Connect with us

Lifestyle & Sport

Mengapa Rasa Kantuk Muncul Saat Belajar?

Published

on

Mengapa Rasa Kantuk Muncul Saat Belajar?

Channel9.id-Jakarta. Sekolah di sejumlah wilayah Indonesia, utamanya yang menyandang zona merah selama pandemi Covid-19 ini, masih menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pembelajaran ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital yang ada, dengan bertatap muka via platform video konferensi, misalnya.

Selama proses itu, ada satu hambatan yang kerap dihadapi para siswa, yaitu mengantuk. Bagaimana tidak? Atmosfer di rumah mengingatkan seseorang pada waktu bersantai dan beristirahat. Apalagi jika PJJ dilakukan di kamar tidur mereka.

Tapi kalau diingat-ingat, rasa kantuk itu bahkan selalu muncul jika sedang belajar sendirian. Sekali dua kali, Kamu mungkin akan menguap saat belajar karena ngantuk. Alhasil, belajar jadi tak fokus dong.

Kamu mungkin akan menyalahkan bahwa hawa rumahlah yang membikin Kamu ngantuk. Namun, perlu Kamu sadari, atmosfer rumah bukanlah satu-satunya pemicu rasa kantukmu saat belajar, lo. Lantas apa saja hal yang membikin Kamu ngantuk saat belajar?

1. Porsi makan terlalu berlebihan
Ngantuk setelah makan adalah hal wajar. Biasanya rasa ngantuk ini akan hilang setelah beberapa saat. Namun, ketika porsi makan terlalu besar, Kamu akan kekenyangan dan kondisi ini membikin kantukmu saat belajar lebih sulit dihilangkan.

Untuk diketahui, makanan yang membuat ngantuk lebih cepat ialah makanan yang mengandung asam amino tingg (triptofan), seperti bayam, kedelai, telur, keju, tahu dan lain-lain.

2. Hypersomnia
Kemungkinan lain, Kamu mengidap hypersomnia—yaitu kondisi di mana seseorang mengantuk sepanjang hari atau menghabiskan waktu terlalu lama untuk tidur. Penderita hypersomnia akan merasakan ngantuk berat seriap menjalani aktivitas yang memerlukan konsentrasi. Padahal malam harinya sudah tidur cukup.

Meski begitu, Kamu tak perlu khawatir sebab ada beberapa kiat yang bisa Kamu lakukan.

Pertama, Kamu mesti menjaga cairan dalam tubuh tetap terjaga. Tujuannya agar darah menjadi lancar membawa oksigen dan berbagai nutrisi ke otak. Alhasil, Kamu pun bisa berkosentrasi. Sebaliknya, jika Kamu kekurangan cairan atau dehidrasi, Kamu akan kelelahan, lebih emosional, hingga mengantuk dan kesulitan konsentrasi.

Kedua, cobalah untuk berdiri dan bergerak. Cara ini lebih mudah dilakukan selagi Kamu sedang PJJ, berbeda saat dilakukan saat Kamu belajar di kelas. Cobalah berjalan-jelan mengelilingi kelas atau halaman rumah, tujuannya untuk memicu kerja jantung sehingga menghasilkan energi yang hilang sekaligus meningkatkan tingkat konsentrasi. Hal ini efektif untuk menghilangkan rasa ngantuk saat belajar.

Tiga, makanlah makanan yang sehat. Misalnya, yoghurt dan buah-buahan segar yang bisa melawan rasa ngantuk saat belajar. Atau, kamu bisa mengonsumsi coklat saat kadar gula darah menurun. Namun, jumlah gula mesti secukupnya.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Kebun Kurma Pasuruan, Wisatawan Memetik Sendiri

Published

on

By

Wisatawan Panen Kurma di Kebun Kurma Pasuruan

Channel9.id-Pasuruan. Pernah nggak sih kalian memetik kurma langsung dari pohonnya? Nggak perlu jauh-jauh pergi ke negara-negara Arab sih.

Karena sekarang kalian bisa lho menikmati sensasi memetik kurma di Indonesia aja. Nggak percaya?
Cobalah mampir ke wisata Kebun Kurma, yang berlokasi di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pemilik wisata kebun kurma, Rusti Widayati mengatakan, total terdapat 494 pohon kurma yang ditanam di lahan seluas 3,7 hektar ini.

Dari jumlah tersebut, sudah ada 47 pohon yang berbuah dan siap dipanen. Sedangkan yang lain masih dalam tahap berbunga yang nantinya akan menjadi buah.

“Ada yang masih muda, sehingga butuh beberapa bulan untuk bisa berbuah. Tapi di sini berbuah setiap hari,” tutur wanita yang akrab disapa Wida tersebut.

“Jadi jangan kuatir, kalau ingin lihat buah kurma langsung dari pohonnya, silahkan datang ke wisata kebun kurma,” imbuhnya.

Selain itu, menurut Wida, ada pula wahana untuk anak-anak dan keluarga. Juga ada berbagai satwa yang semakin menyemarakkan wahana wisata satu ini.

“Belum lagi Pesawat Saygon sebagai hotel dan pusat oleh-oleh, dan kolam ikan khusus terapi,” terangnya.

Katanya sih, di sini hampir setiap hari ratusan pohon kurma tumbuh dan berbuah dengan sangat lebat.
Pengunjung mengaku bahwa baru pertama kali memetik kurma langsung dari pohonnya. Ia juga menambahkan, jika wisata petik kurma hanya ada di Kabupaten Pasuruan, tepatnya di Wisata Kebun Kurma.

“Pasti banyak juga yang belum pernah memetik buah kurma dari pohonnya. Biasanya memang kita hanya membeli di took atau pasar ketika Ramadhan atau lebaran. Tapi ini kita petik sendiri, ya senang sekali,” ujarnya dikutip dari Humas Kabupaten Pasuruan.

Selesai memetik, pengunjung pun langsung mencicipi 2 jenis kurma yang dinamai Kurpas atau Kurma Pasuruan. Meski sama-sama kurma, tapi kurma barhe lebih manis dibanding kurma jenis lulu. “Lebih enak kurma Barhe. Buahnya lebih besar dan lebih manis,” jelasnya.

Hadirnya Wisata Kebun Kurma ini tentu memberikan banyak pilihan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Pasuruan. Khususnya yang tertarik ingin memetik kurma langsung dari pohonnya.

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Stres Picu Emotional Eating, Atasi dengan Hal Ini

Published

on

By

Stres Picu Emotional Eating, Atasi dengan Hal Ini

Channel9.id-Jakarta. Sebagian orang punya nafsu makan yang lebih tinggi saat sedang stres. Hal ini dikenal dengan emotional eating.

Dalam jangka panjang, emotional eating bisa berdampak pada keseharianmu, utamanya kesehatan. Berat badanmu pun cenderung menaik seiring berjalannya waktu. Terlebih, saat stres, seseorang cenderung memilih makanan secara sembarangan seperti makanan cepat saji.

Meski begitu, ada sejumlah tips yang bisa Kamu lakukan untuk mengatasi emotional eating. Berikut ini tipsnya.

1. Kenali pemicu makan berlebihan
Mula-mula, Kamu harus mengidentifikasi pemicu mengapa nafsu makanmu meluap meski perut tak lapar. Kamu bisa membuat catatan untuk membantu mengidentifikasi hal ini. Atau, Kamu juga bisa berkonsultasi dengan psikolog dan mencari cara untk mengatasi kebiasaan makan berlebihan.

Umumnya, selain karena lapar, nafsu makan berlebihan disebabkan oleh bosan, stres, dan depresi. Jika bosan, sebaiknya cari hal menarik untuk mengisi waktu kosong, seperti menonton film, bukannya makan. Lalu jika stres, Kamu bisa melakukan yoga, bermeditasi, atau jalan-jalan untuk mengatasi emosi. Sementara saat depresi, cobalah untuk mencari teman untuk bicara, berjalan keliling kompleks—tak lupa protokol kesehatan Covid-19, atau jika tak kuasa menahan depresi, konsultasikan dengan psikolog.

2. Ngemil buah-buahan dan kacang-kacangan
Bukan cuma makanan cepat saji, saat stres, Kamu biasanya ingin makan makanan yang manis. Sebagai gantinya, cobalah mengonsumsi buah-buahan yang mengandung gula alami. Dengan demikian, risiko berat badan naik bisa diminimalisasi.

Makanan sehat lainnya yang bisa menjadi pilihan yaitu kacang-kacangan, seperti kacang mete hingga kacang almond. Selain rendah kalori, mereka kaya akan lemak baik dan serat, serta membantu mengatur gula darah.

3. Minum teh hitam
Kadar hormon kortisol akan meningkat saat Kamu sedang stres. Kondisi ini pula yang menyebabkan nafsu makanmu meningkat. Tanpa kontrol yang tepat, berat badanmu bisa naik. Nah, salah satu upaya untuk mencegah hal ini terjadi ialah dengan mengonsumsi segelas teh hitam. Teh ini bisa mengurangi kadar kortisol di tubuh.

Selain itu, selingi dengan melakukan teknik pernapasan ringan. Cobalah untuk menjaga jarak dari gawaimu dan manfaat waktu luang yang Kamu punya untuk sejenak beranjak dari rutinitas harian. Hal ini bisa membantumu mengendalikan hormon kortisol yang meningkat karena stres.

4. Olahraga
Rutin berolahraga juga ampuh mengendalikan produksi hormon kortisol. Pasalnya, olahraga justru akan memicu produksi hormon yang membikin Kamu merasa bahagia seperti endorfin. Selain itu, aktivitas ini jga turut membantu mengurangi risiko depresi, kecemasan, dan insomnia, di samping mengurangi kecenderungan untuk emotional eating.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Tips Merawat Hubungan dengan Pasangan Meski Tak Bertemu

Published

on

By

Tips Merawat Hubungan dengan Pasangan Meski Tak Bertemu Karena Pandemi

Channel9.id-Jakarta. Sudah setahun terlewati, pandemi Covid-19 belum berakhir juga. Sebagaimana telah diketahui, situasi ini berdampak terhadap segala sektor kehidupan masyarakat di dunia, dari ekonomi, sosial, hingga politik.

Bahkan, hubungan percintaan dan asmara seseorang pun bisa terkena dampaknya. Khususnya, bagi mereka yang belum menikah dan tak tinggal satu atap. Kamu mungkin mengalaminya.

Kondisi pandemi ini membikin hubungan percintaan dua insan tak ubahnya seperti menjalani hubungan jarak jauh alias LDR. Menurut penelitian dari University of San Fransisco, konflik sering terjadi pada mereka yang menjalani LDR lantaran kedekatan fisik yang kurang, sehingga merasa hubungan tak aman.

Sebelum pandemi, Kamu mungkin rutin bertemu pasanganmu setiap minggu. Namun, karena physical distancing saat pandemi, agenda pacaranmu jadi terganggu sehingga jarang bertemu. Namun, komunikasi tak langsung melalui layanan perpesanan atau telpon terkadang memicu perselisihan, yang bahkan bisa membikin hubungan kandas. Sayangnya, untuk sekadar bertemu langsung dan menyelesaikan masalah, sangat berisiko untuk Kamu dan pasangan—menimbang penularan Covid-19 yang begitu cepat.

Nah, untuk mempertahankan hubungan di situasi seperti ini, salah satu kuncinya yaitu meminimalisasi konflik dengan pasangan. Untuk itu, cobalah untuk melakukan tips berikut.

1. Sepakat berkomunikasi di waktu tertentu
Menentukan jadwal kapan Kamu dan pasangan harus berkomunikasi menjadi salah satu tips agar hubungan tetap awet dan jauh dari konflik.

Cobalah mencari waktu di mana kalian sama-sama sedang lowong. Misalnya, setelah kalian berdua menuntaskan pekerjaan. Manfaatkan waktu ini untuk sekadar menelepon.

2. Fokus pada kualitas komunikasi
Satu hal penting, cobalah untuk fokus dan prioritaskan kualitas. Mestinya, kualitas komunikasi pasangan di masa pembatasan sosial ini lebih baik, dibandingkan sebelumnya.

Pasalnya, berkomunikasi di situasi seperti ini ialah hal yang berharga. Jadi, mesti benar-benar dimanfaatkan. Topik yang dibicarakan pun semakin luas karena Kamu dan pasangan sulit bertemu.

3. Percaya kepada pasangan
Adapun kunci hubungan agar tak melulu berselisih dan tetap awet ialah percaya pada pasangan.

Tentu Kamu tak bisa melihat langsung apa yang dilakukan oleh pasangan karena tak bisa bertemu langsung. Kamu merasa tak aman atau insecure. Misalnya, Kamu berpikir pasanganmu berkomunikasi dengan orang lain saat dirinya tak kunjung meresponsmu saat dihubungi.

Namun, membangun kepercayaan satu sama lain adalah hal krusial dalam hubungan. Hal ini menjadi faktor penting untuk membuat hubungan terus awet.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC