Connect with us

Techno

Konflik Netflix dan Telkom Kembali Mencuat

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Hubungan Telkom dan Netflix kembali menjadi sorotan lantaran belum adanya perjanjian kerja antar keduanya. Padahal pada Juli lalu, blokiran Netflix baru dibuka oleh Telkom.

Berdasarkan keterangan Dian Rachmawan, Direktur Wholesale & International Service Telkom, hingga kini i belum ada kesepakatan komersial dan teknis antara dua belah pihak.

Adapun kesepakatan yang dimaksud ialah direct-peering untuk menyalurkan konten Netflix. Menurut Dian, Netflix begitu rakus menggunakan bandwidth.

“Jika kondisi ini dibiarkan, belanja modal dan beban operasi hanya habis untuk peningkatan kapasitas jaringan demi Netflix saja. Ini semua kami tanggung, sementara dari Netflix tak ada “pengorbanan” apapun, monopoli penggunaan bandwidth oleh Netfilx saat ini sudah sangat besar dan diskriminatif,” pungkasnya.

Dian pun menjelaskan, Netflix harusnya meletakkan servernya di Indonesia, jadi tak hanya di Singapura. Pihaknya, lanjut diaz meminta agar konten video resolusi tinggi ini harus terdistribusi ke jaringan CDN Telkom di Indonesia.

“Artinya, Netflix wajib interkoneksi (direct-peering) dengan CDN Telkom,” tandasnya.

Kendati belum ada kesepakatan yang seimbang, Telkom tetap memberi kesempatan pelanggannya menikmati Netflix. Perusahaan menyarankan para pelanggan Indihome untuk meningkatkan bandwidth-nya minimal 50Mbps agar pelanggan tetap mendapat kualitas layanan yang lebih stabil.

Menurut Pengamat
Pengamat TIK dari ICT Institute Heru Sutadi turut menanggapi konflik antara dua perusahaan itu.

“Layanan video itu memang makan bandwidth alias kuota yang besar. Apalagi jika kategori high definition atau HD. Dengan jumlah pengguna makin besar, maka kebutuhan kapasitas jaringan juga makin besar,” aku Heru, Selasa (22/9).

Dalam konteks ini, Heru sepakat dengan Telkom. Sebab apabila server Netflix tidak ada di Indonesia, maka akan ada devisa negara yang akan ke luar negeri. “Jika server di luar negeri, maka perlu ada koneksi jaringan ke sana tentu ada devisa kita yang keluar,” lanjutnya.

Baca juga : Telkom Group Resmi Buka Blokir Netflix

Heru juga menuturkan, bahwa operator berhak bekerja sama dengan berbagai layanan video streaming karena termasuk model business to business (B2B). Jadi, adalah hal yang wajar bila perusahaan memutuskan kerja sama yang tidak menguntungkan.

“Operator sebenarnya berhak kerja sama dengan siapa saja untuk layanan video streaming. Dan yang tidak menguntungkan tentu bisa dihentikan,” ucap Heru.

Namun, di lain sisi, Heru menyangsikan jika Telkom berupaya kembali memblokir lagi layanan Netflix yang memiliki basis pengguna yang besar. Sehingga, ada kemungkinan Telkom kehilangan pelanggannya.

“Cuma persoalannya apakah berani? Sebab Netflix itu sudah jadi bahan kompetisi dengan operator lain. Sehingga sebelum menghentikan layanan dan fokus pada penyedia lainnya, tentu akan dihitung dampaknya,” pungkas Heru.

Sebelumnya, kasus yang sama terjadi di Amerika Serikat. Netflix pada akhirnya membayar kepada Comcast, perusahaan telekomunikasi di AS. Biaya itu diperuntukkan pengguna Comcast yang menggunakan layanan Netflix bisa mendapat koneksi yang lebih stabil. Diketahui di AS, Netflix menghabiskan 30% trafik internet pada jam sibuk.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Platform Internet Sejatinya Bukan Menebar Kebodohan

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Jejaring media sosial kemungkinan bisa memperluas pendapat ‘orang-orang bodoh’. Demikian tutur Mantan Chief Executive Officer Google, Eric Schmidt.

Padahal, lanjutnya, tujuan platform internet bukan itu “Konteks dari jaringan sosial yang berfungsi memperkuat orang-orang ididot dan gila bukanlah yang kami inginkan,” kata Schmidt, dikutip dari Livemint.

Menurut laporan The Verge, pernyataan ‘kami’ itu merujuk pada seluruh industri teknologi yang dinilai gagal dan malah mempolarisasi politik di dunia, seperti di Facebook dan Twitter. Kendati demikian, masih ada yang berpendapat bahwa jejaring media sosial tak bisa disalahkan sepenuhnya.

Sebelumnya, YouTube dalam setahun terakhir telah berupaya mengatasi penyebaran disinformasi dan hoaks tentang Covid-19 serta politik Amerika Serikat (AS). Sementara, Facebook dan Twitter dikecam karena membolehkan penyebaran pesan rasis dan diskriminatif.

Baca juga : Google Maps Hadirkan Navigasi Untuk Pesepeda

Beberapa waktu lalu, pemerintah AS menggugat Google karena perusahaan ini dianggap telah melanggar Undang-Undang AntiTrust.

Mengenai hal tersebut, Schmidt mengatakan gugatan itu salah alamat. Sebab, menurutnya, yang harusnya dilakukan adalah memperbanyak regulasi di platform internet untuk tahun-tahun mendatang.

“Saya akan berhati-hati dengan argumen dominasi ini. Saya hanya tidak setuju dengan mereka. Pangsa pasar Google tidak 100 %,” terang Schmidt, ketika ditanya perihal gugatan terhadap Google.

Di tuntutan itu, pemerintah AS meminta Departemen Kehakiman untuk menyatakan Google telah melakukan praktik persaingan tidak sehat.

Untuk diketahui, selain masih memegang saham di Google, Schmidt juga mengendalikan YouTube. Pada 2006, ia memimpin pembelian YouTube dengan nilai US$1,65 miliar. Kendati demikian, ia tetap menjabat sebagai CEO Google hingga 2011 dan menjadi ketua eksekutif Alphabet hingga awal 2018.

(LH)

Continue Reading

Techno

Dukung UMKM, Aplikasi Grab Gelar Online Bazar

Published

on

By

Channel9.id-Surabaya. Aplikasi Grab menggelar Online Bazar yang akan memberikan promosi bagi 52.000 mitra UMKM GrabFood, GrabMart, GrabExpress dan GrabKios di 16 kota, termasuk Surabaya.

Selain itu, Grab juga memperkenalkan fitur Ad Manager dalam aplikasi GrabMerchant. Ini sebuah layanan pembuatan iklan mandiri yang memberikan kemudahan bagi mitra merchant GrabFood untuk mengatur iklan pada produk mereka.

Selama pandemi, Grab telah memperkenalkan lebih dari 40 solusi yang membantu UMKM untuk bisa bertahan, dan hingga kini telah menyambut lebih dari 350.000 UMKM baru dalam aplikasi Grab di Indonesia.

Country Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, pihaknya terus berinovasi untuk membantu lebih banyak UMKM melalui program #TerusUsaha. “Hari ini kami meluncurkan 3 solusi baru untuk membantu UMKM beradaptasi dan dapat memasarkan produk mereka dengan lebih efektif,” katanya, Senin (26/10).

Baca juga : Google Maps Hadirkan Navigasi Untuk Pesepeda

Tiga solusi itu antara lain, Bazar #TerusUsaha. Ini merupakan promosi khusus bagi 52.000 mitra merchant UMKMGrabFood, GrabMart, GrabExpress dan GrabKios di 16 kota Indonesia. Daftar UMKM dalam aplikasi Grab pelanggan akan disesuaikan berdasarkan lokasi.

Lalu pembuatan Iklan Mandiri untuk Mitra Merchant GrabFood. “Kami harap segala upaya dan inisiatif yang kami lakukan dapat membantu pemulihan ekonomi, dan meningkatkan daya saing serta ketangguhan para UMKM,” tandas Neneng.

Riset yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics pada Januari 2020 menyebut, Grab menawarkan peluang ekonomi yang lebih baik bagi pekerja informal di 12 kota.

Secara keseluruhan, pekerja informal dari platform Grab berkontribusi sebesar Rp77,4 triliun bagi ekonomi Indonesia pada 2019. “Mari terus mendukung UMKM dan perputaran ekonomi Indonesia,” tutup Neneng.

Continue Reading

Techno

Google Maps Hadirkan Navigasi Untuk Pesepeda

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Ada kabar bagi dari Google khusus untuk para pesepeda. Perusahaan raksasa ini baru memperbarui layanan navigasinya, Google Maps. Kali ini muncul fitur yang berkaitan dengan sepeda, olahraga yang selama pandemi Covid-19 ini sedang naik daun.

Sebelumnya, banyak permintaan yang mengalir ke perusahaan ini agar fitur untuk pesepeda hadir di Google Maps. Selama pandemi ini permintaan itu tersebut tumbuh 69%.

Akhirnya, Google mengabulkan permintaan itu dengan menghadirkan sejumlah fitur dan navigasi yang berguna untuk bersepeda dan bisa dimanfaatkan di sejumlah kota besar, dikutip dari GSM Arena (26/10).

Baca juga : Kejahatan Siber Mengintai, Pemilik Perangkat Harus Berhati-hati

Untuk fitur itu, Google memberdayakan teknologi algoritma kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), data crowsourced, dan data yang dikumpulkan dengan pemerintah kota setempat.

Namun, Google tak merinci kota-kota besar mana saja yang dimaksud. Meski demikian, selama di kota-kota besar itu pengguna bisa memilih navigasi yang bisa dilalui sepeda.

Tak hanya itu, Google Maps pun akan memberi informasi terkait layanan jasa sewa sepeda yang ada di kota-kota besar.

Untuk diketahui, penggunaan fitur sepeda ini seperti navigasi transportasi umum lain di Google Maps. Untuk di Indonesia, fitur ini belum tersedia. Namun ada kemungkinan segera hadir.

(LH)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC