Channel9.id – Jakarta. Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan aplikasi Loka MBG untuk menghubungkan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan asosiasi dan koperasi petani serta peternak. Aplikasi ini dirancang untuk memperluas akses pasar produsen lokal sekaligus mengatur pengadaan bahan pangan berdasarkan harga acuan pemerintah.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, platform tersebut akan mempertemukan kebutuhan bahan pangan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan produk dari petani dan peternak. Melalui mekanisme ini, BGN ingin memastikan kebutuhan pangan program MBG turut memberikan manfaat ekonomi bagi produsen.
“Nah kami ingin membangun marketplace-nya MBG. Nah kami namakan Loka MBG. Siapa yang masuk ke dalam marketplace ini, asosiasi dan koperasi peternak dan petaninya. Jadi asosiasinya langsung dan dijual dengan harga acuan pemerintah,” ujar Sudaryono dalam acara Transformasi MBG 2.0, sebagaimana dikutip Channel9.id dari kanal Youtube resmi BGN, Kamis (29/10/2026).
Menurut Sudaryono, salah satu persoalan yang melatarbelakangi pengembangan aplikasi tersebut adalah belum meningkatnya harga sejumlah komoditas di tingkat produsen, meskipun permintaannya untuk kebutuhan MBG bertambah.
Ia mencontohkan komoditas telur yang masih dijual dengan harga rendah di sejumlah sentra produksi. BGN telah menetapkan menu telur dapat diberikan tiga hingga empat kali dalam sepekan. Namun, peningkatan kebutuhan untuk program tersebut belum diikuti kenaikan harga telur di tingkat produsen.
“Sekarang ini ada harga telur sangat murah di sentra-sentra telur. Kami sudah memperlakukan makan telur atau menu telur ini bisa 3-4 kali seminggu. Tapi harga telur tidak kunjung naik,” kata Sudaryono.
Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan praktik pembelian bahan pangan oleh sejumlah pengelola dapur. Menurut dia, ada dapur yang membeli telur dengan harga murah, tetapi melaporkan harga pengadaan kepada BGN sesuai harga standar sehingga memperoleh keuntungan dari selisih harga tersebut.
“Kenapa tidak kunjung naik karena dapur-dapur itu membeli telur di harga murah, terus dia ngaku ke BGN di harga yang standar. Jadi dia nambah untung. Ini tidak boleh lagi kita biarkan,” ujarnya.
Melalui Loka MBG, BGN berupaya meningkatkan transparansi transaksi pengadaan bahan pangan. Mekanisme harga acuan diharapkan dapat mengurangi praktik yang merugikan produsen, meskipun efektivitasnya akan bergantung pada penerapan sistem dan pengawasan transaksi di lapangan.
Sudaryono juga menyebut pengadaan melalui platform tersebut diarahkan untuk memengaruhi keseimbangan harga dan pasokan pangan. Ia mengatakan, pembelian akan mengacu pada harga yang ditetapkan pemerintah, baik ketika harga pasar sedang tinggi maupun ketika harga komoditas turun.
“Jadi pas harganya nanti tinggi, dia beli di harga acuan pemerintah yang lebih murah. Kalau harganya murah dia harus beli di harga yang lebih tinggi,” kata Sudaryono.
BGN merencanakan peluncuran Loka MBG secara bertahap. Dalam paparannya, Sudaryono menyebut tujuh komoditas utama akan menjadi prioritas awal, dengan peluncuran terbatas pada November dan peluncuran besar pada Desember 2026.
“Ada tujuh komoditas utama yang kami prioritaskan. Insyaallah di November kami soft launching. Di Desember kami akan grand launching,” ujarnya.
Sudaryono mengatakan, perputaran uang dalam program MBG semestinya tidak hanya menguntungkan penerima manfaat dan pengelola dapur. Petani, peternak, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta penyedia jasa distribusi juga diharapkan memperoleh manfaat ekonomi dari pengadaan bahan pangan program tersebut.
“Jadi harus dikelola dengan benar sehingga yang untung itu bukan hanya yang makan, tapi si penyedianya, UMKM-nya, dapurnya, yang makannya, peternaknya, petaninya, kurirnya, yang bawa barangnya itu harus menikmati keuntungan dari perputaran uang ini,” kata Sudaryono.
Baca juga: BGN Targetkan CCTV Terhubung ke Pusat di 10.000 Dapur MBG hingga Akhir 2026
HT




