Connect with us

Techno

Beri Perlindungan Merek, Pandi dan Kemenkumham Berkolaborasi

Published

on

Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), guna melindungi pemegang merek dan pengguna nama domain internet.

Channel9.id-Jakarta. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), guna melindungi pemegang merek dan pengguna nama domain internet.

Menurut Ketua Pandi Yudho Giri Sucahyo, upaya tersebut membantu sektor pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang terdampak akibat pandemi Covid-19.

“UMKM yang menjadi penggerak ekonomi justru menjadi pihak yang sangat terpapar dan mengalami kerugian ekonomi yang signifikan. Bagi mereka yang ingin bertahan, tentunya kehadiran secara digital menjadi penting,” tutur Yudho melalui keterangan tertulisnya, Senin (15/2).

Ia menambahkan, sebagaimana penelitian BPS dan Kementerian Koperasi dan UMKM, mereka yang bertahan di pandemi ini selama kurang-lebih satu tahun ialah mereka yang hadir secara digital. Misalnya dengan pemanfaat situs web dengan nama domain internet.

Saat ini, kata Yudho, Indonesia memiliki nama domain tingkat tinggi kode negara Indonesia, yaitu domain .id—yang dikelola Pandi.

Baca juga : Telkomsel Kembali Jadi Operator Terbaik di Indonesia

Untuk diketahui, sifat pendaftaran nama domain ialah first come, first serve. Hal ini bisa memicu perselisihan antarpihak, yang kemudian bisa menyerempet hak cipta dan kekayaan intelektual. Untuk itu, kerja sama antara Pandi dan DJKI dinilai penting guna memaksimalkan perlindungan merek dan nama domain.

“Sebagai sesama pelayan publik, kita menjalin sinergi sebagai tindak lanjut kerja sama yang kita lakukan untuk melayani publik lebih baik dari sisi pendaftaran kekayaan intelektual, perlindungan, penanganan kasus pelanggaran dan sebagainya,” sambung Yudho.

Dirjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham Freddy Harris mengakui bahwa kerja sama mereka akan mempercepat proses pelayanan DJKI.

“Kalau orang belanja (daring) bisa dalam hitungan menit, ya pemerintah juga harus seperti itu. Kami sangat senang Pandi bisa bersosialisasi bersama, karena domain internet akan berhubungan dengan merek. Tidak itu saja, ini juga berhubungan dengan copyright,” pungkas Freddy.

Memang, nasib UMKM bisa dibilang terpuruk di masa pandemi ini. Namun, yang mendaftarkan diri untuk perlindungan merek dan sejenisnya semakin banyak. Data menunjukkan bahwa pendaftaran kekayaan intelektual meningkat hampir 40%. Pandi sendiri mencatat pendaftaran nama domain pun tumbuh hingga 37% per 2020.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Warganet Indonesia Disebut Paling Tak Sopan, Kominfo Bentuk Komite Etik

Published

on

By

Warganet Indonesia Disebut Paling Tak Sopan, Kominfo Bentuk Komite Etik

Channel9.id-Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membentuk komite etik atau Net Ethics Committee (NEC), yang salah satu fungsinya untuk mengawasi perilaku warganet Indonesia di internet.

Menkominfo Johnny G Plate mengatakan bahwa tugas NEC ialah untuk merumuskan panduan praktis terkait budaya, serta etika berinternet, termasuk etika dalam bermedia sosial.

“Panduan praktis ini diharapkan mampu mendorong peningkatan literasi digital bagi masyarakat, untuk menggunakan instrumen digital dan kemampuan merespon arus informasi digital agar bisa dikembangkan secara optimal,” sambung dia saat konferensi pers daring, Jumat (26/2).

Adapun anggota dari NEC berasal berbagai pemangku kepentingan yang terdiri dari Kementerian Kominfo, Kementerian lembaga negara yang terkait, akademisi, tokoh masyarakat dan agama, kelompok kepemudaan, pelaku usaha hingga pegiat literasi digital.

“Saat ini, Kementerian Kominfo tengah menyusun kelengkapan komite tersebut untuk bisa diinformasikan kepada masyarakat dalam waktu dekat,” ucap Johnny.

Ia mengatakan bahwa komite tersebut dibentuk atas arahan Presiden Joko Widodo pada 15 Februari lalu, yang meminta agar ruang digital di Indonesia lebih bersih, sehat, beretika, penuh dengan sopan santun, bertata krama, produktif, dan mampu memberi keadilan bagi masyarakat.

“Arahan Presiden Jokowi ini sangat relevan mengingat penggunaan internet meningkat di Indonesia sangat masif,” lanjut Johnny.

Sekadar informasi, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa pengguna internet di Indonesia pada 2020 mencapai 73,7% dari total penduduk, atau setara dengan 196,7 juta orang. Angka ini bertambah 25,5 juta atau 8,9% dari tahun sebelumnya. Kemudian didapati pula bahwa masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk berselancar di media sosial dan berkomunikasi secara daring.

Selain arahan tersebut, tekad untuk membentuk NEC semakin kuat dengan hasil riset Microsoft baru-baru ini, yang menunjukkan bahwa warganet Indonesia paling tak sopan se-Asia Tenggara.

Sebelumnya, Microsoft meriset tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020 terhadap 32 negara di dunia, yang tercatat di laporan berjudul ‘Digital Civility Index (DCI)’. Disebutkan bahwa Indonesia di urutan ke-29 dari 32 negara. Sementara dalam konteks Asia Tenggara, Indonesia di urutan terendah.

Sistem penilaian laporan tersebut berkisar di skala nol hingga 100. Adapun semakin tinggi skor, maka semakin tak sopan. Skor kesopanan daring di Indonesia naik delapan poin, dari 67 pada tahun 2019 menjadi 76 pada tahun 2020.

“Secara garis besar, skor ini sedikit banyak dipengaruhi oleh tingkat penyebaran hoax, disinformasi, ujaran kebencian, serta kejadian bullying dan pelecehan daring yang semakin marak,” pungkas Johnny.

(LH)

Continue Reading

Techno

Tren Pencarian di Google Sepanjang 2020

Published

on

By

Tren Pencarian di Google Sepanjang 2020

Channel9.id-Jakarta. Google membeberkan bahwa tren pencarian dalam setahun terakhir tak hanya berkaitan dengan pandemi Covid-19. Sebab memang ada tren lainnya yang menarik.

“Dalam level yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, kita melihat pencerahan spiritual lewat penelusuran,” ujar Data Editor Google News Lab Simon Rogers secara daring saat briefing virtual, Kamis (25/2).

Saat sedang mencari tahu tentang pandemi Covid-19, pengguna lebih sering menelusuri kata kunci ‘Tuhan’, ‘Kebahagiaan’ dan ‘Empati’ daripada sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual kian meningkat selama pandemi.

“Selain itu, juga pencerahan pribadi di mana orang-orang ingin melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri untuk membantu mereka melewati karantina,” sambungnya.

Pengguna terbukti berusaha untuk hidup lebih sehat dan nampak butuh hiburan. Menimbang harus tetap di rumah selama pandemi, Google mencatat bahwa banyak pengguna yang mencari kegiatan dan hiburan yang bisa dilakukan di rumah, seperti ‘maraton nonton film’, ‘celana olahraga’, ‘lari’, ‘jogging’, dan ‘sepeda’.

Selain itu, banyak pula pengguna yang mempelajari resep makanan baru elama pandemi. Google mengamati bahwa banyak pengguna internet yang mencari cara membuat kopi dalgona, roti sourdough hingga adonan pizza.

Berangkat dari tren-tren itu, ada hal yang unik. Banyak pula pengguna yang lupa hari sehingga menelusuri di Google dengan mengetik ‘hari ini hari apa’. Pertanyaan ini lebih banyak ditanyakan pada 2020, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Kami juga melihat kenaikan pencarian seputar kencan dan bertemu seseorang, karena sudah banyak negara dan tempat yang mulai dibuka,” ujar Rogers.

Setelah 2020 berakhir, Google mencatat banyak pengguna yang kian optimis dan lebih sering menelusuri kata kunci ‘Harapan’. “Kami melihat banyak pencarian di sana karena orang-orang sudah siap untuk mulai move on,” lanjutnya.

(LH)

Continue Reading

Techno

Twitter Akan Hadirkan Konten Eksklusif dan Berbayar

Published

on

By

Twitter Akan Hadirkan Konten Eksklusif dan Berbayar

Channel9.id-Jakarta. Twitter memperkenalkan fitur barunya, “Super Follows”, kepada para investor pada Kamis (25/2). Fitur ini menyajikan konten berbayar yang memungkinkan pengguna untuk mengakses konten eksklusif, yang menjadi sumber penghasilan bagi pembuat konten.

Adapun konten eksklusif itu bisa berupa buletin berlangganan, video, penawaran khusus, dan diskon. Konten-konten ini disediakan oleh akun-akun yang produktif di Twitter, seperti akun bisnis, selebriti, hingga akun pengguna biasa.

Untuk mendapat keistimewaan dari “Super Follows” itu, pelanggan harus membayar biaya bulanan ke Twitter.

Diketahui, pengguna dan investor memang sudah lama meminta Twitter itu untuk meluncurkan model bisnis berbasis langganan. Hal ini menimbang maraknya pembuat konten dan influencer internet yang menggunakan layanan seperti Patreon, Substack, dan OnlyFans untuk menghasilkan uang dari popularitas mereka.

Selain itu, layanan konten eksklusif berbayar pun memungkinkan Twitter menambah sumber pendapatan baru—di mana jagat internet saat ini didominasi oleh iklan Google dan Facebook.

“Super Follows memungkinkan pembuat konten dan penerbit memperoleh pemasukan langsung dari fans mereka. Hal ini juga akan mendorong mereka untuk terus membuat konten yang disukai audiens,” ungkap Twitter. Namun, Twitter sendiri belum mengungkap besaran biaya langganan dan berapa yang akan dibagi kepada pembuat konten yang menyediakan konten eksklusif.

Untuk saat ini, fitur “Super Follow” belum tersedia. Twitter mengatakan akan mengumumkan soal fitur ini dalam beberapa bulan mendatang.

Sekadar informsi, baru-baru ini, Twitter meluncurkan “Revue”, yang memungkinkan pengguna menerbitkan buletin berbayar atau gratis kepada audiens mereka. Selain itu, ada pula “Twitter Spaces”, pesaing Clubhouse yang memungkinkan pengguna berpartisipasi dalam obrolan audio. Saat ini, fitur itu masih dalam pengujian beta privat yang belum bisa diakses pengguna Twitter secara umum.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC