Channel9.id – Jakarta. Koordinator Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriawan Salim menyoroti rendahnya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa pada 2025. Ia menyebut rata-rata nasional untuk sejumlah mata pelajaran masih rendah, terutama Matematika yang hanya mencapai 36 dalam skala 0 sampai 100.
Satriawan mengatakan TKA pada 2025 diikuti lebih dari 90 persen siswa. Berbeda dengan ujian nasional, TKA bersifat opsional dan tidak menentukan kelulusan siswa.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, rata-rata nasional Bahasa Indonesia mencapai 55, sedangkan Matematika hanya 36. Sementara itu, nilai PKN tercatat 60,91.
“Kalau begitu, rata-rata secara nasional semua mata pelajaran: Bahasa Indonesia 55, Matematika 36, PKN 60,91,” ujar Satriawan dalam diskusi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) bertajuk “Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan RI dalam Membangun Pendidikan Unggul” di Novotel Pulo Mas, Jakarta Timur, Kamis (13/8/2026).
Ia juga memaparkan hasil sejumlah mata pelajaran lainnya. Nilai Fisika tercatat 37,65, Kimia 34,92, Geografi 70,36, Matematika Lanjutan 39,32, Fisika 37,65, dan Kimia 34,92.
Menurut Satriawan, rendahnya capaian TKA tersebut memiliki kemiripan dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang sebelumnya menunjukkan persoalan capaian belajar siswa Indonesia. Ia menilai kedua hasil pengukuran tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam capaian akademik siswa.
“Artinya, nilai TKA berkorelasi dengan nilai PISA tadi yang sama-sama rendah, dari interval 0 sampai 100 tadi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti capaian siswa di DKI Jakarta. Untuk tingkat SMA, nilai Matematika disebut mencapai 40,18, sedangkan Bahasa Inggris berada pada angka 33,23 dalam skala 0 sampai 100.
“Ternyata nilai Matematika untuk Provinsi DKI tingkat SMA itu 40,18, jauh di bawah Yogyakarta,” tuturnya.
Selain TKA, Satriawan menilai hasil pengukuran kemampuan siswa perlu dibaca bersama dengan indikator pendidikan lainnya. Ia menyebut persoalan tersebut juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan.
Menurut dia, hasil pendidikan yang rendah berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia ketika memasuki usia kerja. Karena itu, perbaikan hasil belajar perlu dilakukan secara lebih menyeluruh, tidak hanya melalui satu kebijakan.
“Jadi, kita masih jauh rata-ratanya di bawah negara-negara tetangga kita.”
Satriawan mengatakan capaian akademik siswa Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah dalam pembangunan pendidikan. Ia mendorong hasil TKA dan indikator pendidikan lainnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di sekolah.
Satriawan menilai rendahnya capaian akademik tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Menurut dia, persoalan hasil belajar tidak cukup dilihat hanya dari perubahan materi atau buku pembelajaran.
Ia menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai rendahnya kemampuan membaca dan matematika siswa Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN. Namun, Satriawan menilai solusi berupa penggantian buku perlu dikaitkan dengan standar pendidikan yang lebih mendasar.
“Solusi dari Pak Presiden adalah ganti bukunya, gitu ya. Nah, padahal itu koreksinya agak jauh. Kalau buku diganti, mestinya mengacu kepada SKL,” ucapnya.
Menurut dia, buku merupakan salah satu komponen kurikulum yang seharusnya disusun berdasarkan standar kompetensi lulusan, standar isi, dan capaian pembelajaran. Karena itu, perubahan buku menurut dia perlu ditempatkan dalam kerangka perbaikan sistem pembelajaran secara lebih luas.
“Orang ini pasti tahu tuh, buku itu adalah produk dari Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi sebagai pilihan utama, komponen utama kurikulum. Jadi nggak bisa asal ganti buku, gitu ya, tapi tidak mengacu kepada CP kalau bahasa Kurikulum Merdeka mah begitu,” jelas Satriawan.
HT




