Channel9.id-Aceh Tamiang. Di tengah kesibukan penanganan pascabencana, ada momen yang terasa berbeda. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian memilih duduk tanpa jarak bersama para praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), menikmati makan siang sederhana di Aceh Tamiang, Selasa (21/4/2026).
Tak ada sekat formalitas. Di meja yang sama, Tito berbincang santai dengan para praja yang tengah menjalankan tugas kemanusiaan. Suasana hangat itu turut dihadiri Menteri Koordinator PMK Pratikno, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi.
Momen ini mungkin tampak sederhana, namun menyimpan makna yang lebih dalam. Di tengah lumpur sisa banjir yang belum sepenuhnya hilang, para praja IPDN justru menunjukkan wajah lain dari birokrasi: bekerja, hadir, dan menyatu dengan masyarakat.
Sebanyak 731 praja pratama dalam gelombang ketiga penugasan kini difokuskan pada wilayah dengan dampak terberat. Jika pada awalnya mereka membersihkan kawasan perkantoran, kini mereka turun langsung ke permukiman, mengangkat lumpur yang tersisa—pekerjaan yang jauh dari kesan elitis seorang calon birokrat.
Tito tak menutup apresiasinya. Ia menilai para praja telah bekerja dengan baik sekaligus menjaga nama institusi tanpa pelanggaran selama bertugas. Pengakuan itu bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan bahwa kehadiran negara bisa hadir dalam bentuk paling konkret: kerja nyata di lapangan.
“Sudah bagus karena adik-adik juga bekerja bagus,” ujarnya singkat.
Lebih dari sekadar makan siang, peristiwa ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran kepemimpinan tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Di lokasi bencana, para praja belajar tentang empati, kerja keras, dan arti pengabdian.
Pratikno pun mengingatkan bahwa tugas mereka belum selesai. Setelah kembali ke kampus, mereka diminta terus mengasah diri untuk menjadi pelayan publik yang lebih baik.
Di tengah berbagai kritik terhadap birokrasi yang kerap dianggap berjarak, momen seperti ini menawarkan perspektif lain. Bahwa aparatur negara bisa hadir tanpa protokoler yang kaku, duduk bersama, dan merasakan langsung denyut persoalan masyarakat.
Barangkali, dari meja makan sederhana di Aceh Tamiang itu, lahir pelajaran penting: bahwa kepercayaan publik tidak dibangun lewat pidato, melainkan lewat kehadiran dan ketulusan bekerja.
Baca juga: Tito Ajak Praja IPDN Kerja Keras Bersihkan Lumpur di Aceh Tamiang





