Channel9.id, Jakarta. Proses evakuasi korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menghadapi kendala setelah gempa susulan memicu longsor dan menutup sejumlah akses jalan. Beberapa jembatan yang sebelumnya masih dapat dilalui kendaraan juga dilaporkan tidak lagi bisa digunakan.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii mengatakan kondisi tersebut terjadi setelah rangkaian gempa susulan di wilayah NTT mencapai 3.485 kali hingga Kamis (20/8/2026) pukul 08.00 WITA.
Gempa terakhir dengan magnitudo di atas 5 terjadi pada pukul 10.00 WITA dengan kekuatan 5,8. Guncangan tersebut kembali memengaruhi kondisi di sejumlah wilayah yang sebelumnya mulai dapat diakses.
“Sehingga menciptakan adanya korban yang harus dievakuasi dan hari ini beberapa evakuasi dilaksanakan secara estafet,” kata Syafii dalam Rapat Kerja Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Berdasarkan pembaruan data hingga pukul 14.30 WITA, jumlah korban terdampak gempa mencapai 1.048 orang. Sebanyak 78 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 970 lainnya mengalami luka-luka.
Evakuasi Terkendala Akses
Syafii mengatakan kondisi akses menjadi salah satu tantangan dalam operasi pencarian dan pertolongan. Sejumlah ruas jalan yang sebelumnya telah dibuka kembali tertutup akibat longsor setelah gempa susulan.
Jembatan yang sebelumnya masih dapat dilalui secara bergantian juga kembali tidak dapat digunakan. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi harus dilakukan secara bertahap dan menggunakan beberapa moda transportasi.
Sebelumnya, sebagian besar akses jalan di wilayah terdampak telah kembali terbuka. Infrastruktur kelistrikan juga menunjukkan pemulihan, dengan jaringan listrik yang telah berfungsi lebih dari 95%.
Namun, rangkaian gempa susulan membuat kondisi di lapangan kembali berubah sehingga tim evakuasi harus menyesuaikan jalur dan metode operasi.
Helikopter Basarnas Terkendala
Selain akses darat, operasi pencarian dan pertolongan juga menghadapi kendala pada sarana udara. Helikopter Dauphin yang digunakan Basarnas di wilayah terdampak tidak dapat beroperasi pada Kamis pagi akibat gangguan pada sistem pengapian atau sistem start.
Syafii berharap perbaikan dapat diselesaikan sehingga helikopter tersebut kembali mendukung operasi pada Jumat (21/8/2026).
“Mudah-mudahan hari ini bisa diselesaikan sehingga besok bisa mendukung operasi,” ujarnya.
Untuk sementara, Basarnas mengandalkan sarana darat dan laut dalam mendukung pencarian, pertolongan, serta evakuasi korban.
Dengan kondisi akses yang kembali berubah akibat gempa susulan, Basarnas melakukan evakuasi secara bertahap dan menyesuaikan operasi dengan kondisi di masing-masing lokasi terdampak.




