi otak pemulihan ekonomi secara extraordinary,” ungkap Jokowi di ‘Pembukaan Rapat Kerja Nasional Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi BPPT 2021 pada Senin (8/3).

Pertama, Jokowi meminta BPPT berburu inovasi dan teknologi untuk dikembangkan, juga siap diterapkan. Ia yakin banyak peneliti dan inovator, serta lembaga penelitian pemerintah dan swasta yang punya banyak temuan.

Kedua, Jokowi meminta BPPT menjadi lembaga akuisisi teknologi maju dari mana pun. Ia mengakui teknologi yang dibutuhkan untuk pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi belum diproduksi di dalam negeri, padahal laju perkembangan teknologi global maju. “Jadi strategi akuisisi teknologi dari luar negeri menjadi kunci percepatan pembangunan ekonomi,” imbuhnya.

Jokowi mengatakan BPPT harus mempersiapkan strategi tersebut, lantaran sangat bermanfaat dan bisa diimplementasikan secara cepat. Ia pun berharap Indonesia tak sekadar membeli teknologi.

“Sering kita hanya terima kunci, terima jadi. Akhirnya berpuluh-puluh tahun kita tak bisa membuat teknologi itu. Jadi jangan sekedar membeli mesin jadi sekaligus bersama seluruh ahlinya, tapi kita harus membuat kerjasama teknologi di Indonesia,” ujarnya.

Untuk itu, Jokowi mengatakan BPPT dan kementerian lain harus bekerja sama, pun melibatkan para peneliti Indonesia.

Terakhir, Jokowi meminta BPPT menjadi pusat kecerdasan teknologi Indonesia. Menurutnya, Indonesia sedang ada di tengah peperangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Jika tak menguasai AI, lanjutnya, Indonesia tak bisa menguasai dunia.

“Siapa yang menguasai AI, dia yang akan berpotensi menguasai dunia,” kata dia.

Jokowi juga berharap BPPT bisa memproduksi teknologi sendiri agar Indonesia kuat dalam peperangan AI. Dalam hal ini, ia meminta BPPT mensinergikan seluruh talenta dalam dan luar negeri guna memfasilitasi inovator dan peneliti, hingga kecerdasan komputer dan manusia. Dengan demikian, harapan untuk pemulihan ekonomi melalui cara tak konvensional bisa terwujud.

“Saya berharap BPPT bisa menjadi lembaga yang extraordinary, terus menemukan cara-cara baru, cara-cara kreatif dan inovatif, dan menghasilkan karya nyata yang kontributif untuk kemajuan bangsa,” lanjut Jokowi.

(LH)

Continue Reading

Techno

Facebook Diselidiki Atas Tuduhan Diskriminasi Rasial

Published

on

By

Facebook Diselidiki Atas Tuduhan Diskriminasi Rasial

Channel9.id-Jakarta. Facebook diduga bias rasial dalam perekrutan pegawai di perusahaannya. Mengenai dugaan ini, Komisi Kesempatan Kerja Setara (Equal Employment Opportunity Commission/EEOC) tengah menyelidiki kasus ini, yang diyakini terjadi secara sistematis.

Pada Juli lalu, pegawai berkulit hitam di Facebook yang bernama Oscar Veneszee, Jr. mengajukan keluhan kepada EEOC. Ia menyebut dua orang kulit hitam yang akan direkrut olehnya tak dipekerjakan oleh Facebook. Atas dasar hal ini, ia menilai Facebook melakukan diskriminasi terhadap pelamar dan pegawai kulit hitam, serta melanggengkan stereotip rasial.

Kepada NPR, Veneszee memberi tahu bahwa Facebook memiliki “masalah” dengan orang kulit hitam. Ia menyebut perusahaan gagal mengondisikan situasi guna mempertahankan pekerja kulit hitam.

Reuters mengatakan bahwa EEOC tak mengajukan tuduhan terhadap Facebook terkait masalah tersebut. Investigasi mereka pun mungkin tak menemukan kesalahan Facebook, hal ini sebagaimana laporan Reuters yang menyebut masalah ini terjadi secara ‘sistemik’. Meski demikian, EEOC mungkin mencurigai kebijakan perekrutan Facebook memperluas diskriminasi, yang bisa membuka jalan untuk digugat secara hukum.

Menanggapi tudingan diskriminasi rasial, Facebook mengaku bersedia untuk serius dan menyelidiki kasus tersebut.

“Kami percaya bahwa penting untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman dan hormat kepada semua pegawai. Kami menanggapi tuduhan diskriminasi dengan serius dan menyelidiki setiap kasus,” ujar juru bicara Facebook, dikutip dari The Verge, Sabtu (6/3).

Keluhan serupa pernah terjadi di 2018. Di tahun tersebut, manajer kemitraan Facebook Mark Luckie, di masa akhir kerjanya, mengirim memo internal kepada rekan kerjanya. Pada memo tersebut ia menulis bahwa apa yang dilakukan perusahaan terhadap pegawai kulit hitam tidaklah benar.

“Di beberapa gedung, terlihat lebih banyak poster ‘Black Lives Matter’ daripada jumlah orang kulit hitam yang sebenarnya,” kata Luckie.

“Facebook tak bisa mengklaim bahwa mereka berhubungan dengan komunitas, jika komunitas tersebut tak terwakili secara proporsional dalam di staf perusahaan,” lanjutnya.

Diketahui, pada 2020, laporan keberagaman Facebook menunjukkan bahwa perusahaan belum mencapai target untuk memiliki 50% pegawai dari kelompok yang kurang terwakili pada 2024. Namun, persentase ini naik tipis dari 43% pada 2019 menjadi 45,3% pada 2020.

Juni lalu, pegawai Facebook melakukan pemogokan virtual karena perusahaan tak mengambil tindakan terhadap unggahan mantan Presiden Trump, termasuk unggahan yang mencantumkan kalimat “saat kerusuhan dimulai, penembakan dimulai”—yang dinilai sebagai ancaman terhadap demonstran yang memprotes kekerasan rasial.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC