Connect with us

Techno

Meski Migrasi ke TV Digital, Siaran TV Kabel Tetap Bisa Akses

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Masyarakat tetap akan bisa menggunakan layanan TV kabel untuk mengakses saluran dari luar negeri, meski mengimplementasi siaran TV digital. Demikian keterangan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Juru Bicara Kominfo Dedy Permadi menjelaskan masyarakat punya pilihan mengakses TV kabel saat migrasi total dari TV analog ke TV digital—atau analog switch off (ASO)—pada 2022.

“TV kabel itu tetap harus pakai STB [set top box] dan tidak mengganggu, bergantung ke pilihan konsumen, itu dari sisi layanan konsumen, layanan TV digital akan meningkatkan kualitas gambar,” terang Dedy.

Baca juga : Migrasi TV Digital Harus Merata, Pemerintah Sebut Akan Bantu Warga Miskin

Jika seseorang punya TV analog namun ingin menggunakan TV kabel dan TV digital, maka ia harus punya dua alat STB. Satu untuk mengakses TV kabel, dan satu untuk menerima sinyal siaran digital.

Sementara itu, jika seseorang sudah memiliki TV digital atau smart TV, maka ia hanya memerlukan satu STB untuk akses TV kabel. Kendati demikian, perlu diingat, smart TV pun harus didukung oleh Digital Video Broadcasting – Terrestrial second generation (DVB-T2)—yakni pengembangan dari standar digital DVB-T yang sebelumnya ditetapkan pada 2007.

“Tergantung spesifikasi TV-nya, dan menggunakan TV kabel tidak masalah meski menggunakan TV digital. Kalau masih TV analog itu masih butuh bantuan STB,” jelas Dedy.

Sebagai informasi, di UU Omnibus Law Ciptaker dicatat bahwa implementasi TV digital harus selesai paling lambat 2 tahun setelah UU diundangkan.

Tercantum pada Pasal 60 A ayat 2, migrasi penyiaran televisi terestial dari teknologi analog ke teknologi digital—sebagaimana dimaksud pada ayat (1)—dan penghentian siaran analog (analog switch off) diselesaikan paling lambat dua tahun sejak diberlakukannya UU Ciptaker.

Sesuai dengan regulasi tersebut, TV analog akan dimatikan secara total dalam dua tahun terhitung dari penandatanganan UU Ciptaker pada November 2020. Artinya, siaran televisi di Indonesia akan dilakukan secara terestrial di seluruh Indonesia pada November 2022.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

YouTube Bayar Konten Kreator di Shorts Sebesar Rp143 Juta per Bulan

Published

on

By

YouTube Bayar Konten Kreator di Shorts Sebesar Rp143 Juta per Bulan

Channel9.id-Jakarta. Mulai Agustus ini, YouTube akan membayar konten kreator hingga $10.000 per bulan (atau Rp143 juta) yang membuat video di pesaing TikToknya, YouTube Shorts. Sebelumnya, perusahaan berencana untuk membayar $100 juta (atau Rp1,4 triliun) sepanjang tahun depan.

Dengan bayaran itu, bisa dibilang konten kreator bisa mendapat banyak uang. Sayangnya, pembayarannya tidak dijamin. Sebab bayaran itu bergantung pada berapa banyak orang membuat dan menonton Shorts per bulan. Selain itu, pembayaran juga bergantung pada lokasi masing-masing penonton konten kreator.

Baca juga: YouTube ‘Premium Lite’ Tawarkan Tontonan Bebas Iklan dengan Harga Lebih Murah

YouTube juga mengharuskan orisinalitas video. Unggahan ulang dan video yang ditandai dengan watermark dari platform lain—seperti TikTok, Snapchat, atau Reels—tak akan masuk ke saluran pembayaran.

Adapun saat ini, pembayaran hanya tersedia di 10 wilayah, termasuk AS, Inggris, India, dan Brasil, dan sebagainya. Perusahaan berencana akan memperluas daftar itu di masa mendatang.

Sebagaimana telah diketahui, konten kreator secara konvensional dibayar di YouTube berdasarkan iklan yang ditayangkan di video mereka—di mana jumlah penayangan iklan dan jumlah uang yang mereka terima berkaitan erat. Namun, di Shorts, YouTube tak akan menayangkan iklan di setiap klip.

Skema pembayaran seperti itu tampaknya semakin umum. TikTok dan Snapchat membayar konten kreator berdasarkan popularitas video mereka, bukan berdasarkan iklan. Ini bisa menguntungkan konten kreator, kendati kurang jelas perihal jumlah penghasilan yang bisa diperoleh konten kreator.

Di YouTube, dana tersebut menawarkan cara untuk memulai upaya late-in-the-game di layanan video pendek. Meskipun TikTok memiliki awal yang besar, YouTube pada akhirnya adalah YouTube—platform video yang sangat besar dan sangat populer—yang bisa memberi keunggulan saat mencoba Shorts.

Kepala Produk YouTube Neal Mohan menunjukkan bahwa YouTube tak mengharuskan konten kreator menggunakan Shorts untuk meningkatkan engagement mereka secara keseluruhan di platform.

“Tujuan kami di sana adalah untuk memberikan suara kepada setiap konten kreator. Jika mereka ingin melakukannya melalui film dokumenter berdurasi dua jam tentang topik tertentu yang mereka sukai, maka YouTube harus menjadi tempatnya. Jika mereka ingin melakukannya melalui Shorts 15 detik, yang menggabungkan hit favorit mereka dari artis musik favorit mereka, mereka seharusnya bisa melakukannya,” tuturnya, dikutip dari The Verge (4/8).

(LH)

Continue Reading

Techno

Distribusi Set Top Box TV Digital Berpotensi Terpengaruh PPKM

Published

on

By

Distribusi Set Top Box TV Digital Berpotensi Terpengaruh PPKM

Channel9.id-Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan bahwa pihaknya masih menggodok persiapan untuk distribusi set top box (STB). Untuk diketahui, STB ialah perangkat yang dipasang di TV analog agar bisa menangkap siaran TV digital.

“Persiapan, mekanisme dan koordinasi distribusi set top box dengan pihak terkait masih terus dimatangkan,” tutur Marvels Situmorang, Direktur Pengembangan Pitalebar, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo, dikutip belum lama ini.

Baca juga: Kominfo Tegaskan TV Digital Tak Perlu Internet

Marvels memprediksi rencana distribusi STB akan terpengaruh kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM level 4—yang diperpanjang setidaknya hingga 9 Agustus mendatang.

STB subsidi akan dibagikan kepada rumah tangga miskin yang memiliki TV yang belum menunjang siaran digital. Rumah tangga yang dimaksud tak terbatas pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari Kementerian Sosial.

Perangkat ini akan didistribusikan secara bertahap, sesuai dengan tahapan analog switch off (ASO) di Indonesia—di mana ada lima tahapan secara total.

Di tahap I, ASO berlangsung paling lambat di 17 Agustus nanti, di wilayah Aceh 1, Kepulauan Riau 1, Banten 1, Kalimantan Timur 1, Kalimantan Utara 1 dan Kalimantan Utara 3. Setelah 17 Agustus, wilayah-wilayah ini hanya akan menerima siaran TV teresterial digital.

Secara rinci, jumlah penerima STB subsidi di masing-masing daerah yaitu sebanyak 90.695 jiwa di wilayah siaran Aceh 1 17.046, Banten 1 14.544, Kalimantan Timur 1 29.368, Kalimantan Utara 1 6.818, Kalimantan Utara 3 4.646 dan Kepulauan Riau 1 18.273.

Adapun pemerintah menaksir ada sekitar 27 juta jiwa keluarga miskin, dengan penghitungan satu keluarga memiliki empat orang anggota, maka diperlukan 6,5 hingga 7 juta unit set top box untuk subsidi.

Kominfo menjelaskan bahwa ada tiga cara distribusi STB yaitu disalurkan di lokasi tertentu sesuai kesepakatan, diantar langsung ke rumah penerima bantuan, atau disalurkan oleh penyelenggara multipleksing di luar cara-cara tadi.

Untuk diketahui, STB subsidi sendiri merupakan komitmen penyelenggara multipleksing siaran TV teresterial digital, sesuai dengan wilayah siaran, dan pemerintah jika jumlah STB tersebut tidak mencukupi.

(LH)

Continue Reading

Techno

YouTube ‘Premium Lite’ Tawarkan Tontonan Bebas Iklan dengan Harga Lebih Murah

Published

on

By

YouTube 'Premium Lite' Tawarkan Tontonan Bebas Iklan dengan Harga Lebih Murah

Channel9.id-Jakarta. YouTube akan menghadirkan langganan premium yang lebih terjangkau. Dengan menikmati langganan ini, pengguna bisa menikmati tayangan video bebas iklan.

Untuk diketahui, paket “Premium Lite” itu pertama kali dilaporkan oleh pengguna di ResetEra. YouTube pun mengonfirmasi hal ini, dan mengaku sedang mengujinya di Belgia, Denmark, Finlandia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, dan Swedia.

“Di Nordics dan Benelux (kecuali Islandia), kami menguji penawaran baru kepada pengguna: Premium Lite seharga €6,99/bulan (atau Rp119 ribu/bulan) dan termasuk video bebas iklan di YouTube,” terang juru bicara YouTube, dilansir dari The Verge (3/8). Sebagai perbandingan, paket Premium YouTube yang ada berharga sekitar €11,99 per bulan di Eropa.

Baca juga: YouTube Tambahkan Cara Baru Untuk Memberi Tip ke Konten Kreator

Premium Lite mencakup penayangan bebas iklan di seluruh aplikasi YouTube di web, iOS, Android, smart TV, dan konsol game, serta di aplikasi YouTube Kids. Namun, langganan ini tak termasuk manfaat YouTube Music seperti mendengarkan bebas iklan. Pun tak termasuk fitur Premium lainnya seperti pemutaran di latar belakang layar dan unduhan offline.

Premium Lite kiranya menarik. Namun, biayanya sekitar 60% dari harga langganan Premium reguler, padahal hanya menawarkan sekitar seperempat dari manfaatnya.

YouTube memastikan bahwa Premium Lite masih dalam tahap percobaan. Pihaknya pun masih mempertimbangkan untuk meluncurkannya ke publik dan rencana lain, bergantung respons dari pengguna.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC