Connect with us

Techno

Belanja Bisa Lebih Mudah Lewat Layanan Google

Published

on

Belanja Bisa Lebih Mudah Lewat Layanan Google

Channel9.id-Jakarta. Kiranya berbelanja bukanlah hal yang dituju kebanyakan pengguna saat mengunjungi Google. Namun, baru-baru ini, raksasa teknologi ini mewacanakan bahwa pihaknya akan menambahkan fitur ini.

Adapun wacana itu dibeberkan di konferensi I/O 2021 pada Selasa (18/5) lalu. Perusahaan itu menjelaskan bahwa pengelaman berbelanja bisa didapat melalui seluruh layanannya. Di layanan Photo, misalnya, Google telah menambahkan perintah baru di Lens, yaitu “Telusuri di dalam screenshot”.

Fitur ini memungkinkan pengguna mencari produk yang cocok dengan foto yang ditelusuru. Contohnya, jika pengguna menyimpan foto Steph Curry, Google Lens akan mencari produk yang cocok dengan gambar itu.

Selain di Photo, pada Chrome, Google telah menambahkan fitur yang membantu pengguna melacak pembelian yang tertunda. Tak lama setelah membuka tab baru, pengguna akan melihat semua keranjang belanja di tengah halaman.

Jadi, jika pengguna sedang dalam proses membeli sesuatu namun perhatiannya teralihkan, Chrome akan mengingatkan bahwa pengguna belum menyelesaikan pembelian.

Lebih jauh, Google pun memperluas kemitraannya dengan Shopify. Ke depannya, perusahaan berencana untuk mempermudah pedagang Shopify—di mana ada 1,7 juta pedagan dan kemungkinan terus bertambah—untuk menampilkan produk mereka di seluruh layanan Google, seperti Penelusuran, YouTube, dan lainnya.

Terakhir, Google akan mengizinkan penggunanya menautkan platform belanja, seperti Sephora, ke akun Google. Di waktu bersamaan, perusahaan akan menggunakan informasi yang tersedia di ini untuk memberi saran belanja.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Tamagotchi Akan Hadir Lagi, Sekarang Lebih Canggih!

Published

on

By

Tamagotchi Akan Hadir Lagi, Sekarang Lebih Canggih!

Channel9.id-Jakarta. Generasi yang lahir di tahun 1990-an pasti familiar dengan Tamagotchi. Kabarnya, hewan peliharaan digital ini akan diciptakan kembali di ulang tahunnya yang ke-25.

Tamagotchi baru itu akan hadir dalam bentuk jam tangan pintar atau smart watch, dikutip dari The Verge, Minggu (20/6). Ini memungkinkan penggunanya membawa mainan tersebut pergi ke mana pun. Menurut laporan Kotaku, perangkat baru ini punya fitur layar sentuh sehingga pengguna bisa mengelus hewan peliharaan, pengenalan suara untuk bicara, pedometer, juga menampilkan waktu.

Untuk diketahui, setelah Tamagotchi pertama dirilis pada akhir 90-an, dunia tampaknya antusias, disusul serial anime-nya, video game, dan film. Tamagotchi Smart sendiri pada dasarnya persis dengan produk di tahun 90-an, namun kini dengan teknologi yang lebih maju. Layarnya lebih berwarna—bukan monokrom seperti dia awal, dan bisa juga berinteraksi dengan Tamagotchi lainnya. Selain itu, mainan ini punya ketahanan baterai hingga 30 jam, yang kemudian bisa diisi ulang jika habis.

Menurut Gizmodo, di tahap awal, produsen Tamagotchi Bandai akan menjual Tamagotchi Smart melalui undian. Barulah pada 23 November mendatang, perangkat ini akan dijual umum dengan seharga 7.480 yen (sekitar Rp980 ribu). Pembeli bisa mendapat konten tambahan dengan memasukkan kunci fisik kecil, yang Bandai jual secara terpisah seharga 1.100 yen (sekitar Rp144 ribu). Namun, belum bisa dipastikan kapan perangkat ini dijual di luar Jepang.

(LH)

Continue Reading

Techno

Facebook Segera Hadirkan Podcast di Platformnya

Published

on

By

Facebook Segera Hadirkan Podcast di Platformnya

Channel9.id-Jakarta. Facebook akan merilis fitur podcast-nya pada 22 Juni mendatang. Dengan begitu, pengguna bisa membuat klip dari acara favorit mereka.

Dilansir dari The Verge, host bisa menautkan umpan RSS acara mereka ke Facebook, yang kemudian secara otomatis akan mengunggah semua episode ke depannya di News Feed atau Umpan Berita.

Seluruh episode itu akan muncul di tab “podcast”—yang saat ini belum ada. Namun, perusahaan sejatinya telah memberi bocoran pada Apri lalu terkait rencana kehadiran fitur audio di platformnya.

Baca juga: Facebook Kembangkan Metode untuk Melacak Deep Fake dan Sumbernya

Adapun kehadiran podcast pada Juni ini dilaporkan pertama kali oleh Podnews. Facebook telah mengonfirmasi bahwa untuk permulaan, nantinya hanya sejumlah pemilik halaman yang bisa mengaksesnya. Namun, tampaknya perusahaan masih terus-terusan memberi informasi melalui email kepada para pemilik halaman, sehingga ada kemungkinan peluncuran ini akan lebih luas dari perkiraan awal.

“Facebook akan menjadi tempat di mana orang bisa menikmati, berdiskusi, dan berbagi podcast yang mereka sukai satu sama lain,” tulis perusahaan, dikutip dari The Verge, Jumat (18/6).

Podcaster yang mempublikasikan produknya di platfrom harus memenuhi persyaratan layanan podcast di Facebook. Ini merupakan perjanjian yang relatif standar, namun belum jelas batasan terkait yang bisa dilakukan Facebook terhadap podcast yang didistribusikan di platformnya. Misalnya, memberi hak kepada Facebook untuk membuat karya turunan—yang mungkin diperlukan untuk mendistribusikan podcast dalam format tertentu, pun bisa juga bisa memperingatkan podcaster yang melindungi IP mereka.

Dengan hadirnya opsi untuk mendistribusikan podcast melalui Facebook, podcaster bisa memutuskan apakah akan mengaktifkan klip, yang menurut perusahaan bisa dibuat oleh pendengar dan berdurasi hingga satu menit. Adapun cara ini dinilai bisa membantu meningkatkan visibilitas dan keterlibatan pendengar podcast. Pun kemungkinan podcast akan mudah dibagikan di luar halaman podcaster. Sekadar gambaran, klip pendek menjadi cara utama bagi streamer Twitch untuk berbagi momen tertentu dari streaming panjang mereka, dan Facebook tampaknya mengharapkan hal yang sama pada podcast.

Sebagai infromasi, pembaruan itu datang saat perusahaan ingin menghadirkan audio di platformnya. Mark Zuckerberg menjadi host pertama Live Audio Room di Amerika Serikat, belum lama ini. Pada April lalu, perusahaan juga mengumumkan rencana untuk mengahdirkan fitur audio yang disebut Soundbites, yang akan ditayangkan di News Feed. Ide di balik Soundbites adalah memberi pengguna “studio suara bagi Anda” dan memungkinkan mereka membuat klip pendek yang bisa dibagikan.

Dengan podcast, Facebook tampaknya memanfaatkan situasi di mana podcaster menggunakan platform media sosial untuk mempromosikan podcast mereka. Adapun Facebook ingin memungkinkan pengguna memublikasikan podcast langsung ke platform dan memudahkan mereka untuk promosi, sekaligus membuat pengguna betah dan tak meninggalkan Facebook.

(LH)

Continue Reading

Techno

Instagram Reels Mulai Tampilkan Iklan

Published

on

By

Instagram Reels Mulai Tampilkan Iklan

Channel9.id-Jakarta. Instagram mengumumkan bahwa saingan TikTok-nya, Reels, akan menayangkan iklan mulai Kamis (17/6). Dengan demikian, pengiklan di belahan dunia mana pun bisa mengiklan di fitur ini.

Perusahaan menjelaskan bahwa iklan yang tayang berdurasi maksimal 30 detik. Seperti Reels, iklan akan tayang dalam format vertikal, mirip iklan di Instagram Stories. Selain itu, iklan yang baru akan tayang dan pengguna bisa menyukai, mengomentari, dan menyimpannya—sama seperti video Reels lainnya.

Baca juga: Bagaimana Instagram Menentukan Feed Pengguna

Sebelumnya, pada awal tahun ini, Instagram menguji iklan di pasar tertentu, termasuk India, Brasil, Jerman, dan Australia. Kemudian pengujian diperluas ke Kanada, Prancis, Inggris, dan AS baru-baru ini. Adapun pengadopsi awal fitur itu di antaranya brand seperti BMW, Nestlé (Nespresso), Louis Vuitton, Netflix, Uber, dan lainnya.

Dilansir dari TechCrunch, Instagram mengatakan bahwa iklan akan tayang di sebagian besar tempat pengguna melihat konten Reels, termasuk di tab Reels, Reels di Stories, Reels di Explore, dan Reels di Feed, serta akan muncul di antara Reels yang diunggah pengguna. Namun, agar iklan Reel dapat ditayangkan, pengguna harus terlebih dahulu berada dalam penampil Reel layar penuh yang imersif.

Instagram tak memastikan seberapa sering pengguna akan melihat iklan Reels. Namun, pihaknya menjelaskan bahwa jumlah iklan yang ditemui pengguna akan bervariasi bergantung bagaimana mereka menggunakan platform. Perusahaan pun akan memantau tanggapan pengguna terkait iklan dan komersialitas seluruh Reels.

Sama seperti produk periklanan Instagram lainnya, iklan Reels akan diluncurkan dengan model berbasis lelang. Namun sejauh ini, Instagram menolak untuk membagikan metrik kinerja seputar kinerja iklan tersebut. Pun belum menawarkan alat atau template yang bisa membantu pengiklan beriklan di Reels. Sebaliknya, Instagram justru berasumsi bahwa pengiklan sudah tahu cara membuatnya, lantaran kesamaan iklan di Reels dengan iklan video vertikal lainnya di platform lain.

Kendati video vertikal diakui bisa mengarahkan konsumen ke situs belanja e-commerce, Instagram belum memanfaatkan iklan Reel untuk mengarahkan pengguna ke Toko Instagram bawaannya. Padahal jika demikian, ini seperti langkah natural yang bisa menyatukan platform dengan bagian yang lain dari aplikasinya.

Namun, terlepas dari langkah itu, Instagram perlu menjadikan Reels sebagai tujuan yang menarik—sesuatu yang dilakukan oleh saingan TikTok lainnya, seperti Snap dan YouTube, yaitu dengan membayar konten secara langsung. Sementara, Instagram telah memberi penawaran kepada bintang TikTok secara langsung.

Untuk diketahui, peluncuran iklan di Instagram Reels mengikuti berita kenaikan harga iklan TikTok. Bloomberg melaporkan bahwa pada bulan ini, TikTok meminta lebih dari $1,4 juta (setara dengan Rp20,2 miliar) untuk beriklan di halaman beranda di Amerika Serikat (AS), pada kuartal ketiga. Adapun harga ini akan melonjak menjadi $1,8 juta (setara dengan Rp25,9 miliar) pada kuartal keempat, dan lebih dari $2 juta (setara dengan Rp28,8 miliar) pada hari libur. Kendati perusahaan masih membangun tim iklannya dan pengiklan belum beriklan di aplikasi, TikTok saat ini punya lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan di AS.

Sekadar informasi, baik Instagram maupun TikTok, saat ini punya lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan secara global. Kendati demikian, Reels Instagram hanya bagian dari platform Instagram. Sayangnya, Instagram menolak untuk membagikan berapa banyak pengguna yang dimiliki Reels. Sebagai gambaran, Instagram Stories telah digunakan oleh sekitar 500 juta pengguna, angka yang menunjukkan kemampuan Instagram untuk mengarahkan pengguna ke berbagai area aplikasinya.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC