Channel9.id – Jakarta. Sebanyak 75 persen responden survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan mengaku stres dengan kebijakan pemerintah selama dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, 67 persen responden menyatakan stres dengan perilaku Prabowo.
Adapun pengumpulan data survei berlangsung pada 15 September hingga 9 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.122 responden. Penelitian melibatkan kelompok ahli dan masyarakat umum, dengan metode pengambilan sampel yang berbeda.
“Kami coba menanyakan terkait dengan perasaan stres terhadap kebijakan pemerintah. Dari 1.122 responden, jawabannya, 75 persen itu merasa stres dengan kebijakan pemerintah dan spesifik 67 persen stres dengan perilaku dari Prabowo Subianto,” kata Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira dalam peluncuran Rapor Dua Tahun Prabowo-Gibran secara virtual, Minggu (11/10/2026).
Bhima menjelaskan, tiga persoalan yang paling banyak memicu stres masyarakat berkaitan dengan kenaikan harga bahan pokok, sulitnya memperoleh pekerjaan, dan penegakan hukum.
Survei tersebut juga mengukur penilaian responden terhadap kondisi fisik dan mental Prabowo dalam menjalankan tugas kepresidenan. Sebanyak 38 persen responden menilai kondisi fisik dan mental Presiden kurang baik, sedangkan 23 persen menilainya tidak baik sama sekali.
Hanya 8 persen responden yang menilai kondisi fisik dan mental Prabowo sangat baik untuk menjalankan tugas kepemimpinan.
“Sedangkan yang menjawab kondisi fisik dan mental Presiden untuk memimpin sangat baik hanya 8 persen,” ujar Bhima.
Selain masyarakat, CELIOS juga meminta penilaian kalangan ahli terhadap kapasitas kepemimpinan serta komunikasi publik Presiden. Dari 129 ahli yang memberikan penilaian, sebanyak 71 persen menilai kapasitas kepemimpinan Prabowo tidak memadai.
Penilaian terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden juga menunjukkan tingkat kekhawatiran yang tinggi di kalangan ahli.
Sebanyak 83 persen menyatakan sangat khawatir dan 10 persen lainnya mengaku khawatir, sehingga total 93 persen ahli menyampaikan kekhawatiran terhadap kedua aspek tersebut.
HT




