Connect with us

Techno

Tak Ada YouTube Rewind 2020

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Platform video streaming YouTube biasanya selalu menutup akhir tahun dengan menayangkan video kompilasi YouTube Rewind. Kebiasaan ini dimulai sejak 2020.

Video Rewind biasanya menyorot momen, kreator dan tren terbesar di YouTube selama setahun terakhir.

Sayangnya, YouTube Rewind pada tahun ini ditiadakan. Pasalnya, YouTube merasa kurang cocok jika meluncurkan video Rewind tahun ini. Tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kami tahu bahwa banyak hal baik yang terjadi di tahun 2020 diciptakan oleh kalian semua,” tulis YouTube melalui Twitter, dikutip dari The Verge, Sabtu (13/11).

Baca juga : Harus Terapkan Spectrum Sharing Agar 5G Bisa Total

“Kalian menemukan cara untuk menyenangkan orang lain, membantu mereka bertahan, dan membuat mereka tertawa. Kalian membuat tahun yang sulit menjadi jauh lebih baik,” imbuhnya.

Sejatinya, 2020 seharusnya menjadi tahun ke-10 YouTube mengunggah video Rewind. Namun, tahun ini YouTube Rewind absen pertama kali setelah ditayangkan 10 tahun.

Warga net memiliki respons beragam. Ada yang setuju dan ada yang tidak.

Untuk diketahui, YouTube Rewind biasanya diisi oleh selebriti dan YouTuber wahid dan ditonton hingga ratusan juta kali setiap tahunnya.

Lebih lanjut, belum diketahui apakah YouTube akan menghadirkan kembali video Rewind di 2021.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

YouTube Bayar Konten Kreator di Shorts Sebesar Rp143 Juta per Bulan

Published

on

By

YouTube Bayar Konten Kreator di Shorts Sebesar Rp143 Juta per Bulan

Channel9.id-Jakarta. Mulai Agustus ini, YouTube akan membayar konten kreator hingga $10.000 per bulan (atau Rp143 juta) yang membuat video di pesaing TikToknya, YouTube Shorts. Sebelumnya, perusahaan berencana untuk membayar $100 juta (atau Rp1,4 triliun) sepanjang tahun depan.

Dengan bayaran itu, bisa dibilang konten kreator bisa mendapat banyak uang. Sayangnya, pembayarannya tidak dijamin. Sebab bayaran itu bergantung pada berapa banyak orang membuat dan menonton Shorts per bulan. Selain itu, pembayaran juga bergantung pada lokasi masing-masing penonton konten kreator.

Baca juga: YouTube ‘Premium Lite’ Tawarkan Tontonan Bebas Iklan dengan Harga Lebih Murah

YouTube juga mengharuskan orisinalitas video. Unggahan ulang dan video yang ditandai dengan watermark dari platform lain—seperti TikTok, Snapchat, atau Reels—tak akan masuk ke saluran pembayaran.

Adapun saat ini, pembayaran hanya tersedia di 10 wilayah, termasuk AS, Inggris, India, dan Brasil, dan sebagainya. Perusahaan berencana akan memperluas daftar itu di masa mendatang.

Sebagaimana telah diketahui, konten kreator secara konvensional dibayar di YouTube berdasarkan iklan yang ditayangkan di video mereka—di mana jumlah penayangan iklan dan jumlah uang yang mereka terima berkaitan erat. Namun, di Shorts, YouTube tak akan menayangkan iklan di setiap klip.

Skema pembayaran seperti itu tampaknya semakin umum. TikTok dan Snapchat membayar konten kreator berdasarkan popularitas video mereka, bukan berdasarkan iklan. Ini bisa menguntungkan konten kreator, kendati kurang jelas perihal jumlah penghasilan yang bisa diperoleh konten kreator.

Di YouTube, dana tersebut menawarkan cara untuk memulai upaya late-in-the-game di layanan video pendek. Meskipun TikTok memiliki awal yang besar, YouTube pada akhirnya adalah YouTube—platform video yang sangat besar dan sangat populer—yang bisa memberi keunggulan saat mencoba Shorts.

Kepala Produk YouTube Neal Mohan menunjukkan bahwa YouTube tak mengharuskan konten kreator menggunakan Shorts untuk meningkatkan engagement mereka secara keseluruhan di platform.

“Tujuan kami di sana adalah untuk memberikan suara kepada setiap konten kreator. Jika mereka ingin melakukannya melalui film dokumenter berdurasi dua jam tentang topik tertentu yang mereka sukai, maka YouTube harus menjadi tempatnya. Jika mereka ingin melakukannya melalui Shorts 15 detik, yang menggabungkan hit favorit mereka dari artis musik favorit mereka, mereka seharusnya bisa melakukannya,” tuturnya, dikutip dari The Verge (4/8).

(LH)

Continue Reading

Techno

Distribusi Set Top Box TV Digital Berpotensi Terpengaruh PPKM

Published

on

By

Distribusi Set Top Box TV Digital Berpotensi Terpengaruh PPKM

Channel9.id-Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan bahwa pihaknya masih menggodok persiapan untuk distribusi set top box (STB). Untuk diketahui, STB ialah perangkat yang dipasang di TV analog agar bisa menangkap siaran TV digital.

“Persiapan, mekanisme dan koordinasi distribusi set top box dengan pihak terkait masih terus dimatangkan,” tutur Marvels Situmorang, Direktur Pengembangan Pitalebar, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo, dikutip belum lama ini.

Baca juga: Kominfo Tegaskan TV Digital Tak Perlu Internet

Marvels memprediksi rencana distribusi STB akan terpengaruh kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM level 4—yang diperpanjang setidaknya hingga 9 Agustus mendatang.

STB subsidi akan dibagikan kepada rumah tangga miskin yang memiliki TV yang belum menunjang siaran digital. Rumah tangga yang dimaksud tak terbatas pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari Kementerian Sosial.

Perangkat ini akan didistribusikan secara bertahap, sesuai dengan tahapan analog switch off (ASO) di Indonesia—di mana ada lima tahapan secara total.

Di tahap I, ASO berlangsung paling lambat di 17 Agustus nanti, di wilayah Aceh 1, Kepulauan Riau 1, Banten 1, Kalimantan Timur 1, Kalimantan Utara 1 dan Kalimantan Utara 3. Setelah 17 Agustus, wilayah-wilayah ini hanya akan menerima siaran TV teresterial digital.

Secara rinci, jumlah penerima STB subsidi di masing-masing daerah yaitu sebanyak 90.695 jiwa di wilayah siaran Aceh 1 17.046, Banten 1 14.544, Kalimantan Timur 1 29.368, Kalimantan Utara 1 6.818, Kalimantan Utara 3 4.646 dan Kepulauan Riau 1 18.273.

Adapun pemerintah menaksir ada sekitar 27 juta jiwa keluarga miskin, dengan penghitungan satu keluarga memiliki empat orang anggota, maka diperlukan 6,5 hingga 7 juta unit set top box untuk subsidi.

Kominfo menjelaskan bahwa ada tiga cara distribusi STB yaitu disalurkan di lokasi tertentu sesuai kesepakatan, diantar langsung ke rumah penerima bantuan, atau disalurkan oleh penyelenggara multipleksing di luar cara-cara tadi.

Untuk diketahui, STB subsidi sendiri merupakan komitmen penyelenggara multipleksing siaran TV teresterial digital, sesuai dengan wilayah siaran, dan pemerintah jika jumlah STB tersebut tidak mencukupi.

(LH)

Continue Reading

Techno

YouTube ‘Premium Lite’ Tawarkan Tontonan Bebas Iklan dengan Harga Lebih Murah

Published

on

By

YouTube 'Premium Lite' Tawarkan Tontonan Bebas Iklan dengan Harga Lebih Murah

Channel9.id-Jakarta. YouTube akan menghadirkan langganan premium yang lebih terjangkau. Dengan menikmati langganan ini, pengguna bisa menikmati tayangan video bebas iklan.

Untuk diketahui, paket “Premium Lite” itu pertama kali dilaporkan oleh pengguna di ResetEra. YouTube pun mengonfirmasi hal ini, dan mengaku sedang mengujinya di Belgia, Denmark, Finlandia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, dan Swedia.

“Di Nordics dan Benelux (kecuali Islandia), kami menguji penawaran baru kepada pengguna: Premium Lite seharga €6,99/bulan (atau Rp119 ribu/bulan) dan termasuk video bebas iklan di YouTube,” terang juru bicara YouTube, dilansir dari The Verge (3/8). Sebagai perbandingan, paket Premium YouTube yang ada berharga sekitar €11,99 per bulan di Eropa.

Baca juga: YouTube Tambahkan Cara Baru Untuk Memberi Tip ke Konten Kreator

Premium Lite mencakup penayangan bebas iklan di seluruh aplikasi YouTube di web, iOS, Android, smart TV, dan konsol game, serta di aplikasi YouTube Kids. Namun, langganan ini tak termasuk manfaat YouTube Music seperti mendengarkan bebas iklan. Pun tak termasuk fitur Premium lainnya seperti pemutaran di latar belakang layar dan unduhan offline.

Premium Lite kiranya menarik. Namun, biayanya sekitar 60% dari harga langganan Premium reguler, padahal hanya menawarkan sekitar seperempat dari manfaatnya.

YouTube memastikan bahwa Premium Lite masih dalam tahap percobaan. Pihaknya pun masih mempertimbangkan untuk meluncurkannya ke publik dan rencana lain, bergantung respons dari pengguna.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC