Oleh: Dr Dewi Tenty SH, MH, MKn*
Channel9.id-Jakarta. Perlemahan daya beli masyarakat, tentunya berpengaruh terhadap sustainability produk lokal. Pelaku UMKM sibuk memutar otak bagaimana produknya bisa tetap diproduksi tanpa menaikan harga, berbagai upaya di lakukan seperti menyesuaikan ukuran atau berat pada kemasan juga mengurangi pengeluaran misalnya perampingan tenaga kerja.
Tapi ada satu fenomena yang muncul menjadi suatu harapan dan peluang bagi pelaku UMKM di tengah menonjaknya harga dolar yaitu fenomena Lipstick Effect yang justru menjadi peluang emas bagi produk UMKM untuk tetap eksis di masa krisis .
Ketika konsumen mulai menunda pembelian barang mahal (luxury brand, elektronik, dan kendaraan), secara psikologis mereka tetap menginginkan adanya kegiatan untuk memenuhi keinginan belanjanya yaitu dengan mengalihkan anggaran tersebut ke barang lain yang terjangkau (affordable luxuries) sebagai bentuk pelarian stres atau self-reward.
Fenomena ini memiliki sisi positif yaitu selain membantu menjaga kesehatan mental dan motivasi konsumen untuk tetap optimis sekaligus menjaga perputaran roda ekonomi khususnya pelaku UMKM.
Disini peran UMKM muncul dengan menawarkan produk fleksibilitas tinggi untuk mengisi kekosongan pasar ini dengan harga yang jauh lebih bersahabat dibanding brand besar global (micro luxury).
Tekanan ekonomi seperti pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian perekonomian memicu perubahan prilaku konsumen Anggaran yang tersisa dialihkan untuk membeli kepuasan instan yang tidak merusak tabungan secara drastis, seperti nongkrong di cafe untuk menikmati kopi lokal, membeli kosmetik dan parfum lokal, fashion and craft yang mengusung tema tradisional dan barang barang eco friendly sebagai alternatif yang menawarkan kualitas serupa tetapi dengan harga jauh lebih kompetitif.
Istilah Lipstick Effect dicetuskan pertama kali oleh Leonard Lauder CEO Estée Lauder pada tahun 2001, ketika ia mencatat lonjakan penjualan lipstik pasca serangan 9/11 di AS.
Fenomena ini dianggap selain sebagai Pelepas Stres, Kebahagiaan Instan, dan Alternatif Kemewahan juga dapat di artikan sebagai Simbol Optimisme: dengan membeli micro luxury adalah cara seseorang menjaga semangat dan ilusi kontrol bahwa kehidupan mereka masih bisa dinikmati di tengah tekanan ekonomi, dan tentunya fenomena ini harus di tangkap sebagai suatu peluang bagi pelaku UMKM untuk dapat mengisi kekosongan tersebut dengan menawarkan produk produk terbaiknya.
Lantas bagaimana strategi UMKM menangkap peluang ini ?
- Stop hard selling: ciptakan narasi yang membangun emosi. Misalnya: “nikmatnya ngopi cantik di tempat estetik”
- Untuk masuk ke kategori micro luxury produk yang di tawarkan tentunya harus memenuhi kriteria enak dipandang atau kemasan yang eye catching
- Optimalisasi media sosial sebagai sarana promosi
- Perluas jejaring pasar dengan membangun engagement komunitas masyarakat
*Penggerak UMKM
Baca juga: Menakar Ketahanan UMKM, Menghadapi Pelemahan Rupiah dan Menurunnya Daya Beli





