Connect with us

Techno

Langgar Aturan, Aplikasi Ini Promosikan Pesta Rahasia

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Aplikasi Vybe Together mempromosikan pesta rahasia selama pandemi Covid-19 ini. Mendapati hal ini, Apple lantas menghapus aplikasi tersebut dari App Store.

Menurut situsnya–yang saat ini sudah dihapus, Vybe Together merupakan aplikasi untuk mengagendakan pesta rahasia. Kendati menyadari risiko pandemi, Vybe Together mengatakan aplikasinya dirancang untuk mempromosikan pesta kecil di apartemen atau taman.

Aplikasi ini baru mendapat sorotan publik setelah jurnalis New York Times Taylor Lorenz mencuit di Twitter tentang Vybe Together, sembari menyertakan tangkapan layarnya. Pun ia mengunggah video TikTok tentang akun aplikasi tersebut yang mempromosikan pesta tahun baru.

Baca juga : Cina Bisa Ungguli AS, Kompetisi Keduanya Kian Panas

Video itu membeberkan bahwa siapa pun yang ingin menghadiri pesta di New York harus memiliki undangan. Padahal aturan di New York membatasi pertemuan di dalam dan luar ruangan agar tak lebih dari 10 orang.

Namun, TikTok kemudian menghapus akun Vybe Together dari platformnya. Juru bicara layanan video pendek ini mengatakan aplikasi tersebut dihapus karena melanggar kebijakannya.

Sementara itu, Co-founder Vybe Together Alexander Dimcevski menuturkan bahwa aplikasi besutannya tak pernah mengadakan pesta besar sebelumnya. Namun, lanjutnya, video di TikTok untuk marketing memang berlebihan.

“Kami tidak mengizinkan pesta besar yang tidak aman selama pandemi,” ujar Dimcevski, dikutip dari CNBC, Jumat (1/1).

Hingga kini, nyaris semua jejak Vybe Together di internet sudah dihapus, dari website, aplikasi hingga akun TikTok.

Kendati sudah dihapus oleh Apple, aplikasi tersebut masih eksis di Instagram. “App Store menghapus kami!!! Kami akan kembali!! Ikuti untuk tetap update,” jelas deskripsi Vybe Together melalui Instagram.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Google Buka Suara Terkait Tanda SOS di Pulau Laki

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta. Google buka suara terkait kemunculan tanda minta bantuan atau SOS di Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Jakarta. Diketahui, daerah tersebut berdekatan dengan lokasi jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air pada Sabtu 9 Januari 2021.

Communications Manager at Google Feliciana Wienathan menyampaikan, berbagai data yang ditemukan di Google Maps berasal dari berbagai sumber termasuk penyedia pihak ketiga, sumber publik, dan kontribusi pengguna.

“Secara keseluruhan, ini memberikan pengalaman peta yang sangat komprehensif dan relevan, tetapi kami menyadari bahwa mungkin sesekali ada ketidakakuratan yang dapat muncul dari salah satu sumber tersebut. Jika orang melihat ada sesuatu di Google Maps yang kurang tepat, mereka dapat dengan mudah melaporkannya kepada kami melalui desktop atau perangkat seluler,” katanya dilansir idntimes, Rabu 20 Januari 2021.

Feliciana menambahkan, pihaknya sudah menghapus tanda SOS di Pulau Laki dari Google Maps. Dia pun meminta supaya masyarakat melapor bila melihat sesuatu di Google Maps yang kurang tepat.

“Kami telah menghapus ikon di lokasi tersebut dari Google Maps. Seperti biasa, jika masyarakat melihat ada sesuatu di yang kurang tepat, mereka dapat dengan mudah melaporkannya kepada kami di desktop atau perangkat seluler,” katanya.

Sebelumnya, warganet mendadak heboh dengan tanda minta bantuan atau SOS di Pulau Laki, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Diketahui, daerah tersebut berdekatan dengan lokasi jatuhnya Pesawat Sriwijaya air.

Tanda SOS tersebut muncul saat membuka Google Maps dan memasukkan kata kunci ‘Pulau Laki’. Tanda itu terdapat pada belahan selatan Pulau Laki. Warganet menduga tanda itu adalah tanda minta tolong.

HY

Continue Reading

Techno

Telegram Digugat Agar Dihapus dari App Store dan Play Store

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Sebuah organisasi nirlaba Amerika Serikat (AS), Coalition for a Safer Web, menuntut Telegram dihapus dari App Store Apple dan Google Play Store, dilansir dari Giz China.

Untuk diketahui, Coalition for a Safer Web yang dipimpin oleh mantan duta besar AS untuk Maroko, Marc Ginsberg, merupakan organisasi yang mengadvokasi kebijakan teknologi, untuk menghapus konten ekstremis dari media sosial.

Organisasi tersebut memang berkali-kali menilai Telegram bermasalah. Sebab Telegram digunakan sebagai alat komunikasi oleh kelompok supremasi kulit putih, neo-Nazi, dan baru-baru ini, terkait peristiwa kerusuhan di gedung parlemen AS pada awal Januari 2021..

Coalition for a Safer Web, melalui gugatannya, menyebutkan bahwa Telegram melanggar persyaratan layanan App Store, lantaran tak antikekerasan dan tak antiekstremis di platformnya.

Diketahui, saat ini Telegram menjadi aplikasi kedua yang paling banyak diunduh di AS. Adapun naiknya popularitas Telegram dipengaruhi oleh kebijakan baru dari WhatsApp, yang buntutnya mewajibkan pengguna berbagi data ke Facebook.

Menurut laporan Washington Post, para pengamat menilai gugatan itu sebagai cara untuk mendorong Apple bertindak tegas, seperti menindak Parler—situs media sosial yang dipenuhi dengan seruan untuk kekerasan dan pemberontakan, yang kemudian dihapus dari toko aplikasinya.

Sekadar informasi, Apple dan Google sama-sama telah menutup Parler dari toko aplikasi mereka karena kebijakan moderasi.

Perihal gugatan dari Coalition for a Safer Web, Apple dan Telegram belum menanggapinya.

(LH)

Continue Reading

Techno

Menkominfo: Setengah Juta Nakes Daftar Vaksinasi di Chabot WhatsApp

Published

on

By

Menkominfo: Setengah Juta Nakes Daftar Vaksinasi Covid-19 di Chabot WhatsApp

Channel9.id-Jakarta. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate melaporkan bahwa sudah ada setengah juta tenaga kesehatan (nakes) yang memberdayakan chatbot WhatsApp vaksinasi Covid-19.

Diketahui, layanan chatbot WhatsApp tersebut merupakan besutan pemerintah dan baru dirilis pada Sabtu (16/1) lalu. Adapun chatbot ini dijadikan sebagai tempat pendaftaran program vaksinasi Covid-19, yang saat ini tengah dijalankan. Dari fungsinya, layanan ini diharapkan mempermudah penerimaan vaksin dan registrasi di mana pun.

“Layanan chatbot berjalan lancar sampai saat ini. Lebih dari setengah juta tenaga nakes memanfaatkan channel ini untuk bertanya, memvalidasi data dan melakukan pendaftaran dan terus bertambah,” kata Johnny, Rabu (20/1).

Chatbot WhatsApp itu bisa dinikmati siapa pun di nomor 081110500567. Pun dilengkapi pula kanal UMB *119#, aplikasi PeduliLindungi, dan situs pedulilindungi.id yang sudah tersedia.

Lebih lanjut, Johnny mengatakan, bahwa pendataan nakes masih terus dilakukan hingga akhir Februari. Ia pun melanjutkan, bagi nakes yang belum mendaftar agar segera menghubungi dinas kesehatan atau fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) setempat.

“Yang belum terdata masih terus dilakukan pendataan oleh para kepala dinas kesehatan kabupaten/kota sampai dengan akhir Februari 2021. Prinsipnya adalah semua SDM kesehatan yang memenuhi syarat medis mendapatkan haknya untuk divaksin,” terang Johnny.

“Bagi yang belum mendaftar diharapkan segera menghubungi para kepada dinas kesehatan masing-masing atau para kepala fasyankesnya,” lanjut dia.

(LH)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC