Ekbis

Produksi Beras dan Nilai Tukar Petani Pangan Kompak Naik

Channel9.id, Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja memberi kabar perkembangan positif bahwa proyeksi produksi beras nasional sampai Juni mendatang dapat mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu. Akselerasi ini pun berimplikasi pula pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) Subsektor Tanaman Pangan di April 2026.

“Subsektor yang mengalami kenaikan NTP pada bulan April tahun 2026, yaitu subsektor tanaman pangan dan tanaman perkebunan rakyat. Masing-masing mengalami peningkatan NTP sebesar 0,43 persen dan juga 1,62 persen,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta (4/5/2026).

Adapun untuk indeks NTP Tanaman Pangan dilaporkan BPS meningkat menjadi 112,29 di April. Sebelumnya di Maret, NTP Tanaman Pangan berada di level 111,81. Untuk diketahui, NTP Tanaman Pangan berhasil dijaga pemerintah selalu lebih dari indeks 100 sejak tahun 2022.

Dalam data BPS terbaru, kenaikan NTP Tanaman Pangan sebagian besar disumbang oleh kelompok penyusun yang merupakan kelompok petani tanaman padi. Indeks harga diterima petani padi meningkat dari semula 144,58 di Maret, lalu berkembang menjadi 145,37 di April.

Selain itu, BPS turut pula mengumumkan produksi beras nasional Januari sampai Juni tahun 2026 yang diproyeksikan mengalami peningkatan terhadap produksi beras periode yang sama tahun lalu. Ini tentunya dapat membawa spirit positif demi akselerasi produksi beras nasional.

“Produksi beras sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2026 diperkirakan mencapai 19,31 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 0,05 juta ton atau naik 0,26 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” terang Deputi BPS Ateng.

Terhadap akselerasi produksi beras nasional tersebut juga telah pemerintah dukung dengan memastikan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dipasok sepenuhnya dari penyerapan setara beras produksi dalam negeri. Tidak ada pengadaan dari importasi yang dilakukan Perum Bulog sejak tahun 2025.

Dalam catatan Badan Pangan Nasional (Bapanas), realisasi pengadaan setara beras dari produksi dalam negeri hingga awal Mei 2026 bahkan telah melampaui realisasi Januari-Mei 2025. Per 3 Mei, Bulog telah berhasil menyerap setara beras 2,53 juta ton atau 63,3 persen dari target 4 juta ton. Capaian ini telah melampaui realisasi penyerapan beras selama Januari-Mei tahun lalu yang berkisar di angka 2,47 juta ton.

“Hari ini alhamdulillah, hari di mana kebahagiaan petani itu tercapai. Kenapa? Karena produksinya meningkat, tentu pendapatan petani meningkat. Kita sudah mencapai stok Bulog tertinggi sepanjang sejarah dan selama kita merdeka. Berarti petani ini kesejahteraannya jadi lebih baik, tentu daya belinya naik,” ucap Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam suatu kesempatan.

Kepala Bapanas Amran pun tegas menepis tudingan bahwa masih ada impor beras, padahal Indonesia sudah meraih swasembada beras. Ia menjelaskan Indonesia sudah tidak melakukan impor beras umum yang biasa dikonsumsi masyarakat. Namun memang ada impor beras khusus yang benar-benar tidak bisa ditanam di Indonesia dan jumlahnya sangat kecil.

“Nah ada lagi mengatakan bahwa ini 2024 (masih) impor, kok tiba-tiba terhenti? Ya itulah jagoannya kita. Kemudian (dibilang masih) ada impor, iya ini yang rancu. Ada impor 0,000 sekian persen, itu (beras khusus) basmati yang tidak ditanam di Indonesia. Tidak bisa tumbuh (disini),” beber Amran.

“Yang kita maksud adalah swasembada beras, itu yang medium. (Beras) yang biasa dikonsumsi tiap hari orang Indonesia,” kata Amran lagi.

Stok CBP yang dikelola Bulog sendiri mencatatkan angka yang eksponensial meskipun tidak ada impor beras besar-besaran sejak tahun 2025. Pasokan beras dari serapan produksi dalam negeri totalnya 3,4 juta ton selama 2025 telah mampu memperkuat stok CBP yang nantinya akan disalurkan ke masyarakat Indonesia melalui berbagai program.

Misalnya melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras yang menghadirkan beras berkualitas baik dengan harga dibawah Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk masyarakat. Realisasi penjualannya selama April mencapai 107,9 ribu ton. Realisasi ini sudah melebihi realisasi SPHP beras di Maret yang 66,8 ribu ton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6  +  3  =