Selat
Internasional

Negosiasi RI Berbuah Hasil, Iran Respons Positif Terkait Kapal Tanker Pertamina

Channel9.id, Jakarta. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyampaikan bahwa pemerintah Iran telah memberikan respons yang konstruktif atas permintaan Indonesia terkait dua kapal tanker milik Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz, agar dapat melintas dengan aman.

Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menjelaskan bahwa sejak awal pihaknya bersama Kedutaan Besar RI di Teheran telah menjalin komunikasi dan koordinasi secara intensif dengan berbagai pihak di Iran guna memastikan keselamatan kapal-kapal tersebut.

Ia menyebutkan bahwa perkembangan terbaru menunjukkan adanya sinyal positif dari otoritas Iran. Menindaklanjuti hal tersebut, langkah-langkah lanjutan kini tengah dilakukan, terutama pada aspek teknis dan operasional. Meski demikian, belum ada kepastian mengenai waktu keberangkatan kedua kapal tersebut dari Selat Hormuz.

Sebelumnya, pada 4 Maret, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menempuh jalur negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker yang dioperasikan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS).

Ia juga menegaskan bahwa situasi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap ketahanan energi nasional, karena Indonesia segera mencari sumber pasokan alternatif dari negara lain.

Pada 6 Maret, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, turut menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat komunikasi dengan pihak Iran demi menjamin keamanan kedua kapal tersebut.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran mengizinkan kapal-kapal dari negara yang dianggap “bersahabat” untuk melintasi Selat Hormuz, sementara kapal dari Amerika Serikat, Israel, serta negara yang dinilai agresif tetap dibatasi. Beberapa negara yang masuk dalam kategori tersebut antara lain China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Malaysia.

Berdasarkan data pelacakan kapal secara real-time dari MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret, dilaporkan sekitar 1.900 kapal mengalami hambatan pergerakan di kawasan Selat Hormuz, sebagaimana dilaporkan oleh Anadolu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  60  =  69