Connect with us

Nasional

Ini Tiga Pesan Ketua Muhammadiyah untuk Kapolri

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersilaturahim dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir di kantor Pengurus Pusat Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro, Yogyakarta, Jumat (19/2).

Selain memberikan selamat atas amanah baru Listyo Sigit Prabowo, menurut Haedar, Muhammadiyah juga menyampaikan tiga hal kepada Kapolri. Pertama, kata dia, di era pandemi Covid-19, Muhammadiyah bersama Polri dengan porsi dan peran masing-masing membangun jaringan untuk meningkatkan ikhtiar mengatasi pandemi Covid-19.

“Kedua, kami mendiskusikan dan menyatukan visi bagaimana Muhammadiyah dan Kapolri bersama jajaran kepolisian di seluruh Republik Indonesia serta seluruh komponen pemerintah dan komponen bangsa meningkatkan usaha bersama untuk merekat persatuan bangsa,” ujar dia.

Baca juga: Kapolri Tunjuk Agus Andrianto Jadi Kabareskrim Polri

Kapolri beserta rombongan tiba di PP Muhammadiyah sekitar pukul 13.30 WIB dan mengakhiri pertemuan itu sekitar pukul 14.30 WIB.

Haedar juga menjelaskan kepada Kapolri mengenai peran-peran kebangsaan di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan yang melintas batas untuk semua warga bangsa.

“Bahkan, kami sampaikan di kawasan di mana Muhammadiyah dan umat Islam minoritas, tidak ada kendala bagi Muhammadiyah untuk hadir dengan peran-peran yang bersifat memberdayakan, memajukan, dan menyatukan kehidupan bangsa sebagaimana di Indonesia bagian timur,” kata Haedar.

Terakhir, Haedar dan Kapolri juga membahas mengenai upaya edukasi untuk mengawal ketertiban dan keamanan di era media sosial. “Di era media sosial ini bagaimana Muhammadiyah dan jajaran kepolisian terus melakukan edukasi untuk ketertiban dan keamanan serta kehidupan yang bisa saling toleran satu sama lain di tengah keragaman,” ungkap Haedar.

IG

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasional

Pakar Komunikasi: Melaporkan Presiden Tindakan Berlebihan

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Koalisi Masyarakat Anti Ketidakadilan baru-baru ini melaporkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi ke Bareskrim Polri. Laporan tersebut terkait kasus pelanggaran protokol kesehatan (prokes) yang diduga dilakukan Presiden Jokowi saat berkunjung di Maumere, NTT beberapa waktu lalu.

Pakar komunikasi politik Emrus Sihombing mengatakan, melaporkan Presiden ke Bareskrim Polri itu berlebihan. Menurutnya, mereka yang melaporkan belum melihat secara jeli simbol non-verbal dari Presiden yang mengandung makna mendalam.

“Dari aspek komunikasi, laporan ini sangat lemah. Wajar pihak kepolisian menolaknya,” ujar Emrus kepada Channel9. Sabtu (27/02) malam.

Baca juga: Bareskrim Polri Tolak Laporan Kasus Kerumunan Jokowi di NTT 

Emrus menilai, kejadian tersebut sama sekali bukan sepengetahuan dan keinginan  Presiden. Hal tersebut jelas tergambar dari perilaku komunikasi non-verbal Presiden. Dengan memakai masker, Presiden terlihat menggerak-gerakan tangannya ke arah maskernya, sebagai simbol komunikasi non-verbal yang dapat dimaknai dan bertujuan mengingatkan sekelompok masyarakat yang ada di lokasi agar tetap menggunakan masker.

“Dari simbol non-verbal tersebut, sangat jelas bahwa Presiden memberi teladan kepada masyarakat agar tetap dan taat menggunakan protokol kesehatan dalam rangka menghindari penyebaran Covid-19,”katanya.

Sejatinya, lanjut Emrus, Tim Komunikasi Presiden atau jubir Presiden memberikan pencerahan kepada publik. Sayangnya hal tersebut belum dilakukan hingga saat ini.

“Untuk itu, saya meyarankan kepada Presiden agar segera melakukan evaluasi terhadap pengelolaan komunikasi kepresidenan,”ucapnya.

“Dengan demikian, manajemen komunikasi kepresidenan ke depan bisa lebih profesional, cepat, lincah, proaktif, kreatif, antisipatif dan yang tak kalah pentingnya menjadi penasehat komunikasi bagi Presiden,”pungkasnya.

Continue Reading

Nasional

Rais ‘Aam PBNU: Syaikhona Kholil Bangkalan Layak Jadi Pahlawan Nasional

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Syaikhona Kholil Bangkalan merupakan pembawa inspirasi perjuangan tiga serangkai yakni KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri yang menjadikan NU saat ini besar dan para penerusnya bisa memetik buah dari perjuangannya. Dengan rekam jejak seperti sehingga sangat layak mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Hal tersebut diungkapkan oleh Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar pada Peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-98 Nahdlatul Ulama di Masjid Istiqlal, Sabtu (27/2) malam.

Menurut Miftachul, tidak hanya layak, pemerintah memiliki kewajiban menyematkan penghargaan Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Kholil.

“Beliaulah (Mbah Kholil) yang mengangan-angan lahirnya sebuah embrio Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Layak beliau mendapat gelar pahlawan nasional,” ujarnya.

Perjuangan para muassis Nahdlatul Ulama ini lanjut Kiai Miftach harus dilanjutkan para generasi penerus dengan mempertahankan dan merawatnya dengan baik dan benar. Mereka juga harus menjadi motivasi dan inspirasi dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama.

Dilansir dari NU Online Jatim, saat ini proses penyematan gelar pahlawan nasional kepada Syaikhona Kholil sudah terus berproses dan memasuki tahapan penting.

“Sebenarnya untuk naskah sendiri prosedur pengusulan ini kami sudah ada beberapa elemen. Di antaranya laporan seminar tentang kajian akademik, kajian biografi, riwayat hidup dan perjuangan beliau, yang keempat terkait dengan dokumen pendukung,” kata Muhaimin, Tim Pengusul Gelar Pahlawan Nasional Syaikhona Kholil pada Selasa (16/2).

Saat ini prosesnya sudah masuk ke Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan nantinya berlanjut ke Kementerian Sosial (Kemensos) RI berdasarkan rekomendasi dari Gubernur Jawa Timur.

Namun, permasalahan serius yang menjadi kendala saat ini adalah proses pembuktian dan syarat terkait dokumentasi Syaikhona Kholil saat masih hidup.

“Terkait foto itu adalah wewenang keluarga. Dalam hal ini, kami sudah berkomuniksi dengan keluarga. Sehingga kemudian diputuskan bahwa keluarga akan membuat sketsa yang mirip dengan Syaikhona Kholil,” ungkapnya.

Muhaimin menerangkan, jika proses ini memang kesulitan terkait pembuktian secara fisik. Namun berkat adanya peninggalan naskah sebagai pendukung rekam jejak bisa memperkuat buktinya.

IG

Continue Reading

Nasional

Pelantikan Bupati/Wali Kota Hasil Pilkada Serentak 2020 Berlangsung Lancar

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memastikan jika pelantikan kepala daerah, Bupati/Wali Kota hasil Pilkada Serentak Tahun 2020 berlangsung lancar,  tertib, dan mematuhi protokol kesehatan.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri, Benni Irwan di Jakarta, Jumat (26/02).

“Alhamdulillah hari ini, Jum’at 26 Februari 2021, sudah dilantik bupati/wakil bupati dan wali kota/wakil wali kota hasil pilkada serentak 9 Desember 2020. Pelantikan terpantau berjalan dengan tertib, lancar dan mengikuti protokol kesehatan. Bapak Mendagri juga turut memantau jalannya pelantikan secara virtual,” ujarnya.

Baca juga: Terapkan Prokes Ketat, Kemendagri: Prosesi Pelantikan Bupati/Wali Kota Sesuai UU

Ia menambahkan, pelantikan kepala daerah tersebut, merupakan pelantikan kepala daerah secara serentak tahap pertama, yaitu kepala daerah yang masa jabatannya telah berakhir pada 17 Februari 2021.

“Untuk tahap awal ini diikuti oleh kabupaten/kota yang masa jabatan kepala daerahnya berakhir pada 17 Februari 2021, termasuk kepala daerah yang berdasarkan hasil keputusan sela MK, sidang gugatan PHPnya tidak dilanjutkan” kata Benni.

Diketahui, pelantikan kepala daerah hasil Pilkada Serentak 2020 ini dilakukan secara serentak dan bertahap. Hal itu dilaksanakan berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah, yang mengamanatkan pelantikan dilaksanakan secara serentak.

“Memang, sesungguhnya  178 kabupaten/kota itu, masa jabatan kepala daerahnya berakhir di 17 Februari 2021, tapi karena kita mau melaksanakan pelantikan ini dengan semangat keserentakan, maka kita lakukan pada hari ini,” jelas Benni.

“Pelantikan kepala daerah berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2016 ini dilakukan secara serentak. Semangatnya adalah keserentakan. Namun demikian, karena rentang waktu masa akhir jabatan kepala daerah ini tidak sama semua, maka akhirnya serentak itu kita lakukan bertahap,” sambungnya.

Selain dilaksanakan secara serentak dan bertahap, pelantikan kepala daerah juga dilaksanakan secara virtual, dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Mengingat, pelaksanaan pelantikan dilaksanakan dalam masa pandemi Covid-19.

“Sejak awal, Kementerian Dalam Negeri mengarahkan dan mendorong agar acara pelantikan dilakukan secara virtual, dan itupun dilakukan dengan protokol kesehatan,” pungkasnya.

Continue Reading

HOT TOPIC