Connect with us

Lifestyle & Sport

Sedang Diet? Waspadai Makanan yang Bikin Cepat Lapar Ini

Published

on

Sedang Diet? Waspadai Makanan yang Bikin Cepat Lapar Ini

Channel9.id-Jakarta. Kamu yang sukses menjalani program menurunkan badan selama sebulan Ramadan kemarin, pastinya merasa bangga. Nah, kini saatnya Kamu menjaga yang telah Kamu raih itu dengan menjaga gaya hidup sehat, termasuk pola makan.

Nah, salah satu cara untuk menjaga berat badan itu ialah mengonsumsi makanan yang membuatmu kenyang lebih cepat dan lama. Namun, selepas Ramadan, Kamu cenderung jor-joran dalam memilih makan. Terlebih, Kamu punya kesempatan untuk makan kapan pun Kamu mau—tidak seperti saat puasa. Salah-salah, Kamu malah mengonsumsi makanan yang membikin Kamu mudah lapar, bahkan ingin terus makan lagi. Tentu saja makanan ini sebaiknya dihindari, jika tidak, berat badanmu bisa bertambah.

Baca juga : Bahaya Terlalu Banyak Konsumsi Makanan Berlemak Trans

Nah, berangkat dari hal itu, ada baiknya Kamu mengetahui makanan apa saja yang membikin cepat lapar. Berikut ini di antaranya.

1. Sereal
Seperti roti tawar putih, sarapan dengan sereal juga membuatmu lebih cepat lapar. Terlebih bila sereal mengandung tambahan banyak gula yang cepat dicerna oleh tubuh, sehigga Kamu cepat lapar. Namun, lain lagi ceritanya bila Kamu menambahkan makanan yang kaya serat dan nutrisi, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, ke dalam sereal.

2. Roti tawar putih
Makanan ini kerap dipilih sebagai menu sarapan. Namun, setelah mengonsumsinya, Kamu bisa cepat lapar dan ingin memakannya lagi. Ini terjadi lantaran roti tawar putih tak mengandung serat atau nutrisi yang mengenyangkan. Adapun roti ini mengandung karbohidrat olahan yang cepat dicerna menjadi gula oleh tubuh, yang membuat tubuh melepaskan insulin dan membuatmu cepat lapar.

Sebagai gantinya, Kamu disarankan mengonsumsi roti gandum yang kaya serat saat sarapan, yang membikin Kamu kenyang lebih lama.

3. Makanan cepat saji
Tingginya natrium atau garam dalam makanan cepat saji bisa menyebabkan dehidrasi. Kondisi ini bisa membuatmu ingin makan dan minum berulang-ulang. Selain itu, lemak trans pada makanan ini bisa memicu radang usus dan mengganggu kemampuan tubuh untuk mengendalikan nafsu makan.
4. Camilan asin
Adalah hal yang wajar bila Kamu mengidamkan camilan asin setelah makan makanan manis. Sebab pengecap rasa dan otak mengaitkan energi dengan makanan yang manis, bahkan setelah Kamu banyak makan camilan asin.

Selain itu, fenomena sensor rasa kenyang juga membuat tubuh beranggapan bahwa hanya “lambung asin” yang sudah terisi penuh, namun “lambung manis” belum terisi. Jadi tak heran bila Kamu ingin makan manis setelah makan makanan asin. Untuk mengantisipasinya, cobalah untuk mengontrol asupan kedua jenis makanan ini agar tak makan berlebihan.

5. Jus buah
Jus buah biasanya diberi tambahan gula, air, dan disaring. Hal ini sebetulnya malah mengurangi kandungan serat dalam buah yang bisa membuatmu kenyang lebih lama. Mengonsumsi segelas jus buah ini akan meningkatkan kadar gula dalam darah, namun menurunkannya secara cepat sehingga Kamu jadi cepat lapar.

Ketimbang jus, Kamu lebih disarankan mengonsumsi smoothies (tak disaring), tanpa gula, dan menambahkan bubuk protein guna menyeimbangkan gula darah dan meningkatkan rasa kenyang.

Nah, guna mencegah nafsu makan berlebihan, Kamu sangat disarankan untuk memilih makanan yang sehat. Khususnya makanan yang mengandung lemak tak jenuh, protein, dan karbohidrat kompleks. Makanan ini membuatmu merasa kenyang lebih lama, karena dicerna lebih lambat di dalam tubuh.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Risiko Makan Terlalu Cepat, Salah Satunya Bikin Berat Badan Naik

Published

on

By

Risiko Makan Terlalu Cepat, Salah Satunya Bikin Berat Badan Naik

Channel9.id-Jakarta. Normalnya, seseorang membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk menghabiskan seporsi makanan berat pada siang atau malam hari. Kurang dari waktu tersebut, seseorang dikatakan makan terlalu cepat.

Baca juga: COVID-19 Sedang Parah, Ini Makanan Sumber Vitamin D Untuk Perkuat Daya Tahan Tubuh

Nah, apakah Kamu sering makan cepat-cepat? Kalau iya, sebaiknya hindari hal tersebut, apa pun alasannya. Pasalnya, makan cepat-cepat berisko menyebabkan sejumlah gangguan bagi kesehatan, terutama pada sistem pencernaan. Hal ini pun telah dibuktikan oleh sejumlah penelitian.

Memangnya, apa saja risikonya? Simak ulasan berikut ini.

1. Tersedak
Kalau Kamu makan buru-buru, makanan jadi tak terkunyah dengan sempurna. Saat ditelan, makanan ini bisa membuatmu tersedak karena tersangkut dikerongkongan. Pada beberapa kasus, kondisi ini membuat saluran napas terhambat dan membikin sulit bernapas, bahkan bisa menyebabkan kematian.

2. Terlalu banyak makan
Sistem saraf dan hormon yang bekerja di saluran pencernaan akan mengirimkan sinyal pada otak bahwa Kamu sudah kenyang. Namun, hal ini membutuhkan waktu paling tidak 20 menit. Artinya, otak butuh waktu untuk menyadari bahwa perut kenyang.

Nah, jika Kamu makan cepat-cepat, Kamu cenderung makan lebih banyak. Pasalnya, di saat Kamu makan lagi dan lagi, otak belum menyadari bahwa perutmu kenyang. Nah, hal inilah yang bisa membuat perut begah dan berat badanmu naik.

3. Kalori lebih banyak
Selain itu, menurut penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of the American Dietetic Association, mereka yang makan cepat-cepat cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori dibanding mereka yang makan pelan-pelan. Ini terjadi karena tingkat kepuasan mereka tidak setinggi ketika mereka mencoba untuk makan pelan-pelan.

Jika Kamu sedang menurunkan berat badan dengan mengurangi kadar kalori, sebaiknya makan lebih lambat dari biasanya.

4. Beban pencernaan lebih besar
Sudah disinggung sebelumnya, saat makan cepat-cepat, makanan belum dilumat sempurna. Jadi makanan yang ditelan cenderung masih keras.

Nah, saat makanan ini masuk ke perut, usus harus bekerja lebih keras untuk melumatkan dan mencerna makanan. Usus pun kesulitan membersihkan diri dan menyerap nutrisi dalam tubuh. Kalau sudah demikian, kemungkinan besar makanan tak dicerna atau diserap nutrisinya oleh tubuh dengan maksimal, sehingga meninggalkan sisa-sisa zat dan racun dalam tubuh.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Agar Efektif, Dobel Masker Atau Ikat Tali Masker Medis

Published

on

By

Agar Efektif, Dobel Masker Atau Ikat Tali Masker Medis

Channel9.id-Jakarta. Lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia membikin banyak pihak kalap. Bahkan rumah sakit di sejumlah wilayah dilaporkan kewalahan menangani pasien ini. Masuknya varian Covid-19 terkuat, yaitu varian Delta, disebut sebagai pemicu lonjakan kasus COVID-19.

Dengan situasi seperti sekarang ini, sudah seharusnya masyarakat lebih disiplin menjalankan protokol kesehatan. Salah satu yang tak boleh absen adalah menggunakan masker, terutama saat ke luar rumah dan di tempat ramai.

Baca juga: Ahli Tak Lagi Sarankan Penggunaan Masker Kain

Sejumlah ahli kesehatan menyarankan penggunaan masker dobel. Untuk menggunakannya, masker medis atau bedah dipakai di bagian dalam, sementara masker kain di bagian luar. Cara ini membantu mengencangkan masker medis, sehingga masker tak lagi bercelah di bagian sisi. Dengan begitu, hal ini mencegah udara yang belum difiltrasi, yang mungkin mengandung virus, terhirup.

Namun, jika enggan menggunakan masker ganda, masih ada cara lain yang bisa meningkatkan filtrasi masker medis. Caranya yaitu dengan mengikat loop atau tali di bagian telinga. Dengan demikian, masker medis yang dipakai lebih rapat sehigga tak ada lagi ruang masuk udara di sisi masker.

Untuk mengikat tali, pastikan tali masker diikat sedekat mungkin dengan ujung masjer. Kemudian selipkan ujung masker ke arah dalam. Terakhir, pastikan tak ada rongga udara saat dipakai.

Lebih lanjut, untuk memeriksa apakah masker sudah terpasang dengan benar, cobalah taruh tangan di tepian masker. Pastikan tak ada udara yang berembus dari area dekat mata atau sisi masker. Kemudian, jika masker memang pas, Kamu akan merasakan udara hangat masuk lewat bagian depan masker dan mungkin bisa melihat bahan masker kembang-kempis saat bernapas.

Baik masker dobel atau masker ditali, keduanya direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC). “Kedua metode bisa menghalangi partikel masuk, hingga lebih dari 95%, dalam percobaan laboratorium,” jelas tulis laporan CDC.

“Di tengah varian Corona yang beredar, apa pun yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki pemakaian masker agar berfungsi lebih baik, semakin cepat kita bisa mengakhiri pandemi ini,” pungkas John T Brooks, ahli medis CDC, dikutip Rabu (23/6).

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Varian Delta Jadi Varian COVID-19 Terkuat

Published

on

By

Varian Delta Jadi Varian COVID-19 Terkuat

Channel9.id-Jakarta. Beberapa waktu lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengumumkan bahwa virus Corona varian Delta (sebelumnya disebut B1617.2) merupakan varian yang sangat menular dan terkuat. Oleh karenanya, WHO mengklasifikasikannya sebagai ‘Variant of Concern’ atau VoC, yang harus diwaspadai di dunia.

Baca juga: Anies: Ada Kemungkinan Anak-Anak Jakarta Terinfeksi Varian Baru Covid-19

Dr Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO mengatakan pada Selasa (22/6) bahwa varian itu lebih mematikan karena lebih efisien menulari manusia. Varian ini akan menginfeksi individu yang rentan. “(Varian Delta) akan menemukan individu-individu yang rentan, yang akan menjadi sakit parah, harus dirawat di rumah sakit dan berpotensi meninggal,” sambungnya.

“Oleh karena itu jika ada orang yang dibiarkan tanpa vaksinasi, mereka tetap berada pada risiko lebih buruk,” tandasnya.

Berangkat dari kekhawatiran itu, Dr Mike mengimbau para pemimpin dunia dan pejabat kesehatan masyarakat untuk segera melakukan donasi dan pendistribusian vaksin.

Pejabat teknis WHO untuk COVID-19, Maria Van Kerkhove menmabahkan bahwa varian Delta kini sudah menyebar di 92 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Indonesia.

Ia mengatakan bahwa varian ini bisa menyebabkan gejala yang lebih parah, pun bisa memicu gejala yang berbeda dari varian lainnya. Mengenai hal ini, lanjutnya, mesti dilakukan penelitian lebih lanjut.

“Tidak ada varian yang benar-benar menemukan kombinasi penularan dan kematian yang tinggi. Tetapi, varian Delta adalah virus yang paling mampu, tercepat, dan terkuat dari virus-virus itu,” kata Maria.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC