Connect with us

Techno

Kominfo Sebut Mesin AIS Berantas Konten Negatif di Internet Non Stop

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Belakangan ini video seks mirip sejumlah artis Indonesia menyebar di internet. Kementerian Informasi dan Informatika (Kominfo) berupaya mengatasinya dengan memanfaatkan mesin AIS, alat penyensor konten negatif di internet.

Diketahui, mesin senilai Rp211 miliar tersebut merupakan senjata dari Kemkominfo dalam memerangi konten negatif di internet. Mesin ini beraksi menghadapi hoax, ujaran kebencian, pornografi seperti video seks, terorisme, radikalisme, hingga perjudian.

“AIS melakukan identifikasi konten-konten negatif di internet 24 jam non-stop. Dan paralel bekerjasama dengan platform medsos untuk melakukan take down konten negatif tersebut. Sejauh ini fungsinya berjalan dengan baik,” tutur juru bicara Kominfo Dedy Permadi, Senin (9/11).

Baca juga : Pertama Kalinya di Dunia, Cina Luncurkan 6G

Dedy mengatakan, video negatif yang dilacak oleh Kominfo tak spesifik pada artis tertentu. Sebab belum ada kepastiannya.

“Video yang 3 hari terakhir ini beredar luas (yang disensor). Kami tidak ingin menyebut identik dengan salah satu figur karena hal tersebut masih perlu didalami,” jelas dia.

Ia menuturkan bahwa video seks yang bersangkutan dengan artis telah banyak beredar di platform media sosial. Namun saat ini sedang dalam proses pemblokiran. Untuk diketahui, mulanya video tersebut tersebar di Twitter.

“Sampai saat ini, Kominfo telah mengidentifikasi 202 sebaran konten yang ditemukan di 5 platform yaitu Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, dan Telegram,” rinci Dedy.

Para warga net diharapkan untuk tak membagikan konten berbau pornografi, yang menyangkut orang lain. Pasalnya, hal itu melanggar Undang-Undang Pornografi dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Rilis Green Screen Duet, TikTok Akun Lain Bisa Jadi Latar Belakang Konten

Published

on

By

Rilis Green Screen Duet, TikTok Akun Lain Bisa Jadi Latar Belakang Konten

Channel9.id-Jakarta. TikTok merilis fitur baru yaitu “Green Screen Duet” atau duet layar hijau. Fitur ini memungkinkan pengguna menambahkan TikTok orang lain sebagai latar belakang kontennya sendiri, dikutip dari The Verge, Rabu (12/5).

“Green Screen Duet” saat ini tersedia pada opsi menu tata letak duet. Sama halnya dengan semua duet, kreator konten asli akan diberi tag pada teks video baru.

Baca juga : Siap Saingi Facebook, TikTok Hadirkan Fitur Belanja Dalam Aplikasi

Adapun hadirnya fitur baru itu menjadi pertanda bahwa aplikasi TikTok kini punya kelebihan sensorik.

Selain itu, fitur tersebut juga sangat berguna bagi orang-orang yang sudah menggunakan “green screen” TikTok. Baik untuk meletakkan gambar di latar belakang video mereka maupun mengedit video untuk membuat efek serupa.

Itu juga mungkin membuat konten TikTok reaksi terhadap TikToks lain lebih kohesif secara visual daripada Duet (di mana video dipasang bersebelahan satu sama lain) dan Stitches (di mana klip video asli diputar selama beberapa detik sebelum yang baru dimulai).

Sekadar informasi, TikTok terus meluncurkan inovasi baru lantaran banyak perusahaan lain yang menambahkan fitur seperti TikTok ke aplikasi mereka.

Misalnya di Instagram ada Reel Instagram yang kini bisa “di-remix” seperti duet TikTok. Ada pula Snapchat dengan Spotlight, yang berhasil menggaet 100 juta pengguna setelah bulan setelah diluncurkan, dan YouTube berencana membayar kreator yang menggunakan YouTube Shorts untuk mendorong mereka terus menggunakan fitur tersebut.

Sementara itu, TikTok membuat fitur yang memungkinkan TikTok orang lain jadi latar belakang mereka sendiri.

(LH)

Continue Reading

Techno

Siap Saingi Facebook, TikTok Hadirkan Fitur Belanja Dalam Aplikasi

Published

on

By

Siap Saingi Facebook, TikTok Hadirkan Fitur Belanja Dalam Aplikasi

Channel9.id-Jakarta. TikTok berencana menambahkan fitur belanja dalam aplikasi untuk bersaing dengan Facebook, demikian laporan dari Bloomberg.

Dilaporkan pula bahwa saat ini TikTok tengah menguji penjualan dalam aplikasi di Eropa, dikutip The Verge Rabu (12/5). Dalam hal ini, perusahaan pun turut bermitra dengan beberapa merek, termasuk perusahaan pakaian yang berbasis di Inggris, Hype.

Baca juga : Facebook Akan Pastikan Pengguna Baca Artikel Sebelum Membagikannya

Sebelumnya, TikTok pernah berinisiatif memfasilitasi perdagangan di platformnya dengan memungkinkan kreator untuk menjual barang dagangan melalui integrasi Teespring, bermitra dengan Shopify, dan mengerjakan sejumlah jenis produk langsung. Adapun model ini seperti ruang belanja yang diintegrasikan di Instagram, di mana tab belanja terpisah di bawah akun merek yang mencantumkan produk dengan gambar dan harga.

Halaman akun Hype saat ini memang nampak seperti fitur belanja itu. TikTok sendiri telah mengonfirmasi bahwa mereka sedang menguji fitur tersebut.

TikTok memang sangat cocok untuk iklan, sementara penggunanya dibuat mudah menikmati konten di platform tersebut. Adapun model belanja ini kemungkinan tak terlalu fokus pada video, yang identik dengan TikTok. Namun, mungkin mirip seperti model yang ada di Facebook dan Reels Instagram.

Sekadar informasi, Facebook telah menambahkan fungsi perdagangan seperti tab belanja yang disebutkan tadi dan informasi produk di Reels. Bahkan, baru-baru ini, Facebook menguji iklan stiker di Stories.

(LH)

Continue Reading

Techno

Dorong Penggunaan Shorts, YouTube Gelontorkan Rp1,4 Triliun Untuk Bayar Kreator

Published

on

By

Dorong Penggunaan Shorts, YouTube Gelontorkan Rp1,4 Triliun Untuk Bayar Kreator

Channel9.id-Jakarta. YouTube berencana membayar $100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun kepada kreator yang menggunakan YouTube Shorts sepanjang tahun depan. Adapun fitur tersebut merupakan pesaing TikTok.

Dikutip dari The Verge pada Rabu (12/5), platform streaming video itu berniat mendorong para kreator untuk terus menggunakan fitur barunya itu—yang tak bisa menghasilkan uang secara otomatis bagi kreator.

Baca juga : YouTube Longgarkan Aturan Iklan, Konten Terkait Narkoba Bisa Dimonetisasi

YouTube mengatakan pihaknya akan memantau para kreator setiap bulan, untuk mencari paling banyak terlibat dan tampil di platformnya. Perusahaan juga menyebutkan ribuan kreator bisa mendapat bayaran setiap bulan. Meski demikian, perusahaan tak merinci seberapa besar penghasilan yang bisa didapat kreator.

Perihal Shorts, YouTube mengatakan siapa saja bisa mengunggah konten melalui fitur ini. Namun, satu-satunya syarat ialah konten harus asli dan mematuhi kebijakan YouTube.

Lebih lanjut, pembayaran itu mula-mula akan tersedia di Amerika Serikat dan India. Ke depannya, YouTube berencana untuk memperluasnya ke lebih banyak wilayah. Namun, belum ada tanggal pasti kapan perusahaan akan melakukan pembayaran, yang jelas kebijakan ini akan berlangsung tahun ini hingga 2022.

Diketahui, Shorts dirilis oleh YouTube pada Maret lalu. Fitur ini memungkinkan pengguna bisa melihat video pendek di aplikasi seluler YouTube. Sama seperti TikTok atau Instagram Reels, pengguna bisa menggeser dari satu video ke video berikutnya.

Adapun pendekatan yang dilakukan oleh YouTube—yakni membayar kreator yang menggunakan fitur pesaing TikTok—juga dilakukan oleh perusahaan lain. Mereka berniat kreator agar tetap menggunakan platform mereka.

Pada Juli 2020, TikTok meluncurkan dana $200 juta untuk para kreator. Kemudian pada November 2020, Snapchat membayar $1 juta per hari untuk jangka waktu tertentu setelah pesaing TikTok-nya, Spotlight.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC