Channel9.id – Jakarta. Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) mendesak pemerintah menghentikan secara permanen Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) menyusul meninggalnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Tahun 2026. PBHI juga meminta pembentukan tim investigasi independen untuk mengusut penyebab kematian para peserta secara transparan dan akuntabel.
Ketua Badan Pengurus Nasional PBHI Kahar Muamalsyah menyampaikan lima peserta meninggal dalam rentang 17–26 Juni 2026 di sejumlah satuan TNI yang menjadi lokasi pelatihan. Ia mempertanyakan relevansi latihan dasar kemiliteran dengan kompetensi manajerial bagi masyarakat sipil.
“Lima kematian dalam waktu sembilan hari bukan lagi dapat diperlakukan sebagai musibah. Ini adalah alarm keras bahwa negara telah memaksakan sebuah kebijakan yang keliru sejak titik awal perancangannya,” kata Kahar dalam siaran pers PBHI, diterima Senin (29/6/2026).
Kahar menilai pemerintah belum memberikan penjelasan rasional mengenai hubungan antara latihan dasar kemiliteran dan pengelolaan koperasi. Ia menyebut kompetensi manajerial lebih berkaitan dengan kepemimpinan, akuntabilitas, literasi keuangan, dan penguatan organisasi daripada doktrin kemiliteran.
Kahar juga menyoroti proses skrining kesehatan peserta yang dinilai belum memadai. Ia menyebut temuan 32 peserta hamil setelah pelatihan berlangsung menunjukkan kelemahan dalam seleksi, mitigasi risiko, dan perlindungan keselamatan terhadap lebih dari 35.000 peserta program.
“Fakta bahwa 32 peserta yang sedang hamil baru diketahui setelah pelatihan berlangsung menunjukkan lemahnya proses skrining kesehatan sejak awal,” ujar Kahar.
Selain penghentian Latsarmil, PBHI mendesak aparat penegak hukum melakukan penyelidikan pidana terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kebijakan dan pelaksanaan program. PBHI juga meminta pemerintah mengevaluasi berbagai kebijakan yang memperluas peran militer di ranah sipil dan mengembalikan TNI pada mandat konstitusionalnya sebagai alat pertahanan negara.
“Ketika ruang sipil semakin dikendalikan oleh pendekatan militer, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas demokrasi, tetapi juga keselamatan warga negara,” kata Kahar.
Sebanyak lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026 meninggal saat mengikuti latihan dasar militer (latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Peserta pertama adalah Anisa Muyassaroh, mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan. Anisa Muyassaroh mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan meninggal dunia akibat heat stroke serta henti jantung.
Peserta kedua adalah Yonanda Muhammad Taufiq, yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad), Baturaja. Yonanda disebut mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 pukul 17.17 WIB, sebelum dirujuk ke rumah sakit.
Ketiga adalah Novia Rahmadhani Sihotang, peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Novia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan langsung mendapat penanganan dari tim kesehatan satuan. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Novia meninggal dunia akibat tuberkulosis.
Keempat, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan yang mengikuti pendidikan di Satdik Yon Parako 465. Pada 25 Juni 2026 pukul 14.30 WIB, Rifki mengeluhkan sesak napas dan langsung mendapat penanganan awal dari tim kesehatan satuan. Setelah kondisinya membaik, ia sempat kembali mengikuti kegiatan.
Namun pada sore hari, kondisi kesehatannya kembali menurun sehingga segera dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa untuk memperoleh penanganan medis lanjutan. Di rumah sakit, Rifki menjalani perawatan intensif, termasuk di ruang Intensive Care Unit (ICU). Meski telah mendapatkan penanganan maksimal dari tim dokter, ia dinyatakan meninggal dunia pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB.
Terbaru adalah Nola Dya Sari adalah peserta dari Satuan Pendidikan (Satdik) Dodik Bela Negara Kalimantan, yang meninggal pada Jumat (26/6/2026).
HT





