Channel9.id-Jakarta. Lagi, event perfilman di Tanah Air digelar, yaitu Jakarta Millennial Film Festival (JMFF) 2026 yang dibuka di GOR Otista, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (11/6/2026).
Pesertanya dari siswa atau pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum se-Jawa serta Bali. Dari luar Jakarta, ada 25 sekolah dan 25 kampus perwakilan dari tiap provinsi. Masing-masing sekolah dan kampus diizinkan mengutus satu tim yang terdiri tiga orang. Jumlah peserta JMFF tahun ini mencapai 1.000 orang.
Mereka menjalani workshop lalu diwajibkan praktik membuat film pendek bertema ‘Milenial dan Bela Negara’ dengan subtema bebas. Hasil produksi akan diikutsertakan dalam kompetisi JMFF 2026 yang dibuka mulai 11 Juni hingga 25 Juli 2026.
Acara puncak akan digelar di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 12 Agustus 2026, sekaligus menyambut HUT RI ke-81. Ini kali kedua JMFF digelar. Edisi perdana digelar tahun lalu dan berhasil menjaring peserta 315 film. Tahun ini, JMFF memasang target menyerap 500 film untuk dilombakan.
Ketua Panitia Pelaksana JMFF 2026, Budi Mulyawan menyampaikan, bahwa visi dan misi JMFF 2026 sangat jelas. Pertama, mengedukasi anak muda soal film pendek sebagai medium berekspresi.
“Kedua, ikut berpartisipasi dalam membentuk ekosistem perfilman di Tanah Air yang sehat dan terus bertumbuh. Ketiga, ajang ini sejalan dengan gerakan Jakarta Kota Sinema yang dicanangkan Wakil Gubernur Rano Karno,” kata Budi Mulyawan kepada wartawan, Jumat (12/6/2026) malam.
Dalam workshop, JMFF 2026 menghadirkan narasumber berkompeten yakni Indrayanto Kurniawan, Arturo GP, Eric Gunawan, Dewi Alibasah, dan Joko Santoso. Dalam pembukaan JMFF 2026, Budi Mulyawan menyambut hangat terbentuknya Jakarta Film Commission.
“Kami ucapkan selamat atas dibentuknya Jakarta Film Commission. Ini langkah strategis dalam memperkuat ekosistem perfilman di Jakarta dan Indonesia. Kami berharap kehadiran lembaga ini dapat memberikan dukungan nyata bagi para sineas,” ungkap Budi Mulyawan.
“Selain itu, membuka akses yang lebih luas terhadap produksi dan distribusi film, serta mendorong lahirnya karya-karya berkualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional,” ujarnya seraya menjelaskan sejumlah alasan memilih film pendek sebagai media berekspresi.
Pertama, biaya produksi film panjang mahal, waktu pengerjaannya lama, bisa sampai setahun. Belum lagi mencari jadwal tayang di bioskop butuh waktu dengan jumlah penonton yang belum tentu sesuai harapan. Di sisi lain, belakangan film pendek sedang jadi tren.
Budi Mulyawan menyebut tren bikin film pendek cocok dengan karakteristik siswa atau anak muda Indonesia yang gemar bereksperimen dan mengeksplorasi ide-ide segar. JMFF 2026 diharapkan jadi ajang kompetisi dan katalis lahirnya sineas-sineas muda berbakat.
“Pesan kami untuk anak muda, cobalah berkreasi lewat film pendek. Jangan melihat film sebatas media hiburan dan tontonan. JMFF 2026 hadir sebagai ruang ekspresi, edukasi, dan kolaborasi bagi generasi muda dalam mengembangkan potensi mereka,” pungkas Budi Mulyawan.
Perlu diketahui, Jakarta Millennial Film Festival (JMFF) adalah sebuah festival dan kompetisi film pendek berskala regional (Jawa dan Bali) yang dirancang sebagai wadah bagi generasi muda dan sineas berbakat untuk mengekspresikan kreativitas.
Acara ini bertujuan untuk mengasah keterampilan teknis serta manajerial sineas muda agar siap bersaing di industri kreatif global. Event ini berfokus pada pengembangan ekosistem perfilman melalui serangkaian kegiatan utama, seperti di antaranya: ajang unjuk karya, kreativitas, dan kualitas bagi sineas muda.
Kontributor: Akhmad Sekhu





