Channel9.id, Jakarta. Selat Hormuz dipastikan tetap terbuka bagi pelayaran komersial selama periode gencatan senjata berlangsung. Kepastian tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Dalam pernyataannya, Araghchi menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional tetap dapat digunakan dengan pengaturan rute tertentu.
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata, melalui rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,” ujarnya lewat platform X, Sabtu (18/4/2026).
Pernyataan tersebut langsung direspons Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui akun Truth Social.
“IRAN BARU SAJA MENGUMUMKAN BAHWA SELAT IRAN SEPENUHNYA TERBUKA DAN SIAP UNTUK LALU LINTAS PENUH. TERIMA KASIH!” tulisnya.
Meski demikian, Trump menegaskan kebijakan blokade terhadap Iran tetap diberlakukan.
“NAMUN BLOKADE ANGKATAN LAUT AKAN TETAP DIBERLAKUKAN SEPENUHNYA DAN EFEKTIF TERHADAP IRAN SAJA, SAMPAI TRANSAKSI KAMI DENGAN IRAN SELESAI 100%,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa proses negosiasi dengan Iran diperkirakan berjalan cepat karena sebagian besar poin telah dibahas sebelumnya.
Sebelumnya, militer Amerika Serikat melalui US Central Command (CENTCOM) mulai menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada 13 April 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk mengontrol arus keluar-masuk kapal di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman.
Dalam pemberitahuan kepada pelaut, kapal yang melintas tanpa izin di area blokade berpotensi dicegat, dialihkan, hingga ditahan. Namun, kapal yang mengangkut bahan pangan dan obat-obatan tetap diperbolehkan melintas dengan prosedur pemeriksaan.
Dari sisi militer, AS juga meningkatkan kehadiran armadanya di kawasan. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan bersiaga di timur Teluk Oman, didukung dua kapal perusak berpeluru kendali.
Langkah Washington ini menuai kritik dari China. Pemerintah Beijing menilai kebijakan tersebut berisiko memperlemah gencatan senjata dan meningkatkan ketidakpastian di jalur pelayaran global.
“China percaya bahwa hanya dengan mencapai gencatan senjata menyeluruh dan mengakhiri perang, kita dapat secara fundamental menciptakan kondisi untuk meredakan situasi di selat,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.
Sementara itu, Iran menilai perundingan dengan AS sebenarnya telah mendekati kesepakatan. Namun, proses tersebut disebut terhambat oleh perubahan tuntutan serta ancaman blokade yang terus berlanjut dari pihak Washington.
Di tengah dinamika tersebut, pembukaan Selat Hormuz menjadi faktor krusial bagi stabilitas perdagangan global, mengingat jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi energi dunia.





