Oleh: Rudi Andries*
Channel9.id-Jakarta. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah memperkenalkan konsep PM-AAS (Pertanian Modern–Advanced Agriculture System) sebagai paradigma baru pembangunan pertanian nasional. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi, mekanisasi, digitalisasi, pengelolaan air secara cerdas (Alternate Wetting and Drying/AWD), pemupukan spesifik lokasi, serta pengendalian hama terpadu untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Langkah tersebut patut diapresiasi. Namun DNIKS berpendapat, apabila Indonesia ingin membangun pertanian yang benar-benar modern sekaligus berkelanjutan, masih ada satu komponen fundamental yang perlu diintegrasikan, yakni Biochar.
Gerakan Nasional Biochar (GNB) yang digagas Dewan Nasional Indonesia Kesejahteraan Sosial (DNIKS) memandang bahwa biochar bukan sekadar pembenah tanah, melainkan fondasi bagi lahirnya PM-AAS-Sustainable, yaitu sistem pertanian modern yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan dan kesejahteraan petani.
Selama ini perhatian pembangunan pertanian lebih banyak diarahkan pada peningkatan hasil panen melalui teknologi budidaya. Padahal, keberlanjutan pertanian sangat ditentukan oleh kondisi tanah. Tanah yang kehilangan karbon organik akan mengalami penurunan kesuburan, daya simpan air, aktivitas mikroba, dan efisiensi penggunaan pupuk. Dalam jangka panjang, produktivitas pun akan semakin sulit dipertahankan.
Di sinilah biochar memainkan peran strategis. Biochar mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation (CEC), memperbesar kemampuan tanah menyimpan air, menyediakan habitat bagi mikroorganisme bermanfaat, sekaligus mengunci karbon di dalam tanah selama ratusan bahkan ribuan tahun. Dengan demikian, biochar bukan hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga menjadi instrumen mitigasi perubahan iklim.
Integrasi biochar dengan PM-AAS menghasilkan sinergi yang kuat. Pengelolaan air cerdas (AWD) menjadi lebih efektif karena tanah memiliki kemampuan menahan air lebih baik. Pemupukan spesifik lokasi menjadi lebih efisien karena unsur hara tidak mudah tercuci. Mekanisasi tetap berjalan optimal karena aplikasi biochar dapat dilakukan menggunakan peralatan pertanian modern. Bahkan digitalisasi pertanian dapat diperluas hingga pemantauan karbon tanah sebagai bagian dari sistem pertanian presisi.
Lebih jauh lagi, penerapan biochar membuka peluang ekonomi baru bagi petani. Selain memperoleh peningkatan hasil panen dan penghematan biaya pupuk, petani juga berpotensi mendapatkan tambahan pendapatan dari skema perdagangan karbon yang saat ini berkembang di berbagai negara. Dengan kata lain, petani tidak hanya memanen gabah, tetapi juga memanen nilai ekonomi dari jasa lingkungan yang dihasilkannya.
Karena itu, GNB mengusulkan agar konsep PM-AAS berkembang menjadi PM-AAS-Sustainable, yaitu model pertanian yang mengintegrasikan produktivitas, regenerasi tanah, penyerapan karbon, dan kesejahteraan petani dalam satu ekosistem pembangunan. Model ini sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945, yang menegaskan bahwa perekonomian diselenggarakan berdasarkan asas kebersamaan dan keberlanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, serta Pasal 34 UUD 1945, yang mewajibkan negara mengembangkan sistem kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, pertanian tidak hanya menjadi sektor produksi pangan, tetapi juga menjadi instrumen pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan secara terpadu. Indonesia memiliki peluang besar menjadi pelopor pertanian regeneratif di kawasan tropis. Limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi biochar, kembali ke lahan sebagai pembenah tanah, sekaligus menjadi penyerap karbon permanen. Siklus ini menciptakan ekonomi sirkular yang memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas lingkungan, dan membuka sumber pendapatan baru bagi petani.
PM-AAS-Sustainable bukan sekadar penyempurnaan teknis, melainkan evolusi paradigma pembangunan pertanian Indonesia. Sebab, masa depan pertanian tidak cukup hanya modern. Ia harus mampu meregenerasi tanah, menyimpan karbon, memperkuat ketahanan pangan, dan pada akhirnya menghadirkan kesejahteraan bagi petani. Tanpa karbon tanah, tidak ada pertanian berkelanjutan. Biochar adalah fondasi menuju Indonesia yang berdaulat pangan, berdaulat karbon, dan semakin sejahtera.
*Wakil Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Kesejahteraan Sosial (DNIKS)
Baca juga: Jaga Agar Indonesia Tidak Sekadar Menjadi “Kebun Karbon” Dunia





